in

Taliban adalah Taliban

taliban

Minggu-minggu ini, bulan-bulan ini, bahkan boleh jadi, bertahun-tahun ke depan, istilah Taliban akan kembali ramai muncul di website berita, di kolom-kolom komen medsos, dan lain-lain. Menyusul Taliban telah berhasil menguasai kembali Afganistan.

Dan komen-komen ini, tidak semua adil. Banyak yang kemana-mana, mengandung islamphobia, kebencian luar biasa kepada Islam (dari netizen yang justeru merasa dia paling toleran).

Ketahuilah, Taliban adalah Taliban. Tidak ada urusannya dengan 87% penduduk muslim di Indonesia.

Di Indonesia, perempuan bisa sekolah setinggi mungkin. Kamu datanglah ke pesantren-pesantren raksasa di segenap penjuru republik Indonesia. Jutaan perempuan muslim sekolah di sana. Saya datang ke pesantren di Jawa Timur, waah, anak-anak perempuan ini ada yang merantau dari Sumatera, Sulawesi, dan lain sebagainya. Mana ada rumusnya di Indonesia seperti Taliban. Melarang-larang anak perempuan sekolah. Melarang-larang anak perempuan merantau demi pendidikan. Beda.

Muhammadiyah, NU, dan organisasi Islam lainnya bahkan sejak berpuluh tahun lalu telah mendorong pendidikan bagi perempuan. Lihat Aisyiyah, Muslimat NU, mendorong perempuan muslim aktif berorganisasi. Itu fakta-fakta yang tidak bisa kamu bantah. Kecuali kamu memang tidak paham sejarah (untuk kemudian merasa paling ahli sejarah).

Baca Juga:  Mewujudkan Kerukunan dalam Keberagaman

Taliban adalah taliban.

Semua agama itu punya kelompok yang ekstrem sekali. Jangan tutup mata lah. Kamu tidak tahu? Itu berarti kamu kurang jalan-jalan, kurang berwawasan. Jangan-jangan kamu tidak tahu jika kasus menolak hormat bendera terjadi di banyak agama. Coba dicari kasus-kasus ini, nanti kamu malu loh. Jangan-jangan kamu juga tidak tahu, ‘WAHAI! JANGAN COBLOS PEMIMPIN YANG BEDA AGAMA! PILIHLAH YANG SE-AGAMAAAA!’ juga diteriakkan tokoh-tokoh agama lain, di mimbar rumah ibadah masing-masing. Kamu tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?

Indonesia itu jelas sekali adalah salah-satu tempat yang sangat toleran, bersahabat. Jangan diputarbalik, jangan kamu cuma sibuk bahas satu kasus, sibuuuuk sekali bahas kasus itu, hingga lupa kebaikan tetanggamu yang beda agama, kebaikan teman-teman kamu, kolega-kolega kamu yang beda agama. Kamu sibuuuk sekali membahas satu kasus, lupa bermilyar contoh toleransi di negara ini.

Mari jaga situasi dengan saling menghormati dan menyayangi. Dimulai dari hal-hal kecil. Misal, berhentilah kamu melepas komen-komen jahat, islamphobia di kolom-kolom komentar website berita, medsos, group whatsapp kelompokmu. Taliban adalah Taliban. Jangan kamu samakan dengan penduduk muslim di Indonesia. Duuh Gusti, bahkan penyidik KPK saja kamu ‘taliban-taliban’-kan, seolah mereka jahat sekali, lebih jahat dari koruptor yang mereka tangkapi. Jika kamu masih melakukannya, well, kamulah yang tidak toleran itu. Kamulah yang membahayakan toleransi di negeri ini.

Baca Juga:  “Pak, Tolong Benahi KPK!”

Dan netizen model begini, rumitnya sih, bahkan dengan agama sendiri saja jangan-jangan dia phobia. Netizen model begini, jangan-jangan tidak kenal tetangga kiri-kanan, dia hanya sibuk teriak paling toleran di medsos, paling bermoral di dunia maya, paling NKRI, paling Pancasila, ssstt…. nama RT/RW saja dia tidak tahu, tetangga sebelah tidak kenal. Tapi, tapi, tapi…. Itulah model mereka.

(Tere Liye, penulis novel ‘Negeri Para Bedebah’)

Written by teraju.id

buah durian

Ingat Namanya Durian Buaya

Takir Suro di Sidodadi

Takir Suro di Sidodadi