in

Puasa Cinta

Oleh : Eka Hendry Ar*

Kualitas berpuasa seseorang memiliki gradasinya mulai dari puasa lahir dan puasa bathin (atau puasa ruhani/puasa thariqat). Atau gradasi dari puasa keharusan, puasa pengharapan dan puasa cinta. Masing-masing gradasinya memiliki kualifikasi yang berbeda satu dengan lainnya. Puasa lahir atau jasmani, adalah sekedar menahan makan, minum dan menahan nafsu biologis. Sedangkan puasa bathin yaitu menahan dari segala dosa bathiniah seperti iri dengki (hasad), takabur (jumawa), ghadab (marah) dan karâhiyah (kebencian). Tentu saja puasa lahir jauh lebih mudah dibandingkan puasa bathin (ruhani), karena puasa bathin kualifikasinya berurusan dengan menahan (imsak) dan mengendalikan keburukan yang lebih halus dan samar, sehingga kadang tiada disadari keberadaannya. Mereka yang tidak dapat mempuasakan bathinnya, ini yang disebutkan oleh hadits Nabi Muhammad SAW, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga. Berapa banyak orang yang menjalankan qiyam lail yang tidak mendapatkan apapun dari qiyamnya itu, kecuali kelelahan dan bergadang”. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad dari Abu Hurairah)

Untuk memahami dua bentuk puasa di atas, kiranya kita perlu menjabarkan lebih lanjut, derajat pencapaian puasa seseorang. Secara umum dapat dibagi ke dalam tiga level, yaitu puasa keharusan atau kewajiban (fasting due to obligation), puasa pengharapan (fasting for reward) dan puasa cinta (fasting for love).

Puasa kewajiban adalah menjalankan ibadah puasa semata berdasarkan kesadaran bahwa puasa adalah perintah syari’at yang wajib dijalankan, jika tidak maka akan berdosa. Biasanya pada derajat ini, puasa dilaksanakan sebatas untuk membebaskan dari kewajiban semata.

Kemudian pada level pengharapan, puasa bukan semata kewajiban akan tetapi puasa memberikan pengharapan berupa ganjaran yang berlipat ganda. Orang menjalankan puasa dan berbagai ibadah di dalamnya dengan ikhlas dan gembira, karena mereka meyakini akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Motif dibalik ketekunan beribadah semata ingin mengharapkan ganjaran pahala dari Tuhan. Ini tidak ubah seperti puasa anak kecil atau pedagang yang hanya mengharap untung atau hadiah.

Sedangkan, level puasa cinta, dimana puasa bukan lagi sebatas kewajiban, tidak lagi mengharapkan semata ganjaran, akan tetapi puasa adalah cara seorang kekasih mengunggkapkan mahabbahnya kepada yang terkasih.

Level pertama dan kedua di atas, tidaklah buruk, bahkan sangatlah baik. Di mata Allah SWT boleh jadi level seorang hamba yang dhaif di mata manusia, dengan keawamannya dan pengharapannya membuat mereka menjadi lebih sempurna ketimbang mereka yang merasa sudah mendapatkan level puasa cinta. Karena Allah maha tahu tentang isi dada seseorang. Berpuasalah sesuai dengan level kemampuan kita, sembari memperbaiki kualitas derajat puasanya. Maulana Jalalludin Rumi berkata, ”Datanglah kepada Tuhanmu dengan berjalan maupun merangkak, meskipun kau datang dengan membawa uang palsu, Ia akan tetap menerimamu”. Bukankah para Nabi juga masih berharap “upah” dari Allah SWT, seperti dapat dibaca pada ayat-ayat berikut (Qs. 10:72; 11:28-29, 50-51; 26;106-109,123-127; 142-145).

Sebaliknya, jangan jumawa mengklaim diri telah mencapai puasa cinta (mahabbah) kepada Allah jika kita tidak memahami hakekat dari cinta tersebut. Karena cinta tidak sekedar ucapan, ia membutuhkan bukti. Merugilah mereka yang termakan oleh janji-janji manis, sehingga dibutakan mata dzahir dan mata bathinnya.

