Pasinaon: Di Akhir Perang Rama dan Rahwana Memperebutkan Dewi Sinta - teraju.id
Home > Opini > Pasinaon: Di Akhir Perang Rama dan Rahwana Memperebutkan Dewi Sinta
leo (1)

Pasinaon: Di Akhir Perang Rama dan Rahwana Memperebutkan Dewi Sinta

Oleh: Leo Sutrisno

Perang telah usai. Tetapi lihatlah, di tengah kekejaman dan kesedihan itu nampak anak-anak kera dan anak-anak raksasa riang bermain bersama-sama. Sepasang-sepasang anak raksasa mengendong seekor anak kera. Lalu, berlombalah mereka sampai terengah-engah napasnya.

Sorak sorai meledak. Seorang anak raksasa didekap matanya oleh seekor anak kera. Anak raksasa ini terduduk. Dua ekor anak kera merentangkan tangan anak raksasa itu dan dua ekor anak kera yang lain memegangi kakinya. Mereka berempat mengoncang-goncang anak raksasa itu dan kemudian melepaskannya. Anak raksasa jatuh terhuyung-huyung.

Serentak anak-anak raksasa dan anak-anak kera berlari bersembunyi di balik pepohonan. Tawa ria mereka terpingkal-pingkal, tiada henti, menyaksikan kawannya, anak raksasa, yang bingung mencari-cari mereka.

Tertinggal di sana, seorang anak raksasa yang kecil sekali, usianya masih sangat muda. Taringnya belum muncul dan giginya masih tumpul. Ia telanjang bulat dan liurnya menetes terus. Ia merengek-rengek, minta ikut bermain. Dan, datanglah seekor anak kera menghibur dan menciumnya. Dituntunlah anak raksasa itu, pergi menyusul kawan-kawannya.

Anak-anak kera dan anak-anak raksasa ini telah kehilangan ayah-ayah mereka yang gugur dalam peperangan. Tapi, tiada kesedihan pada mereka. Tiada dendam dan permusuhan di antara mereka.

Mereka tiada peduli akan api yang menjilat-jilat kejam Dewi Sinta. Pun juga tiada tergetar hati mereka akan jeritan Rahwana yang meyayat dari bawah timbunan gunung Suwela.

Baca Juga:  Pasinaon: tanggung jawab

Mereka terus bersenda gurau. Lari berkejar-kejaran. Main gajah-gajahan. Bergulingan di tanah sambil bersorak riang. Rukun dan damailah hati anak-anak kera dan anak-anak raksasa ini.

Mereka tiada berpikir apa-apa, kecuali bergembira. Kegembiraan mereka seakan mengejek kisah dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.

(Sumber: Sindhunata, 1999, Anak bajang menggiring angin)

Silahkan dibahas lebih dalam.
Pakem Tegal 18-4-2019

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju

Check Also

leo

Merdeka Berkomunikasi di Era Digital

Oleh: Leo Sutrisno Hari ini, kita mengenang 74 tahun Indonesia merdeka diumumkan. Ucapan syukur atas …