in

Literasi Kesehatan

literasi kesehatan

Mengapa banyak hoax muncul seputar pengobatan Covid-19? Mengapa banyak orang suka membagi konten-konten yang berkaitan dengan pengobatan ini?

Kecenderungan itu dapat dengan mudah diamati di jagat maya kita. Entah itu konten tertulis, maupun konten bersuara-bergambar.

Bahkan, mungkin kita menjadi bagian dari itu. Kita menerima dan membagi kepada orang lain info kesehatan itu. Kita mencari dan menemukan sesuatu yang kita anggap benar dan baik, lalu dibagikan kepada orang lain.

Pada titik ini kita mengira kita sudah tahu. Dan, kita merasa apa yang kita tahu itu sudah bisa atau patut digunakan untuk kesehatan. Kita pun lantas merasa, orang lain layak menirunya.
Tapi, di balik hal itu, kita tidak menyadari atau bahkan menduga bahwa apa yang kita anggap baik, itu baik; atau tepatnya, cocok untuk orang lain. Niatnya membantu orang lain. Pasti tidak terlintas niat mencelakakan. Walaupun pada akhirnya mungkin berbahaya bagi orang lain, karena tidak cocok atau tidak pas, atau karena ada perbedaan masing-masing orang.
Dalam soal ini kita memang sering seperti cerita orang-orang buta dan gajah. Pada perumpamaan cerita populer itu, mereka memberikan deskripsi tentang binatang besar itu, sesuai dengan apa yang mereka sentuh dan bayangkan.

Dari sisi mereka dan keyakinannya, binatang besar itu menjelma menjadi beberapa bentuk. Dan, malangnya, bentuk gajah menjadi berbeda-beda.

Meskipun perumpamaan si buta – gajah, dan kita – penyakit , mungkin kurang pas, tetapi setidaknya kita mendekati kesadaran tentang kelemahan dan kekurangan kita dalam mengetahui, memahami dan mengatasi penyakit. Kita kurang mendalami literasi kesehatan.

Oleh karena itu selayaknya kita mendekatkan diri dengan pengetahuan dan pemahaman tentangnya. Sebaiknya kita menceburi dalam lautan pengetahuan tentang penyakit, pencegahan dan pengobatannya.

Selayaknya kita menyadari kelemahan, tepatnya, kekurangan kita dalam bergerak di trek literasi kesehatan. Kita kurang terdedah pada bidang yang satu ini.

Akhirnya, ketika membuat tulisan ini, saya teringat dahulu ketika menghadiri kegiatan pengajian di sebuah masjid di Hentian Kajang ,Selangor. Kala itu seorang dokter dari rumah sakit negara dihadirkan. Beliau menyampaikan tentang penyakit jantung. Alquran dan kesehatan. Kajiannya menarik dan informatif. Kapasitasnya lengkap dan jelas. Tidak hoax. Sangat menggugah kesadaran saya mengenai kekuasaan Allah dan kesehatan jantung manusia. Sangat inspiratif untuk giat masyarakat Islam.

Hari ini, saat ini, saya berada di sebuah rumah sakit. Saya bak si buta yang disinggung di atas. Ketika itu, lewat tengah malam, saya panik menghadapi situasi: cairan infus habis. Saya cari petugas ke ruang jaga. Tidak ada. Bak sa’i, saya mondar mandir di koridor, lalu, ke ruang inap.

Seorang pasien, ruang sebelah juga keluar kamar dengan infus kosong di tiang. Niatnya sama: tolong, infus habis.

Ke mana petugas jaga?

Lama kemudian dua petugas muncul. Rupanya mereka sedang menolong pasien lain yang sama-sama butuh pertolongan segera.

Ketika akhirnya ditangani, petugas menanganinya persoalan dengan mudah. Dia memberi petunjuk: Kalau cairan infus Bapak geser ini ke bawah….

A..ha …itu gampang sekali. Kok saya ndak kepikiran ya?? 😂 (6/9/2021)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Kamadjaja Logistics cloud microsoft

Cloud, Solusi Kamadjaja Logistics Tekan Biaya Operasional dan Tingkatkan Efektivitas Kerja

fadli zon

Lapas Over Kapasitas, Fadli Zon Desak Menkumham Mundur