Cinta kepada Allah SWT bukan sekedar deklarasi lisan, akan tetapi harus dibuktikan kesejatiannya dengan ketaatan. Seperti dinyatakan Allah SWT dalam Qs. Al Imran: 31. “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Artinya, seseorang tidak bisa mengklaim dirinya sudah pada level mahabbah, sepanjang mereka tidak dapat membuktikan cintanya kepada Allah. Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti jalan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Apa sebenarnya hakekat dari cinta. Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in (terj.cet.11., 2013:421) bahwasanya cinta adalah santapan hati, makanan ruh dan kesenangan. Cinta adalah kehidupan, sehingga orang yang tiada cinta berarti mati. Cinta adalah cahaya, jika tiada cinta maka ia ibarat mengarungi gelap gulita. Cinta adalah obat yang menyembuhkan, jika tiada cinta maka hatinya dipenuhi penyakit. Jadi dapat disimpulkan cinta adalah energi yang mengenyangkan hati, memberikan kehidupan, menjadi penerang dan sekaligus obat dari berbagai penyakit (baik fisik maupun psikis).

Secara lebih rinci lagi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah (terj.cet., 2013 : 423) kata mahabbah mengandung lima pengertian, sebagai berikut: Pertama, putih dan cemerlang, seperti kata hababul-asnan (gigi yang putih); Kedua, Tinggi dan tampak jelas, seperti habbabul-ma’i wa hubabuhu (banjir karena hujan deras); Ketiga, Teguh, kokoh tidak tergoyahkan, seperti habbal-ba’ir (unta yang sedang menderum, tidak mau bangkit); Keempat, Inti dan relung habbatul-qalbi (relung hati) dan Kelima, menjaga dan menahan seperti kata hibul-ma’i lil-wi’a’ (air yang terjaga dalam bejana). Dengan demikian dapat dikatakan cinta harus putih bersih (tulus), tinggi menjulang, kokoh seteguh karang, menggetarkan jiwa serta senantiasa terjaga kemurniannya.

Orang-orang yang berpuasa dalam konteks mahabbah adalah mereka yang berusaha membuktikan bahwa mereka mencintai Tuhannya. Karena puasa diserukan kepada orang-orang yang beriman, sementara orang-orang beriman adalah dari kelompok yang sangat mencintai Allah SWT. Sebagaimana tertuang dalam Qs. Al Baqarah: 165 berikut: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (Qs. Al Baqarah:165) Orang-orang yang dapat mewujudkan kecintaan kepada Allah, termasuk mencintai hamba Allah karena Allah akan mendapatkan manisnya buah keimanan. Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik RA, berkata Rasulullah SAW bahwa, “Tiga perkara, siapa yang apabila 3 perkara ini ada padanya, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada (cintanya kepada) selain keduanya, dia mencintai seseorang dan tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia benci dilemparkan ke neraka”.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana kita mengartikulasi nilai-nilai puasa mahabbah ini dalam kehidupan sehari hari, sebagaimana berikut:

Pertama, puasa dilaksanakan secara tulus (putih cemerlang) mengharap Ridha Allah SWT., dengan cara memasrahkan diri secara total kepada Allah. Al Junaid dalam suatu kesempatan dialog tentang cinta yang dilaksanakan di Makkah, ditanya tentang cinta. Al-Junaid sambil menundukkan kepala menangis berkata: “Cinta adalah jika seorang hamba lepas dari dirinya, senantiasa menyebut nama Rabb-nya, memenuhi hak-hak-Nya, memandang kepada-Nya dengan sepenuh hati, seakan hatinya terbakar karena cahaya ketakutan kepada-Nya, yang minum dari gelas kasih sayang-Nya dan Allah menampakkan Dirinya di balik tabir kegaiban-Nya. Berbicara atas pertolongan Allah, berujar dari Allah, bergerak atas perintah Allah, jika dia beserta, dari, bersama dan milik Allah”. (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, terj.cet.11, 2013 : 426)

Kedua, puasa menjadi tameng atau perisai (al Junnah) menghadapi hawa nafsunya. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa, “Puasa adalah tameng dari perbuatan keji dan kejahilan”. (lihat hadits lengkapnya dalam Shahih al-Bukhari, fadhl ash-Shaum, 1795). Diantara sumber dari kekejian adalah hawa nafsu manusia itu sendiri. Syekh Abdul Qasir Al-Jailani dalam Kitabnya Adab as-Suluk wa at-Tawasuul ila manazi al-Muluk mengatakan bahwasanya nafsu adalah khalifah, mata-mata dan antek-antek Setan. Ia adalah musuh Allah SWT dan juga musuh manusia (terj. Cet. 1, 2010:241). Oleh karena menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Kitabnya Jala’ al-Khattir (terj.cet.1, 2013:198) hendaklah orang-orang yang berpuasa, tidak hanya menahan makan dan minum, akan tetapi juga mempuasakan pendengaran, penglihatan, kedua tangan, kaki, semua anggota badan dan hatinya. Kemudian, meninggalkan segala perbuatan dusta, ghibah, namimah, kesaksian palsu dan terlebih lagi jangan sampai mengambil harta orang lain karena kelobaan.

