Kisar Padi: Sesuatu yang Hilang di Pedalaman - teraju.id
Home > Berita > Kisar Padi: Sesuatu yang Hilang di Pedalaman
IMG_20171215_081710_055

Kisar Padi: Sesuatu yang Hilang di Pedalaman

Oleh: Yusriadi

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan pergi ke Sungai Tapah, di ujung Mualang, daerah pedalaman Sekadau. Jarak dari Pontianak lk. 500 kilo. Dengan sepeda motor, waktu tempuh yang diperlukan lk. 8 jam.

Melalui jalan yang beraspal, lalu jalan berbatu dan jalan berlumpur, perjalanan dirasakan penuh sensasi. Medan yang sebenarnya berat, namun pemandangan kiri kanan yang menarik –kiri kanan sawit, karet, kampung, hutan muda, sungai yang jernih, dan lain-lain –membuat perjalanan ini mengesankan.

Apalagi kemudian, kami –saya dan Suherman seorang yang menjadi enumerator survei wilayah Sekadau,, disambut dengan hangat dan terbuka. Kepala Dusun setempat, Pak William Guntara, dan istrinya, dengan ramah menjawab keingintahuan saya tentang banyak hal. Saya bertanya ini dan itu, dari satu tema ke tema yang lain, dan beliau tetap sudi menjawabnya.

Sikap ramah dan terbuka juga ditunjukkan warga. Saya rasakan betul keramahan Pak Suryadi, seorang responden yang kebetulan terpilih untuk reinterview. Setelah reinterview selesai, saya mendalami informasi budaya.
Saya menggali informasi seputar kisar lapuk yang terdapat di bagian depan rumah beliau. Alat yang dipakai untuk melepas kulit padi, agar padi jadi beras, tergeletak begitu saja di ruang seperti tempat penyimpanan barang di depan rumah.

Katanya, kisar itu milik mereka. Buatan sendiri.

Alat dari besi untuk membuat “parit” atau jalan beras, masih disimpan. Sempat ditunjukkan besi kecil panjang yang sudah berkarat, tanda lama tak dipakai.

Baca Juga:  Mempertahankan Budaya Berladang di Pedalaman

Kisar itu dahulu digunakan untuk menggiling padi. Dalam jumlah banyak padi tidak perlu ditumbuk.

Kisar merupakan bagian dari teknologi pertanian masyarakat pedalaman. Di Sungai Tapah, di ujung Sekadau, ada. Dahulu, di Jangkang, ujung Sanggau, juga ada. Di Riam Panjang, kampung saya di Kapuas Hulu juga ada.

Di sini, kisar ini sudah lama tidak dipakai. Di Riam Panjang keadaannya lebih lagi. Sejak tahun 1980an, wujud kisar tak pernah terlihat. Benar-benar punah. Saya duga generasi sekarang mungkin tak mengenal kosa kata itu.
Kisar hilang karena kehadiran mesin padi. Mesin padi bekerja lebih cepat. Tak perlu banyak tenaga.

Kisar memerlukan banyak tenaga untuk memutar kayu bagian atas agar menekan butir padi, melepaskan kulitnya. Padi dikeluarkan sedikit demi sedikit. Jadi prosesnya agak lama.
Kisar akan hilang selamanya. Hilang bersama istilah dari bagian-bagian kisar itu.

Hilang bersama alat pembuatnya. Hilang bersama pengetahuan dan istilah dalam proses pembuatannya.

Harapan kisar “hidup kembali” juga kecil. Sekarang semakin sedikit warga yang bertanam padi. Lahan untuk padi kian terbatas karena lahan kini lebih banyak digunakan untuk perkebunan karet dan kemudian sawit. (*)

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Yusriadi

Dosen pengampu Bahasa Indonesia. Ia juga pernah mengampu mata kuliah Jurnalistik dan sejenisnya. Gelar doktor ia peroleh di Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain dosen, ia juga aktif di salah satu media online Kalimantan Barat sebagai Redaktur.

Check Also

IMG_20181015_081305_647

Nalar Spritual dan Show Brimob untuk Gawean ESQ

teraju.id, Pontianak – Minggu malam, 14 Oktober 2018, di sebuah tempat itu mendadak ramai. Dari kejauhan …