in

Jejak dan Kenangan Bersama Wartawan-Budayawan AHR

IMG 20210717 WA0000
AHR kedua dari kiri, bersama penulis (paling kanan) saat riset sejarah di Makam Juang Mandor yang kini berganti status menjadi Monumen Daerah Mandor

Oleh: Nur Iskandar

[Innalillahi wa innailaihi rojiun relah meninggal bapak kami A.Halim R hari jumat tanggal 16 Juli 2021 pukul 18.50..mohon dimaafkan jika bapak ada salah dan khilaf ..semoga Allah menempatkan eyang/ bapak di tempat terbaik di sisi Allah..Aamiin]. Kabar duka itu saya terima pada pukul 19.20 dari Tante Yeti, istri Alm Max Jusuf Alkadrie yang saya kenal betul bahwa dua keluarga ini bersahabat sangat dekat.

Begitu membaca kabar duka itu dada saya terasa digeduk keras. Bahwa satu lagi tokoh hebat di Kalimantan Barat berpulang ke rahmatullah. Sosok yang malang melintang di bidang senirupa, menguasai berbagai unsur budaya lokal, dan beliau adalah tokoh pers yang penting di Bumi Khatulistiwa.

Saya termasuk dekat dengan almarhum. Bahkan beberapa kali tidur sekamar dengannya, sehingga kerap kali berbagi cerita. Lebih tepatnya, menjadi “murid” yang baik, dengan mendengarkan banyak cerita-ceritanya.

Dalam ingatan saya, Abdul Halim Ramli yang dalam setiap tarikan kuas kanvasnya menitipkan tiga huruf sebagai penutup karya–AHR–adalah tokoh sentral lahirnya lambang enggang gading tengkawang tungkul yang menjadi maskot Kalbar. Lukisan indahnya dengan burung rangkong bercula kuning dan sekuntum bunga tengkawang semasa saya kuliah di Universitas Tanjungpura dipajang Rektor, Prof Mahmud Akil, SH di salah satu sudut ruang Gedung Rektorat Untan.

“Ya, lukisan tersayang saya itu dibeli Pak Mahmud. Dari dana itu saya bisa naik haji,” cerita AHR. Kisah naik hajinya AHR ditulis bersambung di Harian Akcaya yang kelak berganti nama menjadi Pontianak Post. Adalah AHR tokoh sentral di balik tumbuh mekarnya industri koran di bawah Jawa Pos Media Group itu. “Saya mengawinkan Akcaya dengan Pak Dahlan Iskan,” cerita AHR.

Baca Juga:  Tidak Ada Masalah Gus Dur dengan Amien Rais

Pemuda asal Sintang, putra seorang polisi itu sebelum menjadi jurnalis atau wartawan adalah pelukis. Ia studi di Yogyakarta untuk belajar di Institut Seri Rupa Indonesia. “Masa keganasan PKI, saya di Daerah Istimewa ini,” tutur AHR saat bersama saya studi banding bidang pendidikan dan kebudayaan di DIY beberapa tahun yang lalu. Dalam perjalanan seperti itu saya sempat tidur sekamar dengan beliau. Termasuk saat studi banding bidang pendidikan dan kebudayaan di Manado, Sulawesi Utara.

IMG 20210717 WA0001
AHR menjelaskan liputan sejarah Mandor kepada Inang Lena–teaterawan dari Indonesia yang menetap di Jerman

“Sile Ananda jadi imam,” pintanya. Kami salat jamak magrib dan isya. Tentang permintaan itu tentulah saya tolak dengan halus. Saya tahu betul, sosok yang satu ini sudah pada tingkatan “suhu” atau “resi” dan lebih tepatnya “wali”. Jika salat Jumat dia lebih suka berada di shaf terdepan Mesjid Raya Mujahidin. Kostum yang dikenakannya sangat khas. Stelan baju koko dengan panjang selutut. Biasanya berwarna putih, tetapi kerap kali pula menggunakan corak khas daerah Kalbar. Setelah pensiun dari posisi Pemred di Pontianak Post, AHR bahkan memelihara jenggot.

Kepada saya AHR kerap berkomentar sesiapa ulama favoritnya jika menjadi imam dan khatib. “Ulama yang ‘satu kata dengan perbuatan’ akan lain kedalaman bacaan ayat Alqurannya,” katanya.

Oleh karena itu saya menolak secara halus menjadi imam dengan makmum sosok sekelas AHR. “Silahkan Yanda yang jadi imam,” pinta saya. Dua sajadah yang telah tergelar saya tempati yang bagian makmum.

“Tapi bacaan saya tak fasih,” katanya.

“Tak apa-apa Yanda,” kata saya.

Beliau membaca QS Al Ikhlas. Lafalnya mantap. Saya merasakan khusuk sebagai makmumnya di mana setiap gerakan salat cukup lama tumakninahnya. Jika Anda biasa salat berjamaah di Mesjid Almanar, ya kira-kira seperti itulah lamanya. Soal yang satu ini, alasan AHR, “Kita makhluk, menyembah khalik, Sang Pencipta, wajar, atas nama cinta berlama-lama…” Saya pun mafhum. Lawan bicara saya seorang budayawan yang kenyang makan asam garam kehidupan.

