Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar - teraju.id
Home > Opini > Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar
WhatsApp Image 2019-02-08 at 06.19.21

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Oleh: Nur Iskandar

Sesiapa saja yang melewati ruas Jalan Ahmad Yani–depan TVRI–atas bumbung Gedung Olah Raga (GOR) Pangsuma Pontianak sejurus waktu di awal Februari 2019 pasti akan menoleh ke balon kubus yang melayang-layang di udara.

“Ini kegiatan apa? Launching produk elegan seperti mobil bukan, gejet canggih pun bukan, namun punya balon udara yang mengesankan keistimewaan?” Saya berdecak kagum. Tulisan pada balon udara itu: Sedekah Akbar. Sesuai arah mata angin, balon udara itu mengambang bak melambai-lambaikan tangan.

Pada hari Sabtu, 2 Februari, sehari sebelum gawe Sedekah Akbar saya berkunjung ke Mesjid Kapal Serdam.
“Bang Nur’Is ikotlah acara Sedekah Akbar besok. Datang bada zohor jak,” kata Ustadz Lukman. Lukmanul Hakim adalah ulama muda yang luar biasa, alumni Gontor dan memimpin Pondok Pesantren Munzalan Ashabul Yamin yang digandrungi kawula muda Bumi Khatulistiwa. Sedekah Akbar adalah salah satu ide besutannya yang selalu dihadiri ribuah orang.

“Insya Allah saya hadir Stadz,” kata saya yang ketika itu membawa Bang Man untuk “convert to Islam” ke Munzalan. Kami sempat foto bersama dengan latar belakang pintu masuk utama Mesjid Kapal Serdam.

***

Usai zuhur berjamaah di Mesjid Jamiatush Sholihin Purnama Agung VII, saya bersama keluarga bersiap ke acara Sedekah Akbar. Kami mengambil jalur Jalan Parit Demang menuju Untan demi menghindari kemacetan.
Benar saja, jalur Ahmad Yani macet. Kendaraan merayap. Motor parkir berlapis sejak jembatan yang memisahkan Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak dengan GOR.

“Pak apakah masih bisa parkir mobil di dalam?” Polisi lalu lintas menggelengkan kepala. Sempritan pluit terdengar menjerit-jerit. Banyak orang yang harus diatur mengurai kepadatan pengguna jalan.

Jalur masuk GOR menjadi begitu sempit. Mobil tak mungkin bisa masuk. Pedagang menjamur. Jamaah meluber. Di sisi kiri jalan protokoler mobil parkir tak putus sampai ke Mesjid Raya Mujahidin. Sebagai insan pers saya familiar untuk parkir di halaman dalam TVRI. Strategis.Tak jauh. Mumpung masih sepi. Alhamdulillah aman dan nyaman. Menuju GOR Pangsuma tinggal menyeberang.

***

Balon udara Sedekah Akbar mengambang di angkasa. Banyak orang terpancing untuk melihat sesuatu yang di atas sana. Mungkin begitu adanya tentang hukum pandangan. Tertarik kepada sesuatu yang bergerak.
Sadar bahwa saya harus melintasi jalur arteri yang macet, mata harus awas. Apalagi saya menggendong putra kecil 3,5 tahun. Ekstra hati-hati. Melangkah setapak demi setapak.

Ternyata untuk bisa masuk ke dalam GOR tidak mudah. Seluruh pintu diserbu jamaah. Saya melihat ibu-ibu berdesak-desakan. Dari celah kerudung yang aneka warna, saya bisa mengintip suasana riuh-rendah di dalam arena. Wuih penuh!

Sebagai wartawan, saya mengabadikan momen berjubelnya manusia di pintu masuk dengan sebuah jepretan. Pict itu saya unggah ke laman FaceBook dengan teks, padatnya seperti mau melempar jumroh…

***

Ingat haji di Tanah Suci, saya berkesiap dengan segenap resiko yang bisa terjadi “arus balik”. Seperti Tragedi Mina di Terowongan Almuaishim Billah. Saya putuskan untuk keluar dari antrean. Apalagi gerimis mulai turun membasahi kopiah. Manajemen resiko berlaku di sini. Menghindari bahaya lebih utama daripada mengejar kebaikan.

