Mengenang Tragedi Juni Berdarah via Buku - teraju.id
Home > Opini > Mengenang Tragedi Juni Berdarah via Buku
WhatsApp Image 2019-03-05 at 11.42.21

Mengenang Tragedi Juni Berdarah via Buku

Oleh: Nur Iskandar

Di PTUN Pontianak, Rabu, 5/3/19 dapat buku sejarah. Sebuah kisah nyata. Mahasiswa dan pemuda mengawal gerakan reformasi Orde Baru di Bumi Khatulistiwa. Jurnalis Pontianak Post, Adong Eko menulis via pelaku sejarah.

Ada Ar Irham alias Bujang, Erwan Chandra, Mursalin, keluarga korban penembakan Syafarudin Bin Ali Akbar serta diperkaya foto Timbul Mujadi. Saya beli satu buku. Demi membacanya, saya teringat liputan tahun 1998 hingga Juni Berdarah tahun 2000. Adalah wartawan Equator, Andi Muzammil berada di dekat korban. Andi yang memapah mahasiswa Polnep itu naik motor dan dilarikan ke RSUD Dr Soedarso. TKP penembakan antara kantor Gubernur dengan RS ABK. Dulu ada tugu dibikin untuk mengenang tewasnya Syafarudin tapi dibongkar.

Nama jalan Syafarudin di sebelah pagar Kantor Gubernur juga hilang, jadi Jl Selasih. Di saat penembakan terjadi saya meliput di Gedung DPRD. Suasana “”Keos”. Massa long march mahasiswa bubar kocar kacir. Inti demo besar ketika itu adalah mosi tidak percaya kepada Gubernur yang dijabat militer, Aspar Aswin.

Buku karya Adong menguak lembar sejarah 19 tahun lalu untuk kembali dikenang, dipelajari, dan diambil hikmahnya. Bahwa sejarah sangat berguna untuk hidup bijak hari ini dan masa depan. *

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Check Also

IMG_20190425_072150_597

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

* Catatan Syafaruddin Usman MHD “Tahta dan kuasa bukan segalanya. Membela Republik (Indonesia) itu utama.” …