in ,

Ketakutan Kepada UAS Berlebihan

Kejadian pendeportasian Ustadz Abdul Somad (UAS) oleh pihak Imigrasi di Singapura sangat disayangkan. Terlebih jika ada motif politis di balik itu.

Saya belum tahu alasan yang melatari kejadian yang menimpa UAS di Singapura itu, karena belum ada penjelasan resmi dari otoritas terkait. Kita berharap, semoga tak ada motif politis sama sekali dibalik kejadian yang tak diharapkan itu.

Namun karena belum ada penjelasan resmi, wajar saja jika publik memiliki persepsi dan opini bahwa ada motif politis di balik peristiwa itu. Alasannya, karena kejadian yang diskriminatif itu sering terjadi kepada ulama yang santun itu. Saya sendiri pernah beberapa kali menyaksikan betapa para elit kekuasaan seringkali menampakkan sikap yang tidak senang dan tidak bersahabat terhadap UAS.

Sikap diskriminatif itu, sepertinya dilatari oleh ketakutan (phobia). Dan ketakutan para elit politik kepada UAS itu menurut saya sangatlah berlebihan. Ada beberapa alasan mengapa saya mengatakan ketakutan itu berlebihan.

  1. UAS bukanlah orang politik.
    Saya mempelajari latar belakang UAS, baik di masa lalu maupun saat ini. Saya tidak pernah menemukan catatan bahwa UAS pernah terlibat dalam aktivitas politik, baik di dalam organisasi politik formal, maupun underbownya. Saat mahasiswapun beliau tak pernah mengurusi persoalan-persoalan yang nyerempet-nyerempet masalah politik, menjadi seorang demonstran misalnya. Tak pernah sama sekali. Bahwa dalam pilpres yang lalu ada statemen keberpihakan, saya pikir itu masih sangat wajar karena masih dalam koridor etik negara demokratis yang dijamin oleh konstitusi di negeri ini.
  2. UAS bukanlah Da’i yang Provokatif.
    Jika ada yang menyimpulkan bahwa UAS adalah seorang Da’i yang provokatif, sukan mengkritik pemerintah, suka ngomong kasar, suka menjelek-jelekan penguasa dan atau institusi negara, maka kesimpulan itu salah besar. Karena selama saya mendengarkan ceramah UAS, semua orang pasti akan punya kesimpulan yang sama, bahwa beliau bukanlah orang yang provokatif, bukan pula orang yang suka mengkritik kebijakan atau mengkritik tokoh-tokoh politik di negeri ini, menjelek-jelekkan orang atau institusi, apalagi dengan kata-kata yang kasar.
    Bahwa mungkin ada pernyataan-pernyataan bernada kritis, pernyataan itupun masih teramat sangat biasa-biasa saja, tidak provokatif, tidak menghasut, dan sangat ber-adab. Jika ada yang masih ragu dengan kesimpulan ini, mari sama-sama kita analisis secara obyektif, mari kita hitung dari bermilyar kalimat yang disampaikan UAS selama ini, berapa kalimatkah yang memiliki konten kritis terhadap negara atau pemerintahan? Saya yakin tak lebih dari puluhan kalimat saja, atau nol koma nol-nol-nol-nol persen saja. Maka terlalu berlebihan jika ada orang yang menyamakan UAS dengan da’i-da’i lainnya.
  3. UAS tak punya ambisi politik.
    Saya sering mendengarkan ceramah UAS. Saya juga pernah beberapa kali terlibat dalam diskusi ringan secara langsung bersama UAS. Saya sangat paham membedakan mana orang politik, mana orang yang tak berpolitik karena dulu teramat sering bergaul dengan orang-orang politik. Dan saya meyakini bahwa selain UAS bukanlah orang politik, beliau bukanlah tokoh yang punya ambisi politik, entah itu ambisi untuk mendukung partai politik tertentu, ambisi untuk mengusung gagasan politik tertentu, gagasan untuk merubah konstitusi negara, ambisi untuk menjadi tokoh politik tertentu, apalagi ambisi untuk merongrong kekuasaan. Tak ada sama sekali!
    Kalau ada ambisi itu pasti akan tampak dalam pernyataan, sikap dan perilaku beliau. Tapi indikasi itu tak tampak sama sekali.
    Terlebih dalam berbagai forum, UAS sering mengatakan beliau tak pernah punya ambisi politik sama sekali entah itu jadi anggota dewan, jadi bupati, gubernur, apalagi presiden.
    Oleh karena itu, jika para elit di negeri ini masih meyakini bahwa UAS adalah orang politik dan orang yang punya ambisi politik, maka kesimpulan itu adalah kesimpulan yang salah besar. Dan jika masih elit di negeri ini yang menganggap UAS sebagai ancaman terhadap kekuasaan, apalagi ancaman terhadap eksistensi negara sehingga perlu dihambat, dicegah, ditangkal, maka sikap seperti itu adalah sikap yang keliru dan sikap yang sangat berlebihan.
Baca Juga:  Sedekah Akbar Indonesia Kembali Digelar di Pontianak

Yang terakhir, saya menghimbau kepada seluruh stakeholders di negeri ini agar lebih dapat mengayomi seluruh manusia yang tinggal di negeri ini. Perlakukan siapapun di negeri ini dengan penuh cinta dan kasih sayang. Semoga dengan demikian, semakin sayang rakyat dengan pengelola negerinya, dengan para pemimpinnya, dengan para penguasanya.

(Beni Sulastiyo, Santri Iqro 5, Pontianak)

Written by teraju

Gubernur Dorong Perempuan Melayu Terlibat Aktif dalam Pembangunan

Januari: Saju Pertama, Awal yang Baru