in

Idul Fitri 1991-2021

Idul Fitri 1991 2021

Alangkah cepatnya waktu berlalu. 30 tahun. Kenyataan yang real saya alami bahwa waktu berjalan setajam mata pedang. Memang dijalani tak terasa, tetapi ketika melihat album kenangan seperti masa SMA di atas, seperti baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Wajarlah jika pada ayat-ayat suci, Allah SWT berfirman, kala wafat, ruh berkata, seperti menjalani kehidupan antara malam kepada waktu duha sahaja….singkat. Cepat. Kilat!

*

Saat itu tahun 1991, kami semua masih remaja. Duduk di kelas 2 SMA. Lebaran Idul Fitri di kediaman Jl Sungai Raya Dalam No 40. Kediaman ortu H Hasan Har dengan jalan Serdam belum lagi beraspal hot mix seperti sekarang ini. Aspal goreng pun masih sebagian.
Dari kiri ke kanan: Niken Yulistya. Kini mengabdikan diri sebagai paramedis di Puskesmas Anjungan setelah menamatkan pendidikan kedokterannya di Universitas Islam Sultan Agung di Semarang, Jawa Tengah.

Itu kepala yang nongol sedikit adalah Muhammad Isa. Ia seniman yang jago petik gitar dan melukis sejak SD. Setamat SMA di tahun 1992 dia mengembara di perkebunan Kalimantan Tengah. Di sana dia menyunting gadis Manis Mata dan mengasah kemampuan di bidang pertanian, perikanan dan perkebunan.

Baca Juga:  Menggugat Kekerasan Paradigmatik

Saya berada di tengah-tengah. Saat foto ini diambil sedang giat-giatnya belajar berorganisasi di Remaja Mesjid Raya Mujahidin. Organisasi remaja mesjid terbesar di Kalbar. Pada saat yang sama, kami baru saja mengikuti Pesantren Kilat Ramadhan dan mengikuti Orientasi Remaja Mesjid Mujahidin.

Dede Nadalia adalah putri H Murni Sahidan, SH. Sekretaris Dewan di DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Kini Dede meniti karir sebagai ASN di Pemkot Depok–antara Bogor dan Jakarta.

Ida Kusdiati kini memimpin Balai Benih Induk di Peniraman. UPT milik Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat.

Di antara kami berlima, saya dan Ida Kusdiati satu almamater Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Satu memilih jalur birokrat, saya meliput sebagai jurnalis…sampai kini 🙂 Juga meliput aktivitas kawan-kawan di mana pun berada. Dekat tapi jauh. Jauh tapi dekat.
Justru karena berkutat sebagai “kuli tinta” saya semakin merasakan bahwa waktu itu berjalan seperti kilat menyambar. 30 tahun kini dan lalu…..

Akankah kami bisa bercerita 2021 di 30 tahun yang akan datang? Wallahu a’lam bishowab. Hanya Allah yang mampu untuk menjawab.

Baca Juga:  Aksi Nyata

Pesan kepada anak-anak kami yang masih SMA–isilah waktumu dengan sebaik-baiknya. Kejarlah cita-citamu dengan sekuat tenaga. Berbaktilah untuk diri, keluarga, agama, bangsa dan negara. Sungguh waktu berjalan amat sangat cepatnya. Jika waktu tak diisi dengan sebaik-baiknya dan sefokus-fokusnya, sungguh kita akan ditinggalkan roda zaman yang tiada mengenal kata ampun.

Tantangan ke depan semakin dahsyat…..*

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Dampak Pandemi Covid pada pembelajaran anak. Foto Doc Human Right Watch

Dampak Gawat Pandemi terhadap Pendidikan Sedunia

Pertama Kali Idul Fitri di Luar Sintang

Pertama Kali Idul Fitri di Luar Sintang