teraju.id, Masjid Kampus UGM— Di bulan Ramadan, Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi saksi kehadiran Anies Rasyid Baswedan dalam acara Ramadan Public Lecture (03/03).
Ceramah bertajuk “Apakah Pembangunan Infrastruktur Pendidikan dapat Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia?” ini menarik ribuan jemaah, dari mahasiswa hingga masyarakat umum. Masjid penuh sesak, bahkan banyak yang harus salat di luar– di bawah guyuran hujan. Antusiasme ini bukan hanya karena topik yang relevan, tetapi juga magnet pribadi Anies sebagai alumni UGM dan figur publik yang kerap memicu diskusi hangat.
Dalam ceramahnya, Anies menegaskan pentingnya infrastruktur pendidikan, baik yang bersifat fisik seperti fasilitas sekolah maupun non-fisik seperti kreativitas dan keberanian berpikir. “Pembangunan manusia tidak bisa selesai dalam lima tahun. Kalau ekonomi, infrastruktur bisa,” katanya. Namun, yang paling menyedot perhatian adalah sindirannya terhadap proyek Ibu Kota Nusantara, “Membangun itu cepat. Membangun bandara cepat, yang agak lama itu membangun ibu kota. Itu agak lama itu,” ujarnya, disambut tawa dan riuh jemaah.
Tidak sampai di situ, Anies juga menyinggung upaya-upaya mematikan demokrasi. Pertama, mengganti aturan main. “Kalau untuk mematikan demokrasi ada tiga juga caranya. Satu, ganti aturan main, benar enggak tuh?” beber Anies.
Sontak pertanyaan Anies diamini oleh para orang yang hadir di dalam masjid tersebut. Anies melanjutkan, cara efektif berikutnya mematikan demokrasi ialah dengan cara menyingkirkan lawan dari pertandingan. Cara mematikan demokrasi ketiga, ditambahkan Anies, ialah menguasai wasit.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi, terutama dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Sehari setelahnya, ia menuliskan di platform X:
Masjid tempat ibadah❌,
Masjid tempat sindir politik✅
Kritik ini membuka perdebatan lama: seberapa jauh tokoh politik boleh membawa agenda mereka ke tempat ibadah? Namun, tweet tersebut juga mendapat koreksi dari pembaca melalui fitur context note di X. Mereka menambahkan klarifikasi bahwa masjid tidak hanya digunakan untuk tempat ibadah, melainkan juga bersifat multifungsi, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadist sahih Muslim. Mereka menilai pernyataan Raja Juli sebagai bentuk disinformasi jika masjid hanya diperuntukkan sebagai tempat ibadah semata.
Respons publik pun terbelah. Di satu sisi, pendukung Anies menganggap ceramahnya sebagai bentuk kritik cerdas, seperti akun @OposisiCerdas yang membagikan artikelnya dan menyebutnya inspiratif. Namun, ada juga yang sinis, seperti @danu_budiyono yang menulis, “Pak @aniesbaswedan emng pinter berpidato, berargumen. Tapi apakah satunya kata dgn tindakannya, tidak jg. Move on pilpres aja blom bisa”
Tradisi Ramadan Public Lecture di UGM sendiri telah menghadirkan berbagai tokoh nasional seperti Mahfud MD dan Ganjar Pranowo. Namun, kehadiran Anies kali ini lebih berwarna karena nuansa politisnya, terutama dalam konteks sindiran terhadap IKN. Berbeda dengan pendekatan Ganjar yang lebih akademik, ceramah Anies seolah membawa arena perdebatan nasional ke dalam masjid.
Ke depan, kontroversi ini mungkin akan terus bergulir, terutama dengan keterlibatan Anies membentuk Gerakan Rakyat. Satu hal yang pasti, Ramadan kali ini bukan hanya menjadi momen refleksi spiritual, tetapi juga arena adu gagasan politik yang hangat.