in

Vaksin Anak SD


Hari ini saya menemani Abang Yanda dan Adek Yura vaksin di sekolah. Minggu lalu pihak sekolah mengirimkan surat pernyataan persetujuan orang tua dan dimintai foto copy Kartu Keluarga. Kami setuju anak-anak divaksin. Ini salah satu ikhtiar dan agar anak-anak bisa segera kembali sekolah seperti sedia kala. Tatap muka full. Tentu saja kami orang tua merindukan mereka bisa sekolah normal. Abang dan Adek sudah protes setiap mereka mendapat giliran sekolah sift siang.

“Tak enak masuk siang, Dek mau masuk pagi jak”, tutur si adek, Yura. Abang Yanda juga mengatakan hal yang sama. Mereka berat untuk ke sekolah jika mendapat giliran sift siang.

Anak-anak juga antusias ikut vaksin, karena mereka berharap bisa ke sana-kemari seperti sedia kala. Bisa ke mall, pulang kampung, ikut ayah dan bunda pergi-pergi. Si adek nampak begitu siap, abang nampak sedikit gugup pagi tadi.

“Abang gugup, Bun… Sakit nanti tu”, kata Abang Yanda sepanjang jalan menuju sekolah.

“Tenang Bang, jarumnya kecil…badan abang kan besar. Sakit untuk sehat Bang…”, jawab saya. Sepanjang jalan mereka bertanya soal pengalaman bundanya vaksin dulu.

Baca Juga:  Vaksin Sambil Membayangkan Amplop

Sesampainya di sekolah kami registrasi dan masuk ke ruang tunggu (kelas). Menjelang jam 9 vaksinasi baru dimulai.

Kelas yang dijadikan tempat petugas medis mulai ramai. Tak lama setelah nama-nama anak dipanggil, terdengar teriakan dan tangisan beberapa anak, yang ternyata tidak siap divaksin (suntik).

“Tak mau suntik…”, kata salah satu anak di lapangan sekolah. Ada ayah ibunya yang tak menyerah untuk membujuk, tak lama ustadzahnya turun tangan. Tapi si anak tetap histeris dan menolak. Saya tak tau apa ending drama anak yang menangis di lapangan, karena harus masuk ruang tunggu lagi.

Saat nama abang dan adek dipanggil, anak-anak langsung cek suhu, tensi, timbang, ukur tinggi badan, ditanyai terkait imunisasi dasar lengkap saat bayi. Setelah itu masuk ke dalam ruang vaksin, di screening oleh 2 dokter.

“Sudah sarapan? Ada alergi obat? Pernah dirawat di rumah sakit? Pusing, tenggorokan sakit?”, dan beberapa pertanyaan lain. Saya tidak ingat persis.

Beberapa guru mendampingi, ada yang memberikan suport agar anak-anak tidak takut, ada juga yang standby mendokumentasikan momen vaksinasi.

Baca Juga:  Vaksin Sambil Membayangkan Amplop

“Abang Adek sudah siap kan? Are you ready?”, tanya saya pada mereka.

“No…”, jawab abang sambil nyengir, khas dia mencandai saya.

Abang sempat ragu saat melihat teman-temannya ada yang nangis dan berbagai macam ragam. Adek lebih strong, tak goyah. Mantap saat melangkah menuju kursi penyuntikan. Tak ada bunyi sedikitpun, wajahnya juga tenang-tenang saja saat disuntik. Tak menoleh atau minta dipegang bundanya.

Justru abang yang agak drama, sempat bilang takut. Minta peluk bundanya, sempat merengek dan meringis. Lanang yang agak nempel bundanya.

Masih banyak cerita di balik kegiatan vaksin pagi tadi. Semoga ikhtiar ini segera membawa hasil. Pemerintah memberikan izin pertemuan tatap muka full. Semoga anak-anak sehat walafiat selalu. Kita semua terjaga dari segala mara bahaya. Amin.

Written by Ambaryani

Ambaryani, Pegawai Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Buku berjudul; 1. Pesona Kubu Raya 2. Kubu 360 adalah buku yang ditulisnya selama menjadi ASN Kabupaten Kubu Raya

Bina Antarbudaya Terima Penghargaan Foreign Minister’s Commendation 2020 dari Pemerintah Jepang

In Memoriam Dr Aswandi: Dari Buku ke Buku