Saya menyingkir. Istri yang beberapa meter berada di depan, saya doakan semoga aman masuk, terlindung dari hujan, dan dapat menikmati acara dengan khusuk, selamat dari desak-desakan. Saya balik kanan dengan tujuan berlindung di dalam mobil sampai acara kelak selesai.

Alhamdulillah untung dapat diraih, malang dapat ditolak, saya yang sedang menuju arah ke luar berjumpa panitia berbaju kaos hitam bertuliskan aksara putih PASKAS (Pasukan Khusus Amal Sholeh). Sebuah kata yang membawa imajinasi kepada pasukan elit TNI seperti Denjaka, Gegana, dan Kopassus.

“Bang Nur’Is adeknye Bang Nur Hasan kan?” sapa Paskas.

“Iye…”

“Maok ke mane Bang?”

“Maok masok sih, tapi dah padat. Udahlah, nak ke parkir yak. Hari pon ujan.”

“Jangan Bang. Sayang. Masok sinek yak lah. Pintu masok panitia. Bang Nur Hasan ade di dalam.”

Saya dipersilahkan masuk. Sang Paskas mengangkat sebuah kotak properti panggung. Dan benar, rrruar biasa. Seluruh lapisan tempat duduk yang biasa digunakan menonton pertandingan olahraga penuh sesak. Lorong-lorong jalan pun terisi penuh. Massa berjubel tak lekang oleh panas dan hujan. Panggilan iman dominan. Aral melintang tak jadi penghalang. Di sinilah bahasa iman bicara lantang. Jiwa merekah. Hati mengembang. Dzikir tanpa terasa melelehkan bulir air mata. Subhanallah…

“Bapak Ibu tolong merapat ke depan agar yang di belakang bisa masuk,” kata Panitia dengan sopan. Massa pun cepat menyesuaikan sehingga massa berdesakan di belakang pintu masuk menyusut dapat tempat.

Dari arah pintu masuk saya mendengar teriakan, “Allahu Akbar. Allahu Akbar. Masuk….masuk….”. Massa di luar mendesak masuk seperti ingin menyaksikan artis kondang ibukota. Padahal ini diametral dari panggung artis kondang, ini ajang doa bersama yatim dan hafidz Quran. Momentum bersedekah untuk hamba Allah yang mulia karena menghapal firman ilahi, teks ayat-ayat suci.

Sementara di panggung, hafidz 30 juz menunjukkan kemampuan hapalannya dipandu master of ceremony Bang Een. Saya berdecak kagum melihat massa yang tumpah. Kagum karena siapakah yang menggerakkan ribuan massa ini kalau bukan Tuhan?

Tak sanggup duduk bersama tetamu VVIP. Saya duduk bersama para hafidz Quran. Lapis ketiga dari depan panggung, di belakang tetamu VVIP yang berdatangan dari Makassar, Belitung, Malang, berbagai kota besar di Indonesia, hingga Kuching, Sarawak, Malaysia. Saya duduk di kursi plastik warna biru. Di raw kiri saya para hafidz tuna netra. Di kursi sebelah, kiri-kanan dan belakang adalah santriwan pondok penghapal Quran. Seorang santri murah hati bersedekah es krim buat putra saya. Alhamdulillah, indahnya berbagi.

Beberapa meter di sisi kanan saya lampu proyektor gagah menyinari pentas dari posisi atas. Di sana ada kameramen yang bertugas merekam aktivitas di pentas. Bajunya kaos hitam. Saya duga mereka juga mengenakan kostum Paskas.

Ada juga petugas IT yang mengganti slide presentasi–Ustadz Luthfi. Teristimewa ada ulama muda berbaju koko merah marun, KH Lukmanul Hakim.

HM Nur Hasan pendiri Munzalan Mubarakan saya lihat terjebak massa yang tak lagi bisa bergerak di lorong jalan antara pintu masuk utama dengan panggung. Tepatnya di depan teralis besi pembatas. Di sana dia tercekat. Sesekali dia memotret massa. Mungkin sesekali juga posting ke linimasa FB-nya sebagai bentuk laporan dakwah.

