in

Puasa, dalam dan untuk Keprihatinan

Oleh: Yusriadi

Hari itu menjelang bulan puasa, saya bertemu seorang teman. Panjang cerita, kami terbicarakan tentang ruih rendah suara di tengah masyarakat sekarang. Antri minyak goreng dan solar jadi topik panjang lebar.

Saat ini, ruang publik memang terisi suara dan keluhan tentang kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Keluhan soal harga barang yang naik, barang-barang kebutuhan yang langka, kebijakan publik yang terkesan parsial, hingga politik dan ketidakpastian.

Tidak jelas mana yang benar dan mana yang tidak benar. Tidak pasti mana data dan mana opini. Tak terang, mana yang hoaks dan bukan.

Terlalu kompleks. Makanya, bisa pening dibuatnya.
Lalu?

Alhamdulillah. Pembicaraan terputus dan beralih pada hal lain. Kami tidak lagi membicarakan hal berat, hal yang bisa membuatnya geram.

Kadang kala memang kita tidak bisa menahan diri. Kita tetap tertarik untuk membicarakan sesuatu yang kita tidak mampu memahaminya dengan baik. Kita membicarakan sesuatu yang tidak mampu kita selesaikan, karena wilayah-wilayah itu adalah wilayah kerja orang lain.
Kiranya, menjadi selalu relevan bagi kita usaha untuk menahan diri. Pelatihan sebulan sekali dijalani, agar kesadaran batin tetap tumbuh.

Baca Juga:  Puasa Mengasah Autentitas Kesholehan

Ya, ketika kita menjalani puasa, hakikatnya adalah mengikuti perintah Allah: menahan diri dari hawa nafsu. Menahan diri dari banyak hal yang pada keadaan biasa, dibolehkan.
Semoga tidak dianggap berlebihan jika kita mengusahakan diri untuk menahan sementara mengkonsumsi jenis makanan tertentu yang sedang mahal-mahalnya. Apalagi jika kita masih memiliki pilihan.

Misalnya, soal minyak goreng. Jika minyak goreng sedang langka, maka mari sementara menahan diri dari makanan atau panganan yang dimasak dengan menggoreng. Masih ada pilihan memasak dengan cara membakar atau merebus.

Jika di bulan puasa kita terbiasa berbuka dengan gorengan, maka saat ini, mari memilih jenis panganan kukus, dan sejenisnya. Malahan, pilihannya panganan buka puasa lebih banyak lagi.
Soal enak tidak enak, adalah soal rasa. Soal yang bisa disesuaikan. Enak tidak enak itu tergantung “kita”, kita yang mengatur soal selera kita. Toh, dengan dan melalui puasa kita memang sedang berlatih mengontrol rasa dan membatasi selera.

Jika keprihatinan hidup adalah momok, maka senyampang dengan puasa sekarang, mari jadikan keprihatinan itu adalah sebagai ujian bagi keimanan dan amal kita. Mari kita jalani keprihatinan itu dan menunggu hikmah dan barakah Allah di baliknya. Mari kita percayai bahwa keprihatinan adalah jalan terbaik yang Allah berikan untuk kita, saat ini, dan kebaikannya akan kita dapatkan setelah kita “menikmatinya”.

Baca Juga:  Puasa Bocah

Insyaallah, keprihatinan dan kekurangan yang kita hadapi, kita terima dengan lapang dada. Kita tetap bersyukur dengan kehidupan yang sudah kita terima. Semoga kita menjadi orang yang bertaqwa. (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Sejarah Tarawih 8 Rakaat di Mujahidin

Poksi Pedjoang Salurkan Bantuan Rumah Amal Salman ITB