in

Ekonomi dan Jalan Lingkar di Lemukutan

Ekonomi dan Jalan Lingkar di Lemukutan


Oleh: Ismail Ruslan dan Nunik Hasriyanti

Sebagai wilayah pesisir, masyarakat di desa Lemukutan sangat kental dengan budaya maritim. Mayoritas penduduknya nelayan, mencari ikan dan sotong dengan memancing tidak diperkenankan menggunakan jaring ikan, apalagi pukat harimau. Tradisi ini merupakan kesepatan masyarakat di Lemukutan untuk menjaga kelestarian ikan dan sotong di laut dan melindungi nelayan. Hingga saat ini baik nelayan dari Lemukutan maupun luar memegang tradisi memancing dan tidak memasang pukat.

Masyarakat Lemukutan juga memiliki bagan untuk mendulang ikan teri, sebagian kecil sotong.
Tingginya permintaan ikan teri dan sotong membuat bisnis bagan menarik banyak pihak.

Modal pembuatan bagan minimal 30 juta atau lebih tergantung harga kayu nibung yang digunakan sebagai tongkat dan kayu cerucok untuk alas di atasnya.

Bisnis lain yang juga menjanjijan perdagangan kebutuhan 9 bahan pokok (sembako). Kebutuhan akan sembako di Lemukutan juga sangat tinggi. Seiring dibukanya kembali Desa Lemukutan untuk wisata bahari setelah beberapa bulan sepi pengunjung karena covid 19. Kebutuhan beras, gula, minyak, termasuk gas sangat positif.

Baca Juga:  Cerita Pejuang Kerukunan di Pulau Lemukutan

Demikian juga permintaan gas 3 kg bisa mencapai minimal 200 tabung /1 minggu. Jumlah inipun terasa kurang apalagi saat week end dan liburan hari besar agama, atau hari libur nasional.

Segala kebutuhan sembako, gas dan lainnya di datangkan dari Singkawang dan sekitarnya melalui dermaga Teluk Suak Bengkayang.

Salah satu potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dan dibudidayakan adalah bisnis rumpul laut. Harga jual rumput laut kering 60 ribu/kg dengan berbagai khasiat dan kegunaannya insyaallah akan mendatangkan income bagi warga.

Jalan Lingkar
Adanya keinginan yang kuat dari masyarakat agar pemerintah provinsi Kalbar membangun jalan lingkar di desa pulau Lemukutan.

Ada beberapa lokasi didesa Lemukutan belum terhubung jalan, dipisah oleh laut atau hutan. Misalnya antara Tanjung Besar dengan Porok, dan Tanjung Panjang ke Teluk Surau.

Pembangunan jalan lingkar ini dipandang sangat penting untuk membuka akses daerah yang terisolir.
Mamfaatnya penduduk akan mudah menuju kebun cengkeh dan membuka akses wisata bahari di Sebelah Barat Pulau Lemukutan. (*)

Baca Juga:  Dosen dan Mahasiswa Arsitektur POLNEP Meneliti dan Mengabdi di Pulau Lemukutan

Written by teraju.id

turiman

Prof Yusril Menguji AD/ART sebagai Konstitusi Partai Politik

Aktivitas Keagamaan Masyarakat di Lemukutan

Aktivitas Keagamaan Masyarakat di Lemukutan