***

Acara Sedekah Akbar sebenarnya berlangsung sejak pagi. Berbagai seremonial telah berjalan. Namun puncaknya antara zohor dengan ashar. Yakni doa bersama yatim dan hafidz Quran. Momentum mahal karena dijamin ijabah. “Barangsiapa yang di rumahnya ada yatim, seperti anak jari dengan jempol ini antara dia dengan aku di surga.” Begitu kira-kira arti hadits Nabi Muhammad SAW.

Sebelum KH Lukmanul Hakim naik ke atas pentas, MC mengajak jamaah untuk menyaksikan terlebih dahulu kilas balik Sedekah Akbar. Sebuah tayangan film dokumenter yang menunjukkan gawean saat ini adalah rintisan 12 tahun silam.

Tanpa terasa air mata meleleh membasahi pipi. Betapa rintisan awal itu tidaklah mudah. Dimulai dengan sedekah beras.

***

Di film pendek itu Ustadz Lukman berpeci hitam. Ia berujar, “Ngape sedekah beras? Kerne waktu kamek bekunjong ke Pondok Pesantren dan langsong pegi ke dapoknye, di mane Alquran dipelajari dan dihayati serta dihapalkan, ternyate makanan yang dimasak untok para santrinye adelah beras patah-patah. Laok paoknye ikan asen yang dijemor di atas seng. Ngape dijemor di atas seng? Sebab udah berulat, dan agar ulat itu mati, lalu bise disayok dan dimakan bersame-same.”

Ustadz Lukman dalam slide film pendek itu menjelaskan, mengapa beras patah-patah dan lauknya ikan asin busuk? Alasan pimpinan pondok bahwa dana amat sangat terbatas, sementara santri terus bertambah. “Ini pun sudah kami rasakan nikmat, dan ini makanan sudah paling lezat.”

Sejak menemukan kenyataan itu Ustadz Lukman mengajak rekan sekelasnya kala SMP “tempo doeloe” Een yang telah lebih dahulu menjadi figur usahawan sukses untuk bergabung dengan ikhtiar infak beras. Gayung bersambut. Kalimat berjawab. Hajar!

Hal senada disambut positif Ustadz Luthfie. “Saya diajak Ustadz Lukman untuk menjadi saudagar beras. Saya bilang ok. Hayyyok. Tapi beli berasnya dari mana? Dan waktu itu jawaban Ustadz Lukman adalah: ye kite kumpolkanlah….”

Hadirin tanpak tertawa sambil menangis. Haru. Saya juga begitu. Paham, “the first step is difficult, the next step is easy”.

“Kami mulai ikhtiar mengumpulkan sedekah beras. Kemudian berjumpa Ustadz Nur Hasan yang mengajak bergabung di Mesjid Munzalan,” tutur pria tinggi besar, pendiam yang akrab disapa Om Phie.

Saya menikmati film dokumenter itu dengan haru. Apalagi Ustadz Luthfie adalah salah satu imam di Mesjid Kapal Serdam bersuara merdu laksana Syech Toha Aljuneid. Pada suatu waktu shalat berjamaah, Ustadz Luthfi mengalunkan QS An Naba, jamaah yang memenuhi Munzalan tersedu-sedu menahan isak tangis dan cucuran air mata karena begitu lembut dan indahnya.

***

“Sekarang santri-santri bise makan enak ndak?” Koor jawaban santri atas pertanyaan Ustadz Lukman dari atas pentas, “Makan enaaaaak…..”

“Bise makan es krim ndak?”

“Biseeeee…..”

“Bise jalan-jalan ke Mall ndak?”

“Biseeee…..”

Koor jawaban para santri dengan kompak. Dan itu semua menurut Ustadz Lukman adalah berkah Allah melalui kebersamaan para orang tua asuh yang sejak 12 tahun lalu menyisihkan uangnya sebesar Rp 25 ribu per bulan dalam rangka menyantuni santri, yatim, penghapal Quran.

