in

Menulis dengan Niat dan Serius

“Jika teman lain menganggap, tulis saja karena tugas saya tidak begitu. Bagi saya menulis perlu niat dan serius” – Asissa Islamidina

Mengutip pernyataan Asissa Islamidina, sang juara pertama dalam lomba Esai “Aku Cinta IAIN Pontianak” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Linguistik dan Bahasa Indonesia (ADLIBI).

Pernyataanya membuat hati bergetar. Tidak semua mahasiswa mau menulis walau pekerjaan mereka sebagai mahasiswa adalah Menulis dan Membaca sebagaimana pendapat Dr. Yusriadi dalam buku Ajarkan Anakmu Menulis (2015). Sebagian mahasiswa menganggap menulis adalah beban tetapi ada juga yang merasa menulis adalah teman, akurnya lagi dengan membaca.

Awalnya Asissa tidak menyangka bahwa tulisannya terpilih sebagai yang terbaik. Sebab, lomba ini adalah kali pertama diikutinya namun, Asissa tahu bahwa saat mengerjakan ” Esai lomba sebagai Tugas UTS Bahasa Indonesia ia menyelesaikanya dengan niat menghasikkan tulisan yang baik, ia mengerjakanya dengan serius.

Asissa Islamidina

Mahasiswa seperti Asissa termasuk langka sebab menemukan Asissa dan penulis lain harus dengan strategi memaksa. Kemudian Asissa juga mengaku bahwa di tempat bersekolah tak ada wadah untuk menyalurkan minatnya, yakni menulis. Asissa selama ini menulis ia merawat kesenangannya dengan caranya sendiri.

Baca Juga:  ADLIBI Launching Buku "Aku Cinta IAIN Pontianak"

Keterbukaan Asissa tentang tugas UTS menjadi bukti bahwa menemukan seorang Asissa sebagai mahasiswa penulis tak mudah. Asissa adalah satu di antara mahasiswa yang menunjukkan kesenangannya pada menulis. Ia adalah mahasiswa semester 1 yang berhasil menarik hati juri dengan tulisanya yang piawai. Asissa berhasil pada penilaian tertinggi karena kemampuanya menunjukan dirinya berbeda. Tak sekadar kreativitas menulis, sesuai isi dan tema, serta strukturnya tetapi gagasan Asissa tentang mampunya ia menghadapi masalah yang banyak dianggap sebagai beban dan alasan mundur di medan perguruan tinggi oleh mahasiswa baru.

Lika-liku asrama, tugas, adabtasi, dan gelora egois remaja akhir adalah butir-buti kerikil alasan yang dapat menggoyahkan teguhnya niat menuntut ilmu. Telah ada mahasiswa yang belum masuk UTS saja sudah menunjukan bendera putihnya karena tak mampu dengan tugas-tugas. Ihwalnya juga beragam beberapa seperti yang disebutkan tadi, rupanya Asissa juga membaca fenomena tersebut dan ia pun menelurkan tulisan yang layak untuk diapresiasi dan dibaca.
Membaca tulisan Asissa dengan pembukaanya;
“Menginjak delapan belas tahun merupakan tahap dewasa yang sempurna, dihadapkan dengan sejuta pilihan yang bergurita, kuliah atau Kerja? dibiayakan atau membiayakan? menjadi investasi orang tua atau bantu mengepulkan asap dapur? Sudah selesai permasalahan satu tentakel, masih ada banyak lagi yang perlu dituntaskan, Universitas atau Institut? Bergengsi atau beragama? menurut inginmu atau sabda orang tuamu?”

Baca Juga:  Akademi Riset IAIN Pontianak

Adalah ia dengan jiwa mudanya. Bertemu langsung dengan Asissa, ia adalah diksi-diksi yang dicari.

Selamat atas niat tulus yang membuahkan hasil, selamat dengan identitas mahasiswanya, selamat menjadi keluarga besar IAIN Pontianak. Terima kasih untuk pertemuan penuh kesan.

Written by Farninda Aditya

Dosen di IAIN Pontianak. Anggota aktif ADLIBI. Pembina Kalbar Membaca. Menulis buku berjudul; 1) Penamaan Orang Melayu Mempawah, 2) Mengulik Bahasa di Kalimantan Barat, dan 3) Puisi Sebelah Tangan.

ADLIBI Launching Buku “Aku Cinta IAIN Pontianak”

Pelatihan Produk Halal Bagi UMKM di Desa Sebubus oleh Tim Matching Fund Kedaireka Polnep