in

Sultan Hamid Berjuang untuk Indonesia Meski Kehilangan Dua Mahkota

Ratu Mas Mahkota dan Mahkota Kesultanan Qadriyah

Hamid mengalami pelanggaran HAM dengan dikriminalisasi hukum atas penahanannya 3 tahun menunggu peradilan kasus makar Pemberontakan APRA, maupun pemenjaraannya sepanjang 1962-1966 sebagai tahanan politik tanpa diadili sama sekali. Hamid baru bebas ketika terjadi G-30-S-PKI di mana akhirnya Soekarno dilengserkan pada Sidang Umum MPR sekaligus MPR mengangkat mandataris Letjen Soeharto sebagai Presiden RI ke-2. Orla berganti kepada Orba. Hamid bebas, dan sejak saat itu memilih jalan profesional di bidang swasta sampai akhir hayatnya, 30 Maret 1978.

Bulan madu Orba juga tidak bertahan lama. Sultan Hamingkubuwono sebagai Wapresnya Soeharto 1973-1978 pun tidak tahan ala diktatorian. Dengan jabatannya sebagai Wapres lebih memilih mengundurkan diri karena sudah tidak bisa membenarkan kepemimpinan Soeharto. Demikian pendapat Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Ma’arif.

HB-IX lebih memilih kegiatan kebudayaan di Kesultanan yang dipimpinnya di Yogyakarta. HB IX kemudian wafat karena sakit di RS Washington DC, AS, tahun 1988.

Sekarang mari kita jujur melihat profil Hamid sebagai pahlawan bangsa dibandingkan dengan Tan Malaka, Muhammad Yamin, Muhammad Natsir, Syafrudin Prawira Negara yang juga diangkat sebagai pahlawan nasional, padahal mereka semua pernah dipenjara karena tuduhan makar kepada negara Indonesia. Apakah ada diskiminasi hukum atau menunggu kearifan dan penggunaan hak pregrogatif Presiden RI?

Kini semua terang-benderang. Juga semua terpulang kepada Presiden RI Joko Widodo di mana TP2GD Kalbar sudah mengusulkan agar pahlawan bangsa ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Yakni sejak tahun 2016 di mana lembaga negara juga sudah mengakui peran Sultan Hamid, masing-masing Setneg (2012), Kemenlu RI (2012) Kemendikbud (2016), dan Kemenristek-Dikti (2016).

Data kebaikan Sultan Hamid tak terperi bagi Bangsa Indonesia. Sutan Syahrir pun mengakuinya kala menderita stroke di masa tahanan politik akibat Peristiwa Ngaben. “Penilaian saya selama ini keliru terhadap Hamid. Ternyata dia orang yang sangat baik,” begitu kata Syahrir dalam biografi Hamid Algadrie.

Hamid orang baik, sabar, ikhlas dan kesatria. Ia lebih dulu memaafkan Soekarno atas segala kesalahan semasa pertemanannya sesama founding fathers Indonesia. Hamid membesuk Soekarno menjelang akhir hayat Sang Proklamator pada Juni 1970. Ia memangku dan membawanya berzikir ilallah. Peristiwa ini ditulis Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie dan dimuat dalam memoar 100 tahun Bung Karno.

Jiwa nasionalisme Hamid dapat disaksikan dalam video pidato HUT Kemerdekaan RI di Amsterdam, Belanda, 1949. Juga dalam Konferensi Inter Indonesia 1 dan 2, hingga KMB. Bagi pembelajar sejarah Hamid II Alkadrie adalah Pahlawan Bangsa. Sebagai pembanding, TB Simatupang yang berseberangan pikiran dengan Bung Karno tak mau menemuinya sampai Bung Karno wafat telah ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional. Begitupula HB-IX serta Hatta. Lalu kini kita sadar, sudah saatnya Sultan Hamid II Alkadrie juga ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional. *

Written by teraju.id

terkam polnep

Terkam kembali Menerkam

Hamid Family

Relasi Hamid Family dengan RI