Obsevatorium Bosscha : Pengingat Cerita Lawas dan Masa Depan - teraju.id
Home > Berita > Obsevatorium Bosscha : Pengingat Cerita Lawas dan Masa Depan
dhea1

Obsevatorium Bosscha : Pengingat Cerita Lawas dan Masa Depan

teraju.id, Bandung (05/01/19) – Ada yang masih ingat dengan cuplikan film diatas? Anda akan menemukannya dengan, berkendara sekitar 20 menit dari pusat Kota Bandung, anda akan ditemani dengan sejuknya angin perjalanan hingga mencapai kawasan Obsevatorium ini. Pemandu wisata juga menyinggung tentang film ‘Petualangan Sherina’ yang menjadikan Obsevatorium Bosscha menjadi salah satu lokasi syutingnya. Hal inilah yang menjadi daya tarik masyarakat untuk mengunjungi situs bersejarah yang dibangun selama 5 tahun sejak 1923.

Sambil menyelam minum air, peribahasa inilah yang sering digunakan bagi kebanyakan traveler dalam perjalanan mereka. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa perjalanan akan semakin bermakna ketika, perjalanan kita tidak hanya membekas di hati namun juga di pikiran kita. Alias bisa menambang ilmu pengetahuan kita.

Libur pergantian tahun baru 2019 ini, Bandung menjadi salah satu tujuan wisata bagi banyak wisatawan. Jangan hanya menyelami ramai dan beragamnya Kota Kembang ini, anda juga harus mencoba untuk meminum ilmu dari kota ini. Salah satu destinasi yang bisa anda singgahi adalah Observatorium Bosscha yang terletak di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Tampak depan Gedung Kubah
Tampak depan Gedung Kubah

Sepenggal sejarah dari Perang Dunia II juga sempat memberi dampak pada pengoperasian Bosscha Sterrenwacht (Obsevatorium Bosscha), yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundig Vereeniging (NISV). Pada masa Perang Dunia II Obsevatorium ini sempat vakum, barulah selepas masa perang, Obsevatorium ini kembali di operasikan dan dilakukan perbaikan. Hingga pada 1951, NISV menyerahkan Obsevatorium ini ke pihak pemerintahan Indonesia. Kemudian, pada 1959 Obsevatorium Bosscha menjadi tempat lembaga penelitian untuk astronomi di Indonesia, yang di naungi oleh ITB (Institut Teknologi Bandung) dan menjadikan ITB satu-satunya yang memiliki jurusan astronimi di Asia Tenggara!

Ada dua cara untuk bisa masuk ke Obsevatorium ini yaitu, kita bisa memesan tiket dari jauh hari di web resmi bosscha.itb.ac.id atau bisa pula datang dan membeli langsung di lokasi. Namun, bila anda membawa rombongan besar seperti study tour sekolah atau kampus sebaiknya memesan terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan untuk masuk menjelajahi kawasan Obsevatorium ini terbagi menjadi 3 sesi dalam sehari, dengan batasan 180 pengunjung per-sesinya.

Bagi anda yang melakukan solo-trip atau hanya membawa rombongan kecil, anda hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp. 15.000,- per-orang. Setelah pembelian tiket, anda akan diarahkan masuk ke ruang multimedia dan mendapatkan penjelasan ilmu astronomi dasar, sejarah Obsevatorium, kondisi langit di Indonesia saat ini hingga mitos dan cerita rakyat yang berhubungan dengan astronomi seperti, lagenda Kilip dan Putri Bulan dari Kalimantan.

Lanjut ke lokasi berikutnya yaitu gedung kubah tempat disimpannya Teleskop Zeiss. di dalam gedung ini pengunjung mendapatkan 1 pelajaran yang harus dipegang bahwa, ilmu astronomi tidak ada batasan, “Dalam mempelajari Ilmu Astronomi, tidak ada syarat tinggi badan, kita bisa mempelajari banyak hal tanpa terbatas. Seperti contoh, lantai dari ruangan tersebut dapat naik setinggi yang diinginkan untuk meneliti bintang atau objek astronomi lainnya” jelas pemandu wisata. Bukan hanya itu, atap dari gedung kubah ini juga dapat berputar 360ᵒ dan terbuka hingga 2 meter agar peneliti dapat menggunakan teleskop untuk dapat menganati benda angkasa.
Teleskop Zeiss memiliki berat hingga 17 ton, artinya hampir setara dengan 5 ekor gajah. Namun bisa dengan mudah di gerakan sesuai kebutuhan peneliti dikarenakan posisinya yang seimbang. Teleskop Zeiss ini merupakan teleskop ganda sumbangan dari K. A. R. Bosscha, kepada perhimpunan Atronomi Hindia-Belanda atau NISV secara resmi pada Juni 1928.

