in

Saya Tak Menyesal Memilihnya, Tapi Merasa Sangat Berdosa

demokrasi

Terkait ‘kinerja’ Jokowi hari ini, saya menduga 2 kemungkinan yang melatar-belakanginya.
Pertama, beliau terjerat ‘jebakan Batman,’. Kondisi yang menyebabkannya tak berkutik. Selain mengikuti kehendak ‘alam’ di sekitarnya. Lingkungan yang tak terelakkannya lagi memasung, bahkan menggiringnya dengan beringas, ke wilayah-wilayah yang bertolak-belakang dengan segala citra yang dibangun tentang sosok dirinya semula.

Saya kira, tak ada penjelasan memadai untuk membenarkan segala kemunduran yang kita hadapi hari ini. Terkait cita-cita dan harapan yang membayang di benak bangsa ini, saat Gerakan Reformasi bergulir 23 tahun lalu dan meruntuhkan kekuasaan Orde Baru.

+++

Kemungkinan kedua adalah, memang agenda pribadinya sendiri. Hal yang hanya dia, setan, dan Tuhan yang tahu.

Sulit menduga, bahkan sekedar mengasumsikan. Jokowi tak merasakan keresahan yang mengemuka dan berkembang luas di tengah masyarakat seperti saya, hari ini. Mulai dari kemunduran luar biasa dalam kerja dan upaya pemberantasan korupsi. Kesemena-menaan dan sikap kekuasaan yang semakin represif. Suburnya perpecahan di tengah masyarakat. Hingga ‘pengkhianatan’ terbuka terhadap cita-cita desentralisasi kekuasaan dan otonomi daerah yang sesungguhnya.

+++

Saya telah sampai pada kesimpulan, tak penting lagi alternatif mana yang sesungguhnya terjadi. Salah satu di antara 2 pilihan di atas.

Tapi yang saya amat sayangkan — sekaligus tak mampu memakluminya — Jokowi tak kunjung rela mengorbankan kepentingannya yang sangat personal. Yakni kehilangan dukungan dari mereka yang berada di sekitarnya. Tapi menyebabkan dirinya tercitra, atau dicitrakan, ‘berkhianat’ terhadap citra yang dulu dipamerkannya dan membuat banyak pemilih dia, termehek-mehek.

Saya tak menyesal memilihnya kemarin. Tapi saya merasa sangat berdosa. Walau apa yang saya rasakan, sebagaimana mungkin jutaan yang lain, kemungkinan tak pernah diketahui maupun disadarinya.

Mulai hari ini saya menyingkirkannya dari pembahasan apapun. Sudah selesai. Walau mungkin harus bersabar. Menantinya berakhir seperti yang lain. Seperti Suharto, Mega, atau SBY.

Mardhani. Jilal — 22 Mei 2021

Written by teraju.id

UAS dan Cak Nun

Setelah 25 Tahun Mengagumi, Akhirnya UAS bertemu Cak Nun di Jombang

bhinneka tunggal ika

Kokohkan Persatuan Dalam Perbedaan