in

Hari Panjang Bersama Covid-19

IMG 20210720 WA0063

Sejak adik bungsu saya positif Covid-19 dan dirawat di Rumah Sakit, saya merasa hari-hari terasa panjang. Terasa sangat berat dilalui.

Setiap saat adalah debaran kencang. Debaran jantung semakin kencang setiap ada informasi terkini. Urusan dari A-Z memenuhi kepala membuat gerakan terasa limbung.

Sejak pertama kali dinyatakan positif Covid-19 dalam keadaan hamil, saya sudah cemas. Kasus yang sama menjadi penyebab nya.

Adik ipar sempat pasrah ketika empat rumah sakit tidak bisa menerima karena ruang perawatan penuh pasien. Sejak itu saya dan istri memutuskan membantu ikhtiar. Covid-19 yang dihindari selama ini, kami songsong dengan bismillah. Panggilan jiwa Adik lebih utama.

Meskipun mulut saling menyabarkan, kecamuk pikiran muncul dengan sendirinya. Tidur menjadi tidak lena –hanya sekejap sudah terbangun. Pikiran utama tertuju pada yang sakit. Hari terasa panjang. Harap-harap bisa disingkat dan yang sakit segera sembuh.
Allah yang Maha Kuasa. Harapan kami tidak menjadi nyata. Keadaan adik makin parah.

Puncaknya, ketika nafas terakhir diperlihatkan. Ketika tarikan dikabarkan terlihat satu dua. Saturasi oksigen sudah di bawah 50, dan bergerak cepat menurun. Bahaya Covid-19 yang diingatkan melintas, selarik dengan lintasan kematian.

Baca Juga:  Paling Tidak, Jangan Jadi 'Peng-endorse Kematian'

Pukul 9 lewat, hari ke lima, ajalnya tiba. Saat saya muncul di ujung tangga, saya dapati suasana duka. Tangis pecah merata: adik ipar, ibu bapak adik ipar, saudara adik ipar, istri saya.

“Bang Yus…”

Jantung saya berdegup. Lemas. Saya sudah menebak maknanya.

Saya melihat alat-alat medis dilepaskan. Wajah cantik itu memucat. Anak bungsu yang selama ini ramah, hangat dan peduli pada sesama, diam tak bergerak. Panggilan dan ratapan di sisinya tak lagi direspon. Saya menyentuh, kakinya yang putih sudah terasa dingin.

Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un. Semua orang akan kembali pada-Nya. Adik, meski lebih muda belasan tahun dari saya, dia pulang lebih dahulu. Saya menangisinya. Dia pulang bersama anak yang dikandungnya, 6 bulan.

Dia menyusul perjalanan anak yang sudah ada di depan. Diiringi malaikat yang mencabut nyawanya.

Kami yang ditinggalkan, termasuk suaminya dan empat anaknya, hanya bisa mengiringinya dengan tangis dan doa, semoga kelak dipersatukan kembali di surga.

Kami masih mengarungi hidup dunia. Masih menggunakan jasad menapak jalan hidup yang bingar bingar ini. Kami melangkah, meskipun saat ini hidup di bawah bayang-bayang kekhawatiran bersama Covid-19.

Baca Juga:  Sinyal Bahwa Nyala Literasi itu Masih Ada

Mohon doa. Alfatihah. (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

IMG 20210717 WA0000

Jejak dan Kenangan Bersama Wartawan-Budayawan AHR

lebaran iedul adha

Arafah Bersamamu