Baca Juga:  Hari Panjang Bersama Covid-19

Saya kenal nama AHR dari Harian Akcaya yang menjelma sebagai Pontianak Post. Beliau adalah penjaga gawang rubrik opini dan juga sketsa. Sketsa goresannya pedas dengan kritik-kritik sosial. Beliau kerap kali juga menulis kolom, sehingga sebagai siswa SMP dan SMA saya sudah tahu jalan pikirannya tentang pembangunan Kalbar.

Ketika Tabloid Warta Tarbiyah (IAIN) menggelar pelatihan jurnalistik (1992), saya adalah salah seorang peserta. Di kesempatan itu AHR menjadi instruktur.

Sejak 1992 pula saya menjadi reporter kampus Mimbar Untan. Tak pelak dalam berbagai kesempatan bersua AHR. Saya kerap pula berkunjung ke rumahnya yang sederhana di kawasan Jl Martadinata, Jeruju. Sesekali pula AHR kami undang ke dapur redaksi Harian Equator untuk memberikan kuliah jurnalistik kepada para wartawan muda.

IMG 20210717 WA0002
HR (kiri) bersama cucu Pahlawan Nasional, Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara

Di Harian Equator, AHR menulis kolom secara tetap dengan nama Mat Belatong. Isinya kental budaya dan nilai-nilai sufistik. Ditulis dengan gaya bahasa Pontianak yang kocak sehingga pembaca bisa ketawa ‘meletop-letop’.

Ketika saya memimpin redaksi Harian Borneo Tribune, AHR juga mengirimkan naskah-naskahnya ke koran pendidikan ini. Lewat koran Borneo Tribune trilogi Mat Belatong kami terbitkan sebagai buku berseri. Ini adalah salah satu masterpiece peninggalan beliau selain lukisan dan koran. “Saya tak bisa menulis lagi seperti tempo doeloe,” keluhnya. Mata semakin cepat lelah. Oleh karena itu AHR alias Mat Belatong selalu membawa kaca pembesar selain kacamata untuk memeriksa naskah-naskahnya.

“Nanti kalau tua kalian juga bisa bawa ‘loops’ seperti ini untuk cek naskah,” guraunya.

Baca Juga:  Masjid Siap Bantu Negara...

Beberapa proyek pendidikan dan seni budaya kami garap bareng. Selain buku, juga sejumlah titik sentral sejarah Kalbar. Salah satunya adalah persoalan Mandor dan Lambang Negara.

AHR punya kisah liputan tentang tragedi maut yang merenggut 21.037 jiwa sepanjang 1942-1945 yang rehabilitasi pertama lubang pembantaian di masa Gubernur Kalbar dijabat Kadarusno. “Ustadz Jamhur Rafi membaca doa dengan suara tercekat. Ada yang menahan pita suaranya,” liputan AHR. Suasana Mandor saat itu magis. AHR berpesan, hak-hak almarhum hendaknya diselenggarakan dengan cara yang benar-benar benar…

Bersama Max Jusuf Alkadrie dan Anshari Dimyati serta Turiman Faturahman Nur kami memboyong Nanang Hidayat ke kediamannya. Direktur Rumah Garuda juga alumni Institut Seni Rupa Yogyakarta, se-almamater dengan AHR. Ada ide membangun tugu Burung Elang Rajawali Garuda Pancasila karya putra terbaik Kalbar, Sultan Hamid, namun sampai sekarang terkendala. Sampai AHR dijemput maut di tengah pandemi Covid-19 belum ada ‘progress’ realisasinya.

Alm AHR sempat dirawat di RSUDS karena terpapar pandemi Covid-19.
“Bang Halim besok dimakamkan langsung dari rumah sakit.” Begitu informasi yang saya terima di tengah meruaknya kabar duka di berbagai grup WA.

Selamat jalan Ayahanda HA Halim Ramli. Amal ibadah Yanda tak terkira. Kami menengadahkan kedua tangan berharap semua amal ibadah yanda diterima di sisi Allah dan segala khilaf dan salah diampuni-Nya.

Betapa indahnya waktu datangnya ajal bagi Ayahanda. Di hari Jumat petang, di bulan haji, di saat yang Ayahanda paling berkesan, yakni menunaikan ibadah haji dengan hasil jerih payah melukiskan kehebatan Kalbar lewat satwa langka Enggang Gading dan flora kaya nabati Tengawang Tungkul.

Selamat jalan wartawan dan budayawan. Alfatihah. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

IMG 20210715 WA0008

Menkes Budi Gunadi Buka Vaksinasi Lintas Agama di UMP — Terbuka hingga 17 Juli untuk 2.000 Peserta

IMG 20210720 WA0063

Hari Panjang Bersama Covid-19