Tidak hanya mentraktir yatim dan hafidz Quran dengan es krim, jalan-jalan ke Mall, seperti keluarga bahagia yang terdiri dari ayah-ibu dan anak lainnya, fasilitas minim di berbagai pondek juga dibantu. Khususnya fasilitas mandi, cuci dan kakus alias MCK. Demi mengingat masa krisis di ponpes seperti itu santri di sekiling saya menangis sesegukan. Ini riil, bukan adegan…

Kesuksesan gerakan di atas itulah yang menjadi medan magnet lautan manusia di GOR Pangsuma dalam Sedekah Akbar. Hal itu pula yang menjadi medan magnet suksesnya hal serupa di Istora Senayan Jakarta maupun Sedekah Akbar di 37 provinsi seluruh Indonesia.

Doa yang dilantunkan santri yatim dengan narasi terbata-batan membuncahkan air mata. Hafidz tuna-netra pun hadir mengaminkan segenap doa. Istijabah. Insya Allah. “Silahkan bapak-ibu-hadirin dadirat sekalian berdoa masing-masing, apa-apa yang belum kita munajadkan,” timpal Ustadz Lukman seraya menguraikan tiga dimensi doa. Tiga dimensi doa itu meliputi berdoa seorang diri, mengaminkan doa orang lain, dan ketiga minta didoakan. Tiga dimensi doa ini mengajarkan bahwa sebagai diri tidak boleh sombong, sebab kita tidak tahu dari mulut siapa doa itu diistijabah Allah SWT.
***
Hujan di luar GOR sama derasnya dengan hujan air mata dalam tausiah dan doa. Kalau di luar GOR pertanda turunnya rahmat Allah dari langit, sedangkan air mata doa laksana butir mutiara begitu indah.

“Kalau hati lapang? Rizki datang. Kalau hati sempit, rezeki sedikit,” ujar Ustadz Lukman yang ditirukan berulang-ulang oleh massa laksana gelombang. Apalagi ketika menyebutkan kalau hati lapang, kedua tangan digerakkan mengembang. Begitupula ketika menyebutkan hati sempit, jari mengatup bagaikan kepalan genggam di atas dada, lalu saat menyebut rezeki sdikit, induk jari mengetis kuku di jari kelingking. Massa pun GeeRR merasakan geli sendiri.

Alhasil tepat pukul 15.00, lima menit sebelum azan Ashar, acara sedekah akbar pun usai. Massa laksana air bah di dalam GOR surut dengan tertib. PASKAS bekerja rrruar biasa disiplin. Mengatur arus keluar ribuan jamaah tanpa ada cacat dan cela. Padahal mereka sudah bekerja keras sejak tiga bulan terakhir.
Saya terkagum-kagum dengan sebuah even sedemikian besar dan meriah. Di akun FB saya tuliskan sebuah kalimat, “Ada sesuatu yang sedang dirindukan oleh umat….”

***

Di dalam kendaraan menuju pulang kami memuji sukses besar acara dan berharap terus membesar. “Saya tadi hampir pingsan Bang Nuris. Terjepit di tengah massa dan udara terasa sesak,” ungkap seorang pengacara Fitri.

“Saya benar-benar menikmati acara doa bersama yatim dan para penghapal Quran. Semoga menjadi amal jariyah kaum muslimin dan muslimat,” kata Dwi Syafriyanti seraya mengenang betapa sulitnya mencapai posisi duduk di dalam GOR. Namun semua terbayar dengan sangat memuaskan.

“Tadi nyumbang berapa untuk hafidz Quran yang hendak diberangkatkan umroh gratis?”

“Ada dech kata Dwi. Kita ambil infak beras Rp 100 ribu per bulan ya…”

Balon sedekah akbar melayang-layang di udara. Ekor mata saya masih sempat menangkap sebelum kami terus menjauh.

***
Senin, 4/2/19 seusai shalat subuh saya buka gejet. Mengecek informasi yang masuk lewat media sosial. Di sana saya melihat banyak postingan tentang Sedekah Akbar yang mengharu-biru.

