Malam itu Taufik Hidayat sebenarnya hanya ingin pulang. Ia baru selesai bekerja dan melaju menuju rumahnya di Ketapang. Jalan yang biasa ia lewati sudah berubah menjadi lorong api. Di kedua sisi jalan, lahan terbakar, sementara petugas berjaga di ujung jalan dan meminta pengendara putar balik.

Lima orang berhenti malam itu. Empat memilih mengikuti imbauan petugas, sementara Taufik tetap melanjutkan perjalanan. Mungkin ia ingin cepat sampai rumah. Ia tidak pernah sampai.

Kabut asap membuat pandangannya terbatas. Motor yang dikendarainya terjatuh dan Taufik kemudian pingsan di antara dua sisi api. Petugas baru menemukannya keesokan hari dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Motornya hangus, tergeletak di sisi jalan yang berbeda dari jasadnya. Taufik meninggal pada 4 Agustus. Kematian itu semestinya membuat cara kita melihat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat berubah. Karhutla bukan lagi sekadar cerita tahunan tentang udara buruk, sekolah diliburkan atau penerbangan terganggu. Karhutla bisa membunuh: manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dan tahun ini, tanda-tandanya datang dari banyak arah.

Asap Menutup Langit

Dari udara, