in

Pasir Putih, Pantai Indah di Selatan Kalbar (2)

pasir putih pantai indah 2

Oleh: Yusriadi

Hamparan pasir putih luas terbentang di sela-sela pohon di pantai. Batas biru menggaris pandang. Nun di langit yang juga biru setumpuk dua awan putih menggelayut memberikan variasi pada lukisan ilahi yang tersaji.

Angin bertiup pelan. Sekadarnya. Mengusir bahang panas siang itu.
Beberapa pondok tempat bersantai disediakan. Ukurannya variatif.
Kawan-kawan melangkah mendekati batas pondok. Mulai meninting spot yang terbaik.
Satu…dua… tiga… Gaya diperlihatkan. Lalu diabadikan dengan kamera. Ada jempol diangkat, dua tangan vis di depan dada, atau cekak pinggang. Senyum diperlihatkan.
Matahari di atas kepala memberi kontras. Matahari juga membuat para aktor yang sedang bergaya meringis atau menyipitkan mata.

Saya hanya berfoto sesaat. Mengikuti kawan-kawan yang pegang kamera. Saya tidak bisa lepas seperti biasa—mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Kali ini hape sedang drop karena itu tidak bisa mengambil angle foto yang unik. Padahal, banyak sekali objek atau tepatnya kombinasi objek yang menarik diabadikan dan bisa dipakai untuk berbagai keperluan di kemudian hari.

Baca Juga:  Aksi Nyata

Selebihnya saya duduk di sebuah pondok. Sidiq memesan minuman. Teman-teman lain bergabung di pondok kemudian.

Septian datang membawa sebuah bola. Bola basket yang sudah lumus.
“Main bola yuk,” ajaknya.

Kami semua—kecuali seorang lelaki, menyambut ajakan itu dengan semangat. Main bola di pantai jelas sekali sangat-sangat seru. Apalagi ini pasirnya landai dan luas.

Latihan ringan dimulai. Baku tunjuk atraksi. Mula-mula di pasir dekat gigi air. Tetapi, karena lokasi terlalu luas, kawan-kawan sering ‘repot’ mengejar bola liar.Lagi pula pantai dirasakan terlalu panas.

Kami memilih main di sela-sela pohon. Meskipun tidak seluas pantai, tetapi, lumayan juga.
Gawang kecil dibuat. Tiangnya dari sandal.

Para pemain dibagi. Empat lawan empat. Sidiq, Jaka, Septian dan Izam. Saya, Rahman, Rafi dan Tomi. Kami main dengan seru.

Mungkin lebih setengah jam kami bermain bola. Dua teman sudah nampak kelelahan. Tangan bersitumpu di pinggang. Kadang juga di lutut.

Permainan selesai. Nafas diredakan. Panas badan didinginkan.

Tapi cara menikmati pantai belum selesai. Kami memilih mandi di laut. Bergabung dengan dua anak, yang kemudian saya tahu mereka dari Kedukul Sanggau, yang sudah mengarung air asin jernih, sejak tadi. (Bersambung).

Baca Juga:  Paling Tidak, Jangan Jadi 'Peng-endorse Kematian'

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

bendera setengah tiqang

28 Juni Bendera Setengah Tiang: Tanda Kalbar ‘Berdjoeang’

keberagaman itu taman bunga indah 1

Mewujudkan Kerukunan dalam Keberagaman