Ketiga, Puasa melahirkan getaran dan kerinduan yang kuat kepada yang dicintai. Sehingga tidur sekalipun mereka sulit, lambungnya jauh dari pembaringan, karena ada keresahan dan kekhawatiran tidak berjumpa sang Kekasih. Setiap waktu seakan berharga, karena kerinduan yang mengebu-gebu hendak bertemu Kekasih. Sampai kadang mereka tertidur dalam kelelahan. Mereka sibuk menghisap (muhassabah) dan menimbang aib dan tumpukan dosanya sendiri, merendah hinakan diri di hadapan Kekasih, karena takut tidak mendapatkan ridha-Nya (Qs. Al Isra’: 13-14). Ummar bin Khattab RA berkata, “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisap, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkan amal”. Perkataan Umar selaras dengan perkataan Nabi Muhammad SAW., “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisap Allah SWT kelak. Bersiaplah menghadapi hari perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya, hisab pada hari kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu mnghisab dirinya di dunia”. (HR. Turmudzi). Puasa cinta membuat kita lebih banyak meluangkan waktu bersama Sang Kekasih, dengan sibuk mengoreksi diri, mengikis jelaga yang menyelubung hati, dan menimbang betapa banyak dosa yang telah dilakukan. Sehingga dengan demikian, tidak ada lagi waktu untuk melihat kesalahan orang lain, apalagi mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain.

Keempat, puasa membentuk akhlak manusia menjadi lebih baik, baik akhlak kepada Allah, kepada Rasulullah maupun kepada sesama hamba-Nya. Dalam sebuah riwayat, pada masa Nabi Muhammad SAW, ada seorang perempuan yang memaki-maki pembantunya. Kabar itu sampai ke telinga Rasulullah SAW. Kemudian Nabi memanggil wanita tersebut, kemudian beliau berkata kepada perempuan tersebut, “Makanlah kamu”. “Aku sedang berpuasa ya Rasulullah”, jawab wanita tersebut. Nabi menjawab, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa, tetapi kamu menyakiti sesama hamba Allah”. Artinya nilai puasa seseorang rusak seketika, ketika tiada akhlak pada dirinya, meskipun lapar dan haus dirasakan. Allah sangat keras mengutuk orang yang mendzalimi dan menyakiti diantara hamba-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman bahwa, ”Sudah menyatakan perang kepada-Ku orang-orang yang menyakiti hamba-Ku yang Mukmin”. (Jalaluddin Rahmat,tt.: 296) Bahkan, Allah mengancam orang-orang yang dzalim kepada hambanya, untuk tidak mendatangi tempat-tempat peribadatan, karena Allah akan melaknatinya. “Katakan kepada orang-orang dzalim, jangan datang ke tempat peribadatan-Ku, karena setiap kali dia menyebut nama-Ku, Aku melaknat dia”, hadits Qudsi Allah SWT. (Jalaluddin Rahmat, tt.:298).

Kiranya inilah penjabaran praktis dari konsep puasa cinta (mahabbah), tentu sebuah kriteria yang tidak mudah, sehingga hanya hamba-hamba yang beruntungah yang mendapatkan puasa tersebut. Namun bagi kita yang dhaif ini, sekiranya kita bisa mulai berlatih, dari sekedar puasa lahir, perlahan mempuasakan bathin kita (puasa thariqat/ruhaniah) terutama dalam hal menjaga lisan, hati, sikap dan perbuatan, agar jangan sampai melukai orang lain. Terlebih tidak ada alasan syar’i yang mendesak untuk melakukakannya. Perlahan demi perlahan, mari memperbaiki akhlak kita, belajar menghargai orang lain, mengasihi mereka yang lemah, mencintai sesama hamba Allah, banyak introspeksi diri, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Wa Allah a’lam bi shawab.(*Direktur Rumah Moderasi IAIN Pontianak/ Ketua Bidang Keilmuan, Riset dan Perguruan Tinggi KAHMI Wilayah Kalbar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Written by teraju.id

Salah Borong 2 Gol, Liverpool Puncaki Klasemen

25 Tahun MABM, Sinergi dan Kolaborasi Kunci Membangun Kalbar