in

Menulis Harian: Rindu yang Menjadi Buku

menulis harian rindu yang menjadi buku

Oleh: Husnah

Awalnya cuma diberikan tugas untuk membuat narasi diri, dalam bentuk buku harian dan disetorkan setiap pekan minimal 500 kata. Namun, seiringnya waktu kami diberikan tugas untuk membuat sebuah buku. Buku tersebut harus dicetak dan minimal sebanyak 70 halaman. Aku pun kaget dan takut, apakah aku bisa menyelesaikannya dalam waktu yang telah diberikan.

Jangankan untuk membuat buku, membuat puisi dan pantun saja aku tidak pandai karena selama SMP dan SMA aku tidak suka mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan nilai ulanganku tidak pernah tinggi pada mata pelajaran ini.

Namun, ada sebuat kalimat dari bu Ninda yang memotivasiku yaitu “Jangan pikir apa yang mau kamu catat, tapi catat apa yang kamu pikir” mendengar kalimat itu aku pun tersadar ternyata selama ini aku terlalu sibuk memikirkan apa yang mau aku catat sehingga aku sesusahan dalam mengembangkan kalimat.

Kemudian aku menulis kegiatanku sehari-hari mulai dari aku bangun tidur hingga tidur lagi. Namun, aku belum menemukan ide yang harus aku tulis. Tetapi setelah beberapa hari aku menulis buku harian akhirnya aku mendapatkan ide untuk dijadikan topik utama ceritanya, yaitu tentang rindu dengan judul buku “Buku Harian Anak Rantau”.

Baca Juga:  Hampir Membeli Buku Gramedia: Pengalaman Menulis Buku Sendiri

Berawal dari iseng-iseng menulis kegiatan harian, jadilah bertumpuk-tumpuk tulisanku di sana. Namun, sempat terjeda sejenak karena disibukkan dengan kegiatan dari kampus dan mata kuliah lainnya. Setelah semua kegiatannya selesai aku pun mulai serius dalam menulis buku ini. Hanya dalam waktu satu minggu aku konsisten untuk fokus dengan tugas ini akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Setelah selesai menulis aku pun mencetak bukunya, aku sangat bahagia karena mampu menyelasaikannya.

Rasanya sedih sekali karena aku membuat buku ini tanpa ada support dari siapa pun selain diri sendiri, ternyata begini rasanya jadi anak rantau tanpa ada seorang pun mendampingi secara langsung. Namun, walaupun tidak ada yang memuji atau kagum kepadaku tetapi aku sangat bangga kepada diriku karena sudah mampu menjalankan amanah ini.

Ada banyak pertanyaan dari teman-temanku ketika aku sudah selesai menulis buku. Kebanyakan dari mereka bertanya “Gimana sih menentukan judulnya” aku hanya bisa menjawab sama seperti kalimat yang diucapkan bu Ninda waktu itu. Terima kasih kepada bu Ninda yang sudah membimbing dan memotivasiku.(*Penulis Mahasiswa Prodi PGMI 1D FTIK IAIN Pontianak)

Baca Juga:  Hampir Membeli Buku Gramedia: Pengalaman Menulis Buku Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Written by teraju.id

Sefira Andana Pengalaman Membuat Buku

Pengalaman Membuat Buku dan Mama yang Haru

Pengalaman Menulis Buku Sendiri

Hampir Membeli Buku Gramedia: Pengalaman Menulis Buku Sendiri