in

Munsif: Tak Sabar ke Kawasan Konservasi karena Hobi Fotografi

Kadis Kelautan dan Perikanan, Ir. Muh Munsif, MM memimpin rapat pemaparan dan arahan didampingi Kabid Kelautan, Ir. O Endy di Aula Pertemuan DKP, 18/1/23.

teraju.id, Pontianak– Sejak dilantik Gubernur Sutarmidji, SH, M. Hum selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat per tanggal 3 Januari 2023, Ir. Muhammad Munsif, MM langsung tancap gas. Sosok yang sebelumnya merupakan Kepala Dinas Perkebunan Kalbar ini tak butuh waktu lama untuk banting stir dari “kebun” ke “laut”.

Penggemar fotografi sejak masa mudanya ini sudah tidak sabar bisa ikut memotret keindahan alam bawah laut Kalimantan Barat yang seluas 3.4 juta hektar dan tak kalah molek jika dibandingkan dengan Taman Laut Bunaken. “Ada lima KKP3K di Kalbar dengan keindahan alam lautnya yang luar biasa, sebagai contoh yang terdekat dengan Kota Pariwisata Singkawang adalah Pulau Randayan. Saya sudah tak sabar untuk berburu foto di sana,” ungkapnya.

Lima KKP3K (Kawasan Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) masing-masing KKP Kubu Raya dan Kayong Utara, Pulau Randayan, Kendawangan, Kubu Raya dan Paloh di mana target utama konservasi berupa mangrove, refugia udang, pesut, terumbu karang, lamun, kima, dugong, penyu, lumba-lumba, hiu, hingga ikan paus.

Baca Juga:  Lahan Kosong? Awas Ada Mixue!

“Kegiatan pemaparan hasil kemitraan tahun 2022 dan rencana kerja tahun 2023 ini merupakan kegiatan perdana saya selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, dan ini pertemuan yang sangat strategis serta sangat penting,” ungkap Munsif yang tampil dengan stelan safari putih di ruang aula pertemuan DKP, Kota Baru, Rabu, 18/1/23.

Munsif menyapa satu per satu peserta yang terdiri dari lembaga kemitraan, peneliti di sejumlah kampus, media massa hingga instansi terkait dengan ramah. Sambil menyapa dan bertanya jawab seperlunya, Munsif menunjukkan penguasaannya terhadap isu-isu sentral di lembaga yang kini dipimpinnya.

Untuk itu Munsif “meng-highlight” landasan hukum yang mengatur tugas dan kewenangannya di DKP. “Jangan sampai salah dalam melakukan tindakan,” tegasnya seraya mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Terutama UU Perikanan, UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, hingga Peraturan Menteri tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi serta Kemitraan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi.

“Mari kita tingkatkan semangat kemitraan ini, karena banyak sekali manfaatnya. Antara lain program kerja kita menjadi lebih efektif dan efisien, serta ide-ide kita juga semakin aktif, kreatif dan variatif,” imbuhnya.

Baca Juga:  Pengalaman BWI Studi Banding ke Pengembangan Aset Wakaf Produktif Mesjid Jogokariyan

Munsif kemudian memberikan arahan agar dilakukan penguatan kelembagaan berupa peningkatan mutu Sumber Daya Manusia, program prioritas berkelanjutan dan perlindungan kepada satwa dilindungi sekaligus kepatuhan pada regulasi yang berlaku. “Maklum di lapisan terbawah hukum adalah aspek kesekian, karena orientasi utamanya adalah makan sehari-hari. Untuk itu perlu edukasi, di mana satwa dilindungi lebih baik dibudidayakan daripada diburu dan ditangkap.”

Arahan tersebut semakin padat dengan uraian kinerja lembaga mitra di tahun 2022 sekaligus rencana kerja di tahun 2023. “Kita tarik garis lurus dari kesemua program seirama dengan arahan Bapak Gubernur agar sektor kelautan dan perikanan memberikan kontribusi yang besar bagi kesejahteraan masyarakat.”

Menurut Munsif, saat dilantik oleh Gubernur, dia mendapatkan arahan agar menerapkan teknologi tepat guna yang efektif-efisien bagi para nelayan, sehingga mudah menangkap ikan. Di sisi lain sektor budidaya juga ditingkatkan produktivitasnya sehingga tidak memberikan kontribusi besar dalam inflasi daerah.

Pemaparan hasil kerja lembaga mitra di antaranya datang dari Yayasan Planet Indonesia, Politeknik Negeri Sambas, Yayasan Webe Konservasi Ketapang, Universitas OSO, Kelompok Masyarakat Wahana Bahari Paloh dan Orca Diving Club. Kegiatan pemaparan dimoderatori Kabid Kelautan Ir. Dionisius Endy.

Baca Juga:  Satu Kata untuk Piala Dunia 2022 di Qatar: Beda!

“Saya salut dengan Bapak Kadis, baru saja berada di DKP, sudah menguasai isu-isu pokok di wilayah laut Kalbar dengan luas 3.4 juta hektar. Saya selaku Kabid memberikan dukungan sepenuhnya agar Pak Kadis senantiasa sukses,” kata mantan penyiar lagu etnik di radio swasta paling tersohor di Kota Pontianak era 2000 seraya bercanda.

“Jika ada pemenang kalpataru, maka yang dipuji adalah pihak konservasi sumber daya hutan, walaupun yang ditanam adalah mangrove di wilayah pesisir. Begitupula keindahan alam bawah laut yang dipuja-puji adalah pihak pariwisata. Sebaliknya jika ada bencana puting beliung menghantam pesisir, maka semua mata tertuju ke Dinas Kelautan dan Perikanan bukannya badan bencana daerah,” urainya membuncahkan tawa. (kan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Arisan Jamban

Pohon Nangka