in

Warisan yang (Diharapkan) Elok

buku nan elok

Saya merasa lega ketika dummy buku “Warisan Kata yang Elok” bisa diselesaikan. Bagi saya, menyelesaikan buku ini agak rada-rada susah di tengah kesibukan yang tidak berbentuk.
Keinginan saya menerbitkan buku yang “terasa linguistiknya” muncul sejak lama. Bukan saja karena kebutuhan terkini tetapi juga sebagai bentuk panggilan batin dan profesi. Jika belum dipenuhi, hal ini serasa beban hutang.

Sebenarnya tulisan esai yang menjadi bagian dari buku ini sudah dibuat sejak beberapa tahun lalu. Hanya, tulisan itu masih berselerak dan belum dijahit menjadi satu kesatuan. Masih perlu beberapa esai lagi untuk menggenapinya. Alasannya, waktu untuk membuat tulisan yang digunakan untuk melengkapi bagian mozaik yang kosong, sering dianggap atau dibuat tidak ada..

Parahnya lagi, makin ke sini, saya merasa makin tidak bertenaga. Mengutip pengakuan seorang teman, kemampuan berkarya sudah menurun seiring bertambahnya usia. Membaca sudah kurang karena mata cepat kabur. Menulis juga sudah sedikit karena pinggang cepat pegal. Tambah lagi alasan teknis lainnya….

Baca Juga:  Tonel, Kata dan Makna yang Lama Tak Terdengar

Jadi, kehadiran buku ini seperti momentum “pecah bisul” dalam perumpamaan masyarakat Melayu. Wajar saja kalau saya merasa sangat lega. Dan bahkan sangat senang.
Rasa senang itu bertambah lagi dan menjadi suangat suenang –kata orang Jawa—ketika Bang Fahmi menunjukkan sampul buku. Desain cover warna biru, dengan huruf warna kuning dan variasi yang cantik, membangkitkan ingatan soal prinsip: Yang penting ada sampul. Buku dipandang dari sampulnya. Kalau sudah ada sampul, berarti buku sudah ada. Sudah cetak. Sudah bisa diperlihatkan kepada orang lain. Soal isi, menyusul kemudian. Soal mutu, itu urusan orang nomor 11, 12.

Oleh karena prinsip inilah maka masih terbersit asa bahwa ketika kemudian buku ini sampai kepada pembaca semoga –apa pun kekurangannya— tetap bermanfaat. Walaupun tidak semua bagian dari isi buku ini bermanfaat, minimal satu dua esai di dalamnya memberikan inspirasi kepada pembaca. Inilah yang saya harapkan dari buku “Warisan Kata yang Elok”. Insyaallah, berkah. (*)

Baca Juga:  Piantus, Desa Wisata Alam dan Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Potret banjir di Sintang by PDAM Senentang

Banjir Besar Landa Kalbar, Para Pakar Dorong Pendekatan Struktural dan Kultural

bpp singkawang.1

Penyuluh Pertanian dan Jajar Legowo