in

28 Juni Bendera Setengah Tiang: Tanda Kalbar ‘Berdjoeang’

bendera setengah tiqang

Oleh Nur Iskandar

Tenggelam oleh suasana pandemi Covid-19 yang semakin menggila sehingga pemukiman luput dari pemasangan bendera setengah tiang, dinas-instansi terkait masih ingat akan sejarah kelam ‘pembantaian Jepang’ kepada puluhan ribu tokoh serta rakyat sipil di Kalimantan Barat. Perkantoran, bahkan supermarket seperti Caisar tetap mengibarkan ‘alarm’ duka cita di rentang waktu 1942-1945 tersebut.

Saya melihat dengan haru setiap berpapasan dengan bendera setengah tiang seperti pada hari ini. Seperti salah satu bendera yang saya potret tadi.

Kenapa haru? Karena inilah salah satu maksud dari perjuangan panjang menyambung rantai sejarah yag telah putus dua generasi akibat ‘genocide’ yang dilakukan Dai Nippon-Jepang ketika mendarat ke bumi khaTULIStiwa menyusul peristiwa Bom Sembilan.

*

Saya tahu banyak kisah perjuangan rakyat Kalbar ketika menginjakkan kaki di pers kampus Mimbar Untan. Di sana saya berteman akrab dengan pecinta sejarah, Syafaruddin Usman. Bersamanya kami wawancara tokoh pejuang Kalbar yang ada di DHD 45 antara lain H Ibrahim Saleh, HM Noor, putri Sultan Muhammad–Ratu Perbu Wijaya dan anak-cucu keluarga korban keganasan Jepang. Kami tentu saja menuliskan dan memuatnya di Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan sejak kami aktif mengelola koran alternatif bagi publik tersebut di era 1992-1997.

*

Saya tamat kuliah lanjut menjadi jurnalis radio. Tepatnya di Volare dan juga wartawan di Harian Equator. Saat itu Gubernur Usman Ja’far sedang mengevaluasi agenda Agustusan. Di dalam forum SKPD itulah ketika Gubernur menyatakan, apakah ada agenda lain yang hendak diusulkan, saya acungkan jari minta waktu untuk mengusulkan sesuatu.

Ringkas kisah, saya menyatakan di forum rapat pada ruang utama Pendopo Gubernur itu bahwa upacara 17-an diikuti obade, serta malam renungan suci di TMP sudah rutin dilaksanakan. Kita perlu mengangkat kisah perjuangan nasional dari daerah kita sendiri.
Pada waktu itu Usman Ja’far tampak antusias. Agaknya Beliau tidak banyak tahu tentang sisi perjuangan heroik di Kalbar pada 1940-an. UJ–sapaannya–sejak SMA telah hijrah ke Jakarta dan besar dalam grup A-Latief Corporation.

Saya usul seminar nasional dengan tema perjuangan Mandor–lokasi ladang pembantaian yang berjarak 80-an km dari kota Pontianak. Kini kita mengenalnya dengan Monumen Daerah Mandor. Terdapat kuburan massal dan makam para sultan atau raja di antara 10 titik kuburan massal tersebut.

Singkat cerita, seminar nasional disetujui di bawah koordinasi Asisten 3 Drs Kamaruzzaman, M.Si sosok yang kemudian sempat menjadi Pj Kabupaten pemekaran Kubu Raya serta Kadis Pariwisata.

Seminar digelar di Rektorat Untan dengan tim perumus Turiman Faturahman Nur, Zulfidar Zaedar Mochtar, Syarif Muhammad Herry, Syafaruddin Usman, Gusti Suryansyah, Gusti Hardiansyah dan Kamaruzzaman. Saya mengetuai seminar nasional tersebut.

Berangkat dari rekomendasi melalui seminar yang diikuti 300-an peserta terdiri dari keluarga korban Genosida lahirlah Perda dan Pergub Hari Berkabung Daerah yang mana salah satunya adalah teknis upacara dan pemasangan bendera setengah tiang. Seperti terlihat hari ini….
Perda diproduksi di DPRD Kalbar yang saat itu dipimpin Ir H Zulfadhli. Adapun Kepala Biro Kesra yang kekeh semekeh menghaluskan naskah Perda adalah Dra Sri Jumiadatin, M.Si. Adapun sebelum Perda dan Pergub lahir, pemasangan bendera setengah tiang pertama direstui oleh Danrem Bawatenaya atas restu Pangdam yang saat itu masih berpusat di Kaltim. Seru sekali riwayat perdjoeangan menyambung mata rantai sejarah yang terputus dengan hilangnya dua generasi cerdik-cendikia di bumi Borneo Barat sejurus waktu itu. Bahkan tokoh sentral yang memimpin pertemuan dengan Danrem, Drs Gusti Suryansyah, M.Si telah pula meninggalkan kita…..Alfatihah.

*

Saya haru karena tak banyak yang bisa saya perbuat bagi bumi khaTULIStiwa, tetapi setidaknya pemasangan bendera setengah tiang adalah mata rantai yang putus dari dua generasi tersambung kembali. Secara nyata hendak mengabarkan kepada seluruh pasang mata dari generasi ke generasi bahwa di Kalbar ada perdjoengan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Dari 28 Juni, kalau mau, akan banyak ‘goal’ pahlawan pahlawan nasional dari bumi Kalbar. Semoga. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

mengambil gambar

Menangkap Gambar

pasir putih pantai indah 2

Pasir Putih, Pantai Indah di Selatan Kalbar (2)