Daya Beli Melemah, IHSG Terjun Bebas—Lampu Kuning bagi Ekonomi RI?

3 Min Read

teraju.id, Jakarta— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis sebesar 7,1%, mencapai level terendah sejak 2021, Selasa, 18 Maret 2025. Penurunan ini memicu penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah IHSG anjlok lebih dari 5%. ​

Turunnya IHSG saat bursa global justru menghijau adalah tanda jelas bahwa ada masalah spesifik di dalam negeri. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia sedang goyah—bisa karena kebijakan yang dianggap berisiko, lemahnya daya beli masyarakat, atau kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan negara.

Kekhawatiran investor terhadap melemahnya pengeluaran konsumen di Indonesia menjadi salah satu penyebab utama penurunan ini. Kelas menengah yang tertekan oleh kurangnya pekerjaan formal dan penurunan sektor manufaktur turut memperburuk situasi. Selain itu, kebijakan sosial ambisius Presiden Prabowo Subianto, termasuk program makanan gratis yang diperkirakan menelan biaya $28 miliar per tahun, menambah tekanan pada anggaran negara dan memicu langkah-langkah penghematan luas. ​

Di media sosial, netizen ramai mengomentari situasi ini. Seorang pengguna Twitter menulis, “IHSG anjlok lagi, investasi makin bikin deg-degan. Apa langkah pemerintah selanjutnya?” Komentar lain menyebut, “Kebijakan besar tanpa perhitungan matang bisa berdampak buruk pada ekonomi. Semoga ada evaluasi segera.”​

Para pengamat ekonomi juga angkat bicara. Brian Lee, ekonom dari Maybank Investment Banking Group, menyatakan bahwa meskipun bantuan sosial pemerintah dapat menjaga daya beli, pemulihan konsumsi diperkirakan lebih lemah dari yang diharapkan. Ketidakpastian ekonomi yang meningkat dan kekhawatiran akan pekerjaan akibat kompetisi dengan Cina menekan keinginan belanja masyarakat. Maybank pun menurunkan perkiraan pertumbuhan Indonesia tahun 2025 menjadi 5% dari 5,2%.

Bank Indonesia sebelumnya telah menurunkan suku bunga pada Januari untuk mendorong pertumbuhan, meskipun nilai rupiah melemah. Bank sentral juga menurunkan perkiraan pertumbuhan tahunan menjadi 4,7-5,5% dari sebelumnya 4,8-5,6%. Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menstabilkan ekonomi, namun tantangan eksternal dan internal masih membayangi.

Penurunan IHSG ini juga kontras dengan kinerja bursa saham utama Asia lainnya yang cenderung menguat. Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,5%, sementara Hang Seng di Hong Kong meningkat 0,3%. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa masalah yang dihadapi Indonesia bersifat domestik dan memerlukan perhatian khusus.

Dalam situasi yang penuh tantangan ini, investor dan pelaku pasar berharap pemerintah dan otoritas terkait dapat mengambil langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan dan stabilitas pasar. Transparansi kebijakan, komunikasi yang efektif, dan langkah-langkah proaktif diperlukan untuk menghadapi gejolak ekonomi saat ini.


Kontak

Jl. Purnama Agung 7 Komp. Pondok Agung Permata Y.37-38 Pontianak
E-mail: [email protected]
WA/TELP:
- Redaksi | 0812 5710 225
- Kerjasama dan Iklan | 0858 2002 9918
Share This Article