in ,

28 Jam Ambawang-Bandar Sri Begawan yang Menantang

Perjalanan Pesta Buku Brunei (1)

Oleh: Dwi Syafriyanti

Pukul 7 belum lagi genap, namun orang-orang sudah mulai ramai memasuki ruang tunggu terminal bus antarnegara Ambawang. Tepat di hadapan berderet kursi calon penumpang. Saat saya tiba, sudah terisi sebagian. Suara riuh rendah pun terdengar renyah. Sementara di halaman telah parkir bus tujuan Kuching: Eva.

Bus Damri yang akan saya tumpangi belum terlihat. Namun penumpang dari depo Flamboyan saya ketahui telah bergerak menuju terminal antar bangsa di Kubu Raya ini. Tenang.

Saya diantar suami lebih dulu tiba di terminal ini. Sembari menunggu anggota rombongan yang lain saya sempat mengabadikan momen di depan lukisan artistik yang terlihat sangat indah dan menarik. Tak sampai 5 menit berselang Fahmi berikut Mulyadi, Setia Purwadi dan Ipah terlihat batang hidungnya. Mereka dengan wajah ceria ikut melambai-lambai. Kemudian dengan langkah cepat bergabung di ruang tunggu terbuka ini. Mereka membawa troli yang penuh dengan tas juga kotak buku.

WhatsApp Image 2019-02-28 at 08.21.25

Setelah bertegur sapa, agaknya kami mesti bersabar sejenak menunggu bus Damri eksekutif mesti waktu sudah menunjukkan pukul 7. Hari ini, Senin, 25 Februari saya dan ke-4 orang lainnya yang saya sebut tadi akan bertolak menuju Brunei Darussalam guna mengikuti Pesta Buku 2019 yang diselenggarakan dalam rangka hari kebangsaannya yang ke-35. Khusus untuk tahun ini kedutaan Besar RI di Brunei mengundang Ikapi Kalbar melalui Ikapi Pusat menjadi bagian dalam pesta buku ini. Stand Indonesia menjadi penyedia buku-buku yang akan dipamerkan.

Pukul 7 sebagai jadwal keberangkatan kami agaknya tak terlalu jauh meleset, sebab hanya selang beberapa menit bus Damri pun datang. Supir bus sengaja menekan-gas sehingga terdengar seperti meraung-raung ditambah bunyi klakson berkali-kali untuk menarik perhatian.

Penumpang tak perlu komando segera bersiap menuju bus dibantu kernek merapikan tas, koper dan barang bawaan di bagasi bawah dan satu persatu penumpang menaiki bus. Agaknya bus Eva tujuan Kuching di sebelah kami pun bersiap berangkat. Halaman luas terminal di pagi ini hanya tampak dua buah. Setelahnya sepi kembali.

Sempat berfoto bersama, saya berpamitan pada suami yang juga akan menyusul ke Brunei selepas tugasnya usai dari Papua 3 hari ke depan. Saya duduk bersebelahan dengan Ipah, sementara Setia Purwadi di sebelah Ipah setelah lorong bus. Fahmi dan Mulyadi duduk di belakang saya dan Ipah.

Kami membandingkan kondisi bus Damri yang berbeda dari bus Eva khususnya jumlah kursi. Eva berjejer 3, sementara Damri 4 kursi. Praktis di Damri lebih sempit.

Well Damri menjadi kendaraan yang akan mengantarkan kami ke Bandar Sri Begawan, setidaknya lebih dari sehari semalam. Sementara Eva ke Kuching hanya menempuh perjalanan 8-9 jam ke depan. Yup, latihan mental dan kesabaran. Untung saja Ipah di samping saya ini bertubuh ramping, sehingga masih cukup ruang buat bergerak. Di setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Begitu batin saya.

Sebelum jalan, tiba-tiba suami pun naik sejenak dalam bus untuk memperkenalkan pada seorang penumpang. “Mi, ini anak asuh pak Turiman, dia sering ke Brunei, ada perlu apa-apa tanya saja dia.” Turiman adalah dosen pakar hukum tata negara di Fakultas Hukum Untan.

“Sudah pernah ke Brunei? ” tanya si abang setelah diperkenalkan. Suamiku yang masih di bibir pintu menjawab, “Belum! Ini pengalaman pertama bagi rombongan.”

Bus benar-benar akan jalan. Dan inilah kami. Fahmi Sekretaris Ikapi Kalbar, Mulyadi, Ipah dan Setia Purwadi dari IAIN serta saya sendiri mewakili salah satu penerbit di Pontianak, TOP Indonesia. Kami berlima satu dengan lainnya akan menjadi teman seperjalanan serta teman senegara yang akan mulai membawa semangat literasi Kalbar ke dunia internasional. Di awali dengan sebuah perjalanan panjang 28 jam yang penuh tantangan.*

Written by teraju

Menteri Kebudayaan Brunei Akui Buku dan Perpustakaan Masih Relevan

Keliling Jemput Penumpang