in

Dari Cupang, Siluk, hingga Nila

cupang hias

Saya kena demam ikan. Ya…sepertinya begitu. Pagi, sore, malam… ikan. Yang dibicarakan, ikan. Yang dilihat, ikan. Yang diimpinkan (kadang-kadang), ikan. Walah… berat ya…
Mulanya, ikan cupang. Anak kami, Bang Yanda minta dibelikan ikan cupang. Kami beli. Lalu kami belajar breding –mengawinkan ikan cupang. Berhasil. Kini anak-anak ikan itu menjadi pengisi akuarium di ruang tengah. Warna-warni ikan itu mewarnai hari-hari kami.

Saya rutin memberikanya pakan polar red. Abang juga rutin. Mbah, sesekali juga pengin memberi makan ikan. Biasanya beliau bertanya, “Udah dikasih makan belum?”
Kalau dijawab belum beliau akan mencongkel makanan dengan ujung sendok plastik dan dicelupkan ke air akuarium. Seru melihat cupang-cupang remaja mengapung melahap makanan.

Sekarang, Abang Yanda dengan fasih menyebutkan jenis cupang. Dia memperkenalkan super red, sello, koi, blue rim, samurai.. dll…

Saya dan Zainal, biras saya, juga sering diskusi soal ikan. Terutama ikan arwana. Zainal memiliki pengalaman memelihara arwana. Di kampung, mereka punya kolam besar. Ada jenis arwanan merah (red) dan albino. Ada brazil atau silver. Kami berencana membuat kolam kecil untuk arwana, setidaknya untuk brazil. Dengan demikian terutamanya saya, bisa belajar tentang jenis ikan kebanggaan orang Ulu Kapuas.

Baca Juga:  In Memoriam: Jalaluddin Rakhmat Memilih Jalan Tasawuf

Rasanya aneh jika orang tanya pada saya tentang ikan siluk, begitu kami menyebutnya, saya buta kayu. Meskipun tidak ahli, sedikit banyak nyambung-lah kalau bicara tentang ikan itu. Saya harap juga anak-anak saya mengenal ikan ini sedikit-sedikit.

Suatu waktu Abang Yanda berkali-kali menagih. “Kapan beli brazil?” Nampaknya, dia bersemangat dengan ikan ini.

Lalu, sepekan belum lebaran saya membeli terpal dan mengisinya dengan nila. Sengaja saya pasang di bawah jendela—dengan beberapa pertimbangan.

Kini, dua minggu sudah berlalu. Setiap membuka jendela, ikan-ikan nilai itu muncul. Mereka menanti taburan pakan.

Saya, istri, Abang Yanda juga, kini betah berlama-lama di jendela melihat ikan berenang ke sana ke mari. Kami mengamati perkembangan ikan yang terasa cukup cepat. Kami betul-betul menikmati pemandangan itu.

Malahan, saya ketagihan. Serius. Saya sudah membeli terpal baru lagi. Rencananya beberapa hari ke depan akan diisi dengan nila baru. Jika kolam pertama diisi dengan 100 ekor, kali ini saya ingin lebih banyak lagi, biar padat, biar keseruannya bertambah.

Baca Juga:  Islam di Pulau Kabung

Alhamdulillah….

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

IMG 20210520 WA0036

Kebangkitan Nasional dengan BangKambing–Modal 100 juta–30 Ekor Indukan

UAS dan Cak Nun

Setelah 25 Tahun Mengagumi, Akhirnya UAS bertemu Cak Nun di Jombang