Ngetrip Ujung Minggu ke Sungai Kakap - teraju.id
Home > Berita > Ngetrip Ujung Minggu ke Sungai Kakap
IMG_20180705_060442_722

Ngetrip Ujung Minggu ke Sungai Kakap

Oleh: Ambaryani

Minggu pagi menjelang siang, saya dan suami siap mengeksekusi rencana jalan-jalan kami. Kali ini, tujuan kami PIK 2.

Berawaldari rasa penasaran saat mendengar istilah Pantai Indah Kakap 2, alhasil trip kali ini kami putuskan keliling Sungai Raya Dalam, Parit Buloh, Punggur Kecil hingga pasar Kakap, dan Pal.

Kami memilih jalur itu, karena memang sudah sangat lama tak melintas di jalur itu. Terakhir 6 tahun lalu, saat kami baru menikah, pas musim buah durian, kami ngetrip di jalur yang sama. Sudah sangat lama, sehingga wilayah itu agak asing sekarang.

Jalan Serdam pertengahan hingga hampir ke unjung belokkan Parit Buloh, sudah bersemen lebar dan lebih tinggi dari jalan semula. Sudah banyak perumahan baru di ujung Serdam jalur sebelah kiri jalan dari arah Pontianak.

“Mana belokkannya ya?” suami bertanya saat kami sudah agak lama berjalan di jalan Serdam tapi tak kunjung menemukan belokkan yang kami tuju. “Terus saja dulu, belum kayaknya”, jawab saya.

Sebenarnya saya sendiri pangling habis dengan wilayah itu. Terakhir, saya pernah kelewatan jauh saat hendak menuju perumahan Griya Korpri. Patokan saya untuk sampai komplek Griya Korpri adalah gerbang selamat datang di Kabupaten Kubu Raya yang posisinya pas di dekat komplek tersebut. Tapi sekarang gerbangnya sudah tidak ada, dirobohkan seiring program pelebaran jalan.

Lebih lagi, patokan untuk sampai di belokkan Parit Buloh, warungnya sudah jauh berubah. 6 tahun lalu, warung itu hanya dibuat tempel-tempel, kecil. Posisinya agak jauh dari jembatan belokkan. Tapi sekarang sudah dibuat besar, permanen dan sebagian tongkat warung nyemung ke parit, membuat posisi warung benar-benar mepet dengan jembatan. Tak ada jarak lagi.

Dulu, kanan kiri belokan masih hamparan kebun nanas, tanaman ubi, jagung warga. Sekarang sudah mulai ditanami sawit. Ada plang perusahaan yang memiliki lahan tersebut. Lahan yang masih belum ditanam sawit, ditumbuhi ilalang.

Jalan semen Parit Buloh sudah banyak yang pecah, bergerutuk kata orang Melayu. Selanjutnya, kami menikmati pemandangan kebun durian, kelapa, langsat, sirsak, pinang, nanas, di kanan kiri jalan. Kebun-kebun yang memiliki daya tarik tersendiri.

Langit mulai mendung, tapi kami terus melanjutkan perjalanan. Di ujung Parit Buloh, kami ambil belokkan ke kanan arah Punggur Kecil Sungai Kakap. Pas di belokan ada masjid hijau besar. Tak jauh dari belokkan ada gerbang ‘selamat datang di Kabupaten Kubu Raya’ plus slogannya “Terdepan dan berkualitas”.

Beberapa menit kemudian, mata saya tertuju pada sebuah tugu. Tugu yang belum pernah saya lihat dulu saat melintasi kawasan ini. Tugu langsat. Posisinya persis di depan kantor desa Punggur Kecil. Tugu yang menjadi icon desa Punggur sebagai penghasil langsat.
Jalan Punggur Kecil sekarang mulai disemen lebar juga. Walaupun baru sepotong-sepotong. Belum keseluruhan dan belum bersambung semua.

Beberapa bagian jalan dan jembatan sedang dalam pengerjaan. Bahkan alat berat masih terparkir di sisi jalan.

Pasar Kakap

Wilayah Kakap lumayan sering saya kunjungi. Karena secara administrasi, kami tercatat sebagai warga wilayah kecamatan Sungai Kakap. Beberapa kali saya bolak-balik kantor camat Kakap untuk mengurus e-ktp dulu. Tapi stop sampai kantor Camat, jalan setelah kantor camat belum pernah saya jejaki.

Pasar Kakap, hanya berjarak beberapa ratus meter dari jembatan agak tinggi arah kanan menuju Sungai Itik. Memasuki kawasan pasar, kami disambut dengan beberapa plang destinasi wisata kuliner. Dan salah satunya ada baliho petunjuk arah menuju cafe PIK 2. Panah arahnya ke kanan jalan. Pasar harus ke kiri jalan.

Di sepanjang jalan menuju pasar, ada cafe-cafe atau warung makan yang ujungnya langsung berbatasan dengan laut. Ada juga kelenteng besar di tengah pasar. Kami telusuri jalanan pasar. Di dermaga, kapal nelayan sudah bersandar. Ikan sudah dinaikkan. Mereka sedang menyiapkan bekal untuk berlayar lagi.

Balok-balok es batu mereka pecahkan menggunakan kapak dengan mata agak panjang dan lebar. Setelah es terbelah, baru mereka masukkan dalam kotak-kotak yang ikan yang sudah kosong.

Di dermaga, aga juga kapal-kapal kecil yang siap menyeberangkan warga ke wilayah Tanjung Saleh dan Sepok Laut. Ada juga markas petugas TNI AL di dermaga. Kami pilih cafe di dermaga yang langsung menghadap laut.

Kapal dan sampan bermesin nampak lalau lalang dari jangkauan mata kami. Ada juga pukat nelayan yang terjajar tak jauh dari dermaga. Di dermaga ada beberapa orang nelayan yang sedang packing ikan ke dalam kantong-kantong dan jerigen besar. Ikan, udang serta cumi tersebut siap mereka distribusikan ke sejumlah pasar.

Tak banyak memang ikan, udang serta cumi yang tersisa. Mungkin karena hari sudah tinggi, siang. Harga bervariasi. Udang berkisar 30-45 ribu per kilonya, tergantung ukuran dan kualitas. Ikan dan cumi juga demikian. Ikan gembung 45 ribu, cumi 55 ribu, ikan sembelang 25 ribu, ikan biji nangka ukuran kecil 18 ribu. Setelah mendengar harga-harga tersebut, saya langsung teringat Kubu. Saya mendapat referensi harga ikan. Membandingkan harga ikan di Kakap, Pontianak, dan Kubu. (*)

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Ambaryani

Ambaryani, Pranata Humas, staf Kemasyarakatan (Kemasy) Kecamatan Kubu. Menyukai dunia kepenulisan, dan telah menulis beberapa buku fiksi dan true story, sebagai penulis bersama. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa dan Club Menulis STAIN Pontianak, serta pernah magang di Harian Borneo Tribune Pontianak.

Check Also

IMG_20180714_171755_834

Lemahnya Infrastruktur Daerah Memicu Yessy Maju ke Senayan

teraju.id. Melawi – Asupan keluarga sejak kecil membuat Yessy Melania dekat dengan dunia politik. Wanita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *