in

Cendekiawan Selalu Mencerahkan

Kuliah Umum Pendidikan Tinggi dan Transformasi Era New Normal Prof. Dr. Arif Satria

teraju.id, Pontianak– Tampil bersahaja di atas mimbar kehormatan bertajuk Kuliah Umum Pendidikan Tinggi dan Transformasi Era New Normal, Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang juga Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Dr. Arif Satria, S.P, M.Si mengingatkan bahwa karakter utama cendikiawan adalah mencerahkan, menginspirasi, dan selalu berbagi solusi. Penekanan ini menjawab masalah bangsa yang kerap direduksi dengan kegaduhan yang kontraproduktif.

Mengenakan setelan batik warna gelap, pria berkacamata yang memimpin ICMI periode 2021-2026 ini menegasikan ICMI syarat dengan Islam dimana nilai universalnya diimplementasikan dalam konteks keindonesiaan agar senantiasa sukses, makmur dan sejahtera, baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

“Indonesia adalah negara yang kaya akan suku, etnis maupun agama. Kita syukuri itu semua sebagai potensi membangun negara yang kuat melalui karakter cendikia, ulul albab, yakni keunggulan pikir, zikir dan ikhtiar,” sambungnya di hadapan para rektor PTN-PTS se-Indonesia yang turut ambil bagian dalam kerjasama pendidikan tinggi bersama ICMI. Turut hadir Gubernur Kalbar H Sutarmidji, SH, M. Hum dan Wakil Walikota Pontianak, Bahasan, SH beserta tokoh-tokoh agama.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin, 7/3/22 di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura ini diawali dengan kata sambutan Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, setelah sebelumnya mendengarkan lantunan ayat suci Alquran dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Baca Juga:  Tokoh Agama Kalimantan Barat Deklarasi Tahun Toleransi 2022

Di hadapan peserta luring dan daring, Prof. Arif menegaskan bahwa saat ini semua negara dalam kondisi belajar menangani pandemi Covid-19. Bersamaan dengan itu masyarakat dunia juga dihadapkan dengan masalah berat lainnya yakni perubahan iklim.

“Mari kita bangun semangat kecendikiaan, menjadi manusia pembelajar yang mindsetnya growth atau bertumbuh, tidak fixed atau tetap.”

Prof. Arif merinci kondisi new normal secara ekonomi di Indonesia yang bertumpu kepada agromaritim sebagai fokus pembangunan berkelanjutan, desa sebagai pusat pertumbuhan baru berbasiskan keunggulan lokal, ekonomi digital untuk meningkatkan efisiensi dan akses sumberdaya, ekonomi moral (gift economy) sebagai fondasi ketangguhan sosial ekonomi, green economy, perilaku sehat serta inovasi sebagai penggerak techno-sociopreneurship.

Untuk menopang bertumbuhnya manusia pembelajar di Indonesia, perlu peningkatan pendapatan perkapita, dan pendapatan perkapita dapat meningkat jika riset atau penelitian-penelitiannya produktif. Sayangnya dana riset di Indonesia masih sangat kecil. Sebagai perbandingan sesuai sumber Bank Dunia tahun 2020: Korsel (48%), Jepang (32%), Tiongkok (21%), Singapura (1.9%), Malaysia (1.4%), Indonesia (0.28%). Begitupula Indonesia masih kekurangan jumlah peneliti yakni 216 per 1 juta penduduk, sementara Korsel 7.980, Singapura 6.803, Jepang 5.331, Malaysia 2.397.

Kendati Indonesia masih tertinggal jauh, namun Prof Arif mengajak seluruh kampus mengamati penelitian Thomas J Stanley, Ph.D bahwa kesuksesan ditopang IQ berada di urutan ke-21, sekolah favorit urutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik di urutan ke-30. Adapun 10 faktor terbesar yang menentukan kesuksesan adalah kejujuran, kedisiplinan, mudah bergaul, dukungan pendamping, dan bekerja lebih keras. Keenam dan seterusnya adalah kecintaan pada apa yang dikerjakan, kepemimpinan, kepribadian kompetitif, hidup teratur dan kemampuan menjual ide.

Baca Juga:  Salah Borong 2 Gol, Liverpool Puncaki Klasemen

“Semua ada di keseharian kita, tinggal laksanakan dengan growth mindset,” serunya seraya menjelaskan mindset yang bertumbuh adalah selalu melihat kegagalan sebagai peluang untuk bangkit, dapat belajar dari apapun yang diinginkan, tantangan menolong untuk tumbuh, usaha dan prilaku menentukan batas akhir dari kemampuan, suka mencoba sesuatu yang baru. Kesemua itu kebalikan dari mindset fixed di mana ketika frustasi lalu menyerah.

Bangkit di era pandemi dapat mengambil inspirasi dari best practice vs future practice di mana Gojek bisa menjadi perusahaan transportasi terbesar tanpa memiliki kendaraan, YouTube dan FaceBook bisa menjadi media terbesar tanpa membuat konten, Traveloka bisa menjadi penyedia akomodasi terbesar tanpa memiliki real estate.

Di akhir dari kuliah umum yang disampaikannya Prof. Arif berbagi buku karyanya tentang mindset kepada Gubernur Kalbar, Wakil Walikota Pontianak, Rektor Universitas Tanjungpura dan Rektor Universitas Negeri Padang yang juga Ketua Majelis Pendidikan Tinggi ICMI. (kan)

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

IKN, Peluang bagi HIPMI Kalimantan Barat

BPN dan BWI Pacu Percepatan Penerbitan Sertifikat Tanah Wakaf di Kubu Raya