in

Takir Suro di Sidodadi

Takir Suro di Sidodadi


Oleh: Zainal Aripin

Bulan Suro atau bulan Muharam merupakan waktu perayaan sedekah bumi. Tradisi ini sudah dilakukan oleh masyarakat Jawa di Sidodadi kecamatan Sejangkung, Sambas sejak 39 tahun lalu. Mayoritas penduduk di sini bersuku Jawa, sebagian suku Sunda. Mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil beragama Katolik. Tadisi sedekah bumi tidak hanya dilakukan oleh orang Jawa yang beragama Islam saja. Tapi seluruh warga Sidodadi. Jawa, Sunda, Islam maupun Katolik. Tanpa pilih suku dan agamanya apa. Sedekah bumi dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharam atau dalam istilah lain menyambut satu Suro. Dalam istilah masyarakat Jawa Sidodadi perayaan menyambut tahun baru 1 Muharam atau satu Suro disebut mapak tanggal.

Dalam tradisi sedekah bumi di Sidodadi ini ada takir Suro. Takir, saya baru mendengar kata itu. Walaupun saya sering bergaul dengan orang-orang Jawa. Sebelumnya, apa itu benda dan apa maknanya saya tidak tahu. Saya bertanya pada orang Jawa yang mengerti tentang arti dan makna takir Suro. Maklum, bentuk rupa pun baru melihatnya. Sedangkan kata Suro sering saya mendengarnya. Tapi, tidak tahu persis arti dan maknanya dalam bahasa Jawa.
Dulu semasa di bangku sekolah, saya pernah menonton cerita Sundal Bolong. Sundal Bolong jadi sosok wanita cantik. Menikah malam satu Suro di tengah hutan. Dari itulah saya tahu dengan kata Suro.

Ada yang menarik dalam tradisi ini. Mengandung arti dan sarat makna antara takir dan Suro. Takir adalah wadah nasi berbentuk persegi empat terbuat dari daun pisang. Takir bisa dibuat dalam bentuk lain. Seperti takir plontang. Takir plontang terdapat beberapa arti. Ada yang mengartikan takir plontang dengan tempat nasi dari daun pisang persegi empat dihiasi daun kelapa muda diikat seperti pita pada takir. sehingga lebih dari satu warna. Namun ada juga yang mengartikan takir berarti tempat nasi sedangkan plontang adalah benda lebih dari satu warna. Kesimpulannya, tempat nasi yang dihiasi dan lebih dari satu warna atau berwarna-warni.

Takir bisa saja dibuat dari bahan-bahan yang lain. Daun pisang dipilih karena pada prinsipnya selama masih ada daun dan hidup segar artinya rezeki masih ada. Tidak pernah putus dan ada harapan mendapatkan rezeki. Selain itu, daun dipilih karena daun sangat sederhana dan semua orang pasti bisa mendapatkannya. Sederhana dan tidak pemborosan. Boros itu tidak baik dalam ajaran agama. Pepatah bijak mengatakan hemat pangkal kaya. Semoga dengan hidup hemat rezeki makin bertambah dan limpah ruah. Terlalu hemat juga jangan. Supaya kita tidak menjadi kikir. Jadilah yang dermawan, untuk saling berbagi. Agar orang lain bisa merasakan rezeki yang kita punya. Demikian sebaiknya jika saling berbagi sedikit banyak kita juga bisa merasakan apa yang didapati orang lain. Suro dalam bahasa Jawa bermakna susur roso berarti saling tukar makanan yang dibawa pada sedekah bumi. Saling berbagi rasa. Mencicipi rezeki berupa jamuan makanan dari orang lain. Demikian sebaliknya kita pada orang lain.

Masyarakat datang berbondong-bondong ke tempat tradisi sedekah bumi dilakukan. Mereka membawa hasil bumi yang telah didapat dalam bentuk makanan jadi. Nasi lengkap dengan lauk pauk dimasukkan dalam takir. Mereka datang silih berganti membawa nampan berisi nasi takir dengan terbungkus kain. Setiba di tempat tradisi dilaksanakan, nasi takir dikeluarkan satu persatu. Kemudian disusun berjejer.

Masing-masing orang tidak ditentukan jumlahnya. Biasanya setiap orang membawa nasi takir berdasarkan jumlah anggota keluarga di rumah. Contoh misal, bila satu rumah berjumlah empat orang maka nasi takirnya empat buah. Tapi, bisa juga lebih dari itu. Bisa enam, delapan dan seterusnya. Tergantung kemampuan dan kemauan masing-masing. Lauk pauknya juga terserah. Masing-masing orang bervariasi. Makanan-makanan itu dikumpulkan dan didoakan bersama.

Setelah doa dibacakan, orang-orang disilakan makan nasi takir. Makanan sudah disusun dan dihidangkan oleh panitia ketika orang-orang datang mengantarkan nasi takir satu per satu. Mereka bebas memilih dan mengambil makanan. Saling merasakan masakan satu sama lain. Mau makan punya orang lain boleh. Punya sendiri apalagi. Intinya saling bertukar rasa satu sama lain. Makanan dimakan bersama secukupnya. Selesai makan, masing-masing orang yang telah mengantarkan nasi takir mengantarkan kembali nampan kosong mereka pada panitia. Takir-takir dibagikan oleh panitia ke setiap orang yang datang. Panitia mengisi kembali nampan wadah pengantar nasi takir dengan nasi takir. Setelah diisi, dikembalikan lagi pada pemiliknya yang telah menunggu.

Biasanya sedekah bumi dilakukan di lapangan menjelang sore hari. Tapi, sedekah bumi kali ini dilaksanakan malam hari. Berbeda dari sebelumnya. Berdasarkan informasi, baru kali ini sedekah bumi dilaksanakan malam hari atau malam satu Suro. Terjadinya perubahan waktu sedekah bumi dari sebelumnya bukan tanpa alasan. Diantaranya, bersamaan dengan dzikir manaqib.

Semoga dengan adanya sedekah bumi rezeki masyarakat Sidodadi semakin bertambah banyak berkah dan bermanfaat agar bisa terus saling berbagi satu sama lain. Amiin. (*)

Written by teraju.id

taliban

Taliban adalah Taliban

flayer launching buku 100 ATI.1

Buku 100 Anak Tambang Indonesia Raih 2 Rekor MURI