Saya pun berjanji untuk menuliskan berita sukses Sedekah Akbar ini untuk menjahit benang merah sejarah dakwah dari dakwah bil lisan hingga ke dakwah kreatif . Bahwa sebuah evolusi sedang terjadi. Proses perubahan sosial yang unik tentang dakwah populer sesuai fashion anak zaman now sedang bermetamorfosis. Bahwa dakwah tidak melulu berisi ceramah, tapi bisa diangkat dari aspek sedekah, bisa diangkat dari sisi yatim dan hafidz Quran. Bahkan bisa diangkat dari sisi Saudagar Beras!

Misi suci yang disasar adalah melahirkan generasi ulama yang berbasis di mesjid. Sebagaimana Nabi SAW menggembleng para sahabat dan mujaddid melalui mesjid. Mesjid menjadi titik cahaya. Di mana salah satu simpulnya adalah Mesjid Kapal di mana kini tengah membangun Tower 6 lantai bernilai hampir 30 Miliar.
Keluarga Berkah PMMAY (Pondok Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin) terus melahirkan ide brilian seperti TV, Radio, air bersih, pertanian, perumahan, dan berdakwah dengan cara-cara yang diminati kawula muda.
“Dakwah Kreatif,” kata Ustadz Lukman.

Nah, di tengah euforia itulah saya tersentak membaca postingan di WAG Keluarga Berkah PMMAY pukul 00.23.

YAYASAN BAITULMAAL MUNZALAN INDONESIA
PANITIA PELAKSANA SEDEKAH AKBAR INDONESIA

Perihal: Keterangan Pers kronologi Musibah Ledakan Balon Promosi

Bismillahirrahmannirrahiim

Assalammualaikum wr.wb

Bersama ini izinkan kami memaparkan kronologi musibah ledakan balon promosi Panitia Pelaksana Sedekah Akbar Indonesia yang terjadi pada hari Ahad, 3 Januari 2019, pukul 20.00

1. Pada pukul 19.30, relawan Sedekah Akbar yang terdiri dari saudara Ari, Muhammad Lutfi, Armoyo, dan Aden dibantu oleh Saudara Ari (Dzaky) menurunkan balon promosi Sedekah Akbar Indonesia. Setelah turun, Saudara Ari mengeluarkan gas dengan cara membuka saluran penutup balon.

2. Pada pukul 20.00 angin yang berhasil dikeluarkan baru sekitar 20%. Lalu Saudara M Lutfi, Sdr. armoyo, sdr.Aden membawa balon ke dalam GOR untuk melanjutkan proses pengeluaran angin. Balon tersebut kemudian dimasukan ke GoR melalui pintu masuk. Saat balon baru masuk setengah, tiba-tiba balon meledak dan terbakar.

Karena musibah tersebut, saudara M lutfi, Sdr Armoyo, Sdr. Aden dan sdr Ari Dzaky mengalami luka bakar. Seluruh korban dalam keadaan baik dan sedang mengalami perawatan medis di Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak. Sementara teras depan bangunan GOR mengalami kerusakan ringan.

Untuk penjelasan dan informasi resmi dipersilahkan untuk menghubungi pengurus Yayasan Baitulmaal Munzalan Indonesia di nomor whatsapp 085245186277.

Mohon doa dari segenap masyarakat Kalbar untuk kesembuhan sahabat-sahabat kita.

Pontianak, 3 Januari 2019

Wassalammualaikum wr.wb.

An. Yayasan Baitulmaal Indonesia
Beni Sulastiyo (wa:085245186277)

Mengetahui:

Ketua Yayasan Baitulmaal Indonesia
KH.Luqmanulhakim

***

 

WhatsApp Image 2019-02-08 at 06.18.38

Doa-doa dimunajadkan untuk kesembuhan para korban melalui WAG. Kabar kemudian viral. Saya tak sanggup menuliskan berita “breaking news”.

Simpati datang dari berbagai komunitas. Dana perobatan dihimpun sebab dibutuhkan dana tak kurang dari 0.5 Miliar bagi kesembuhan korban luka bakar. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan dan keikhlasan yang luar biasa besar.

Segala sesuatu datangnya dari Allah dan akan kembali kepada-Nya jua. Begitupula musibah terbakarnya balon udara Sedekah Akbar mesti dibaca dari aspek ujian dan cobaan. Allah Maha Mengetahui dan kita mencari makna dari ini semua.