Pemandu wisata menjelaskan cara kerja Teropong Zeiss
Pemandu wisata menjelaskan cara kerja Teropong Zeiss

Terdapat fasilitas lainnya yang terdapat di gedung kubah ini, kursi malas. Kursi yang sudah berusia lebih dari setengah abad ini, berfungsi untuk tempat istirahat peneliti. Bayangkan bila kursi itu tidak ada? Peneliti tentu akan merasa kelelahan karena waktu penelitian bisa memakan waktu hingga lebih dari 3 jam dimulai dari tengah malam hingga subuh hampir mejelang.

Teleskop ini digunakan untuk berbagai penelitian astonomi seperti pengamatan astrometri, untuk mengetahui posisi benda langit secara akurat untuk diteliti. Teleskop ini juga digunakan untuk pengamatan gerak diri bintang dalam gugus bintang, pengukuran jarak bintang, pengamatan komet dan planet-planet lain hingga pengamatan spektrum bintang-bintang secara kontinu dengan menggunakan BCS (Bosscha Compact Spectograph)

Ilmu lain yang bisa di dapatkan tidak hanya dari fungsi dan kecanggihan Teleskop Zeiss saja, masih banyak teleskop – teleskop dan gedung lain yang bisa dikunjungi. Pengunjung juga mendapatkan sebuah fakta bahwa, bintang – bintang memiliki siklus hidup – mati begitu pula dengan bintang yang ada di galaksi bimasakti, Matahari. Bintang di jagat raya terlahir di nebula, tumbuh besar di galaksi dan akan berakhir menjadi supernova yang menciptakan lubang hitam atau bintang neutron.

“Perumpamaannya seperti manusia. Bintang tersebut akan terus berkembang dan membesar hingga pada akhirnya, bintang tersebut seperti mengalami obesitas dan akan meledak dan menjadi lubang hitam, disitulah akhir perjalanan dari bintang” sedikit penjelasan dari pemandu yang membungkam. Jika demikian, planet – planet yang ada di Galaksi Bima Sakti akan ditelan oleh Bintang (Matahari) dan pada akhirnya, matahari akan mejadi bintang neutron atau Black hole (Lubang Hitam), yang hingga kini belum ada yang mengetahui apa yang ada di Black hole.

Namun sangat disayangkan meski hingga kini masih berfungsi dengan baik, berkat perawatan yang konsisten dan terus di modernisasi, Obsevatorium Bosscha dikabarkan akan di non-aktifkan dan digantikan dengan Obsevatorium Nasional baru di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut dikarenakan polusi cahaya yang terjadi di sekitar kawasan Obsevatorium dari tahun ke tahun semakin meningkat. “Apabila di sekitar Obsevatorium, apalagi Bosscha merupakan Obsevatorium astronomi, disekitarnya terlalu padat dan ramai akan berpengaruh pada intensitas cahaya yang ada dan pasti akan mengganggu objek astronomi yang akan diteliti” jelas salah satu pemandu lulusan Astronomi ITB, Bandung. Perkembangan dan kemajuan di Kota Bandung memang dapat diacungkan jempol selain itu, pesona dan daya tarik wisata di Lembang–Bandung Barat juga tidak dapat dihindari. Tentu, penggunaan cahaya juga akan semakin meningkat dan polusi cahaya tak dapat dihindari.

Saat ini, polusi cahaya yang terjadi di sekitar Obsevatorium Bosscha memasuki level 7 (Suburban/urban transition). Apabila cahaya yang ada di bumi terus meningkat akan membuat langit menjadi semakin terang. Bintang – bintang dan objek luar angkasa yang dahulu bisa diamati dari Obsevatorium Bosscha lambat laun memudar dan sukar dilihat, sedangkan bintang – bintang yang cahayanya redup akan menghilang dari pengamatan.

Penggunaan tudung yang baik dan buruk
Penggunaan tudung yang baik dan buruk

Lalu, bagaimana solusinya? Apakah kita harus memadamkan semua lampu bila akan tidur? Atau mengurangi jumlah lampu jalan, yang menyumbang polusi cahaya hingga 50%? tentu saja tidak mungkin. Solusi yang tepat untuk saat ini adalah dengan menggunakan tudung lampu. Tudung lampu yang baik adalah tudung lampu yang tidak menyebabkan penghamburan cahaya oleh partikel – partikel udara, yang menyebabkan langit menjadi terang dan bintang tidak tampak. Apalagi lampu sorot yang biasanya digunakan pihak – pihak tertentu untuk memeriahkan dan menyukseskan acara mereka. “Tudung lampu yang baik adalah tudung lampu yang tidak menyebabkan penghamburan cahaya ke arah atas atau langit” jelas pemandu di gedung kubah.

Jangan sampai kita membuat bumi menjadi terang, akan lebih baik bila masyarakat sadar akan polusi cahaya yang terjadi, sebuah langkah sederhana menggunakan tudung lampu yang baik tentu sangat membantu keberlangsungan pengamatan dan riset astronomi.(dhe)

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju

Check Also

WhatsApp Image 2019-01-12 at 20.29.15

Kapolres Bangun Desa Mandiri

teraju.id, Polda – Pagi itu ratusan orang berkumpul di suatu tempat. Ada tua, ada muda. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *