Pasinaon: Bijak Menyikapi Informasi - teraju.id
Home > Opini > Pasinaon: Bijak Menyikapi Informasi
leo (1)

Pasinaon: Bijak Menyikapi Informasi

Oleh: Leo Sutrisno

Dalam tiga dasa warsa terakhir ini, kita menyaksikan ledakan dunia maya yang perkembangannya mirip dengan ledakan dunia nyata yang dikenal dengan istilah ‘Dentuman Besar / Big bang’, sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Ledakan dunia maya ini disebabkan oleh kemajuan teknologi telekomunikasi dan teknologi informasi yang sangat pesat yang menghasilkan perangkat telpon genggam. (HP). Teknologi telekomunikasi menghasilkan perangkat telpon genggam yang beraneka model dan spesifkasinya.

Di awal tahun 1990-an, orang yang ingin berkomunikasi dari jarak jauh dengan keluarga atau relasinya masih banyaj yang antri di ‘Wartel-wartel – warung telekomunikasi’. Antrian akan semakin panjang menjelang tengah malam, karena pada lewat tengah malam para pengelola wartel memberi potongan harga yang cukup besar. Kala itu, komunikasi jarak jauh via telpun sudah ramai, walalupun masih terasa sebagai ‘barang mewah’.

Tetapi, kini, hampir tiga puluh tahun kemudian, komunikasi jarak jauh sungguh menjadi hal yang biasa.. Dengan perangkat telpon gengggamnya, hampir setiap orang dapat melakukan komunikasi jarak jauh. Karena lawan komunikasinya tidak hadir secara nyata dan hampir dilakukan oleh setiap orang di seluruh dunia, maka kini munculah istilah ‘dunia maya’.

Kini kita semua ‘hidup’ dalam dunia maya. Bukan hanya cara berkomunikasi yang mengalami perubaahan, tetapi juga isi yang dikomunikasikan pun berubah baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Itu terjadi akibat kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat.

Baca Juga:  Pasinaon: Pemimpin yang Mampu Memelihara Ketertiban

Dewasa ini, setiap orang diterjang ‘banjir bandang’ informasi selama 24 jam sehari. Sekali lagi bukan hanya jumlahnya yang sungguh amat sangat banyak tetapi juga kualitasnya yang sungguh beragam, dari yang sangat bagus hingga yang sangat jelek, bagai ‘sampah kotor’.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, banjir bandang informasi ini mengakibatkan peristiwa ‘gegar budaya’. Karena, mereka ‘dengan tiba-tiba’ menerima informasi yang sangat beragam dalam jumlah yang sangat banyak. Sementara, kemampuan mengelola informasi dalam jumlah besar dan beragam dalam waktu singkat belum dimiliki.

Dampak banjir bandang informasi ini adalah banyak orang cenderung ‘memilih’ informasi-informasi yang kualitasnya masih dapat dipertanyakan. Karena, sifat-sifatnya yang cenderung sensasional. Informasi-informasi semacam itu bagi sebagian besar orang sangat mudah dicerna. Menurut panjangnya, informasi semacam itu sekitar 100 kata. Singkat, sensasional dan artifisial.

Namun demikian, walaupun hanya sekitar seratus kata karena jumlahnya sangat besar, banyak orang memepercayainya bahwa informasi semacam itu sudah lengkap dan dapat dipercaya. Jadilah pengetahuan mereka sebatas pengetahuan seratus kata.

Sampai di kalimat ini, sajian ini sudah 370 kata. Sudah jauh dari rata-rata yang disenangi para pelaku dunia media sosial pada umumnya. Para penerima informasi sudah merasa panjang dan menjadi bosan.

Kita berhadapan pada pilihan, pendek menyenangkan atau panjang membosankan. Pada titik ini, kita mesti bijak memilih informasi, antara yang pendek tetapi superfisial – hanya kulit-kulitnya, atau yang panjang tetapi luas dan mendalam,.

Baca Juga:  Pasinaon: tanggung jawab

Månggå, ka-oncèkånå
7-3-2019, Pakem Tegal, Yogya
Nuwun

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju

Check Also

IMG_20190425_072150_597

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

* Catatan Syafaruddin Usman MHD “Tahta dan kuasa bukan segalanya. Membela Republik (Indonesia) itu utama.” …