in ,

Banjir dan Parit di Pontianak

Oleh: Yusriadi

Beberapa wilayah Pontianak tergenang banjir. Siklus musim dengan curah hujan tinggi yang mengguyur bumi menyebabkan genangan di wilayah rendah dan wilayah yang pembuangannya terbatas.

Kami sempat keluar, melintasi sejumlah jalan kota menjelang siang kemarin.

Sempatmerasa sedikit was-was.
Perasaan itu sempat muncul saat melintasi Jalan Purnama. Saya pilih jalan itu karena menganggap pintasan hendak ke Jalan Ayani. Biasanya memang laluan itu yang dipilih.

Eh, tak ingat –tepatnya tak tahu, sekarang lagi musim tergenang. Tak tahu kalau Jalan Purnama banjir.

Sejak masuk jalan Wonodadi genangan air sudah terlihat. Semakin ke arah Purnama, genangan makin tinggi. Saya mengukur, tinggi air dari permukaan jalan lebih setengah ban.

Melintasi jalan ini semua pengandara memilih bagian tengah jalan. Bagian ini agak lebih tinggi. Saya kira bagus juga untuk menghindari kemungkinan terperosok ke samping. Sempat masuk parit… alamak. Habislah.

Lewat bagian pinggir juga mungkin bisa menimbulkan masalah. Jika ada bagian berlubang, bagian berem yang lebih rendah, knalpot bisa masuk air. Bila itu terjadi, air bisa masuk ke dalam mesin dan motor pasti mati teduduk. Habis juga.

Sebenarnya keadaan Jalan Purnama, sudah lumayan. Saya ingat 10 tahun lalu saat kami bekerja di Harian Borneo Tribune di Jalan Purnama, jalan ini belum ditinggikan. Bulan atau musim hujan seperti sekarang kawasan jalan ini sering kendaraan tak bisa lewat. Air lebih tinggi dari mulut knalpot. Nekat, pasti tedudok.

Saya dan kawan-kawan sering titip motor di ujung jalan Purnama-Sumatera atau dekat Jalan Karya, yang agak lebih tinggi –sudah lebih dahulu ditinggikan. Selebihnya kami jalan kaki dengan celana panjang disinsing atau malah dibuka.

Hanya, di samping jalan yang sudah ditinggikan, tanah di sampingnya sebagian tetap rendah. Bagian ini pada musim ini menjadi seperti kolam.

Sebagian rumah warga pun terendam. Mereka jadi langganan air di musim hujan. Kekecualiannya, jalan yang memiliki parit besar dan bersih.

Tapi, mau dapat parit besar dan bersih di kota ini… terbatas. (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Pria itu Bernama Nuraji

Sisi Lain Hujan dan Banjir