Bagi saya sebagai insan pers, musibah seperti di atas jangankan bisa terjadi di kalangan awam, hatta di kalangan profesional sekalipun.

Seperti pengalaman ketika menulis buku sejarah Gegana. Seorang polisi istimewa terpaksa buntung tangan kanannya karena ledakan bom.

Merunut kronologis terbakarnya balon Sedekah Akbar, tampak detik-detik meledaknya balon gas yang belum terbuang penuh gasnya tersebut (baru keluar sekitar 20 persen) di kawasan pintu masuk bisa terjadi akibat sambaran aliran listrik. Ingat kasus di tempat lain, tabung gas yang bocor disambar titik api mudah terjadi di pom migas atau kompor gas rumah makan. Tak hanya luka bakar, terkadang sampai merenggut nyawa.

Saya berjumpa dengan korban tersebut. Tangan kanan prajurit penjinak bom dibalut perban. Segenap aktivitasnya bersandar pada tangan kiri yang masih normal.

“Saya tidak menyesal, dan tidak marah kepada siapa pun juga. Sebab semua ini sudah takdir. Ledakan terjadi atas kehendak Allah.” Pernyataan pasrah yang menyayat hati laksana sembilu. Bahwa ada sesosok manusia, telah diberikan ujian dan cobaan maha berat, namun sanggup berlapang dada. Bersikukuh hidup dengan ikhlas. Semoga setiap tarikan naasnya menjadi ibadah…

Begitupula pada 2019 ini saya berjumpa dengan narasumber, pemuda berotak cemerlang, kakinya terpaksa diamputasi sampai pangkal paha akibat kecelakaan fatal. “Biaya operasi, penyembuhan dengan pemasangan kaki palsu ini hampir mencapai Rp 2 miliar,” katanya masih bisa tertawa.

“Proses penyembuhan saya kurang lebih satu tahun. Namun saya bersyukur masih bisa hidup, sebab saat kecelakaan terjadi, orang-orang mengira saya sudah tidak ada harapan hidup. Saya mestinya sudah mati. Tapi Allah masih mengaruniakan umur panjang, serta bisa beraktivitas bersama anak, istri, dan orang-orang yang saya cintai.”

Subhanallah. Hidup memang penuh misteri tak terduga. Kita semua perlu ekstra hati-hati karena sesungguhnya di dalam perjalanan hidup yang singkat ini, kita semua diberikan ujian dan cobaan. Tuhan ingin melihat siapakah yang terbaik di antara kita ketika menghadapi ujian dan cobaan tersebut. Untuk saling menguatkan itulah makanya kita harus saling ingat-mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran seraya diliputi iman dan amal kabajikan.

Halitulah yang saya lihat di WAG PMMAY. Panitia bekerja sangat cepat dan rapih. Termasuk tugas tambahan berupa penyelamatan korban luka bakar, mengantarkan ke Rumah Sakit Mitra Medika, menghubungi keluarga korban, melaporkan kepada polisi tentang adanya musibah, melaporkan kepada Pemerintah Provinsi yang menangani GOR Pangsuma, dan pernyataan satu pintu mengenai kronologi peristiwa. Semua pihak menerima dengan proporsional dan profesional. Pihak keluarga korban maupun korban menerima dengan ikhlas.

Hingga 6/2/19 saya dengar dana perobatan terkumpul Rp 30-an juta. Belum seberapa dari 0.5 Miliar yang dibutuhkan. Melalui tulisan ini saya mengetuk pintu hati para dermawan untuk menyumbangkan bantuan terbaiknya.

Sekali lagi: Cepat sembuh ya Ustadz Luthfie, Bang Aden, Bang Moyo dan Bang Ari. Tetap semangat keluarga besar Sedekah Akbar. Allah mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba yang dicintai-Nya. *

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Check Also

leo

Pasinaon: Ramé ing gawé

Oleh: Leo Sutrisno Sikap dasar yang dianggap luhur (oleh orang Jawa) adalah ‘jauh dari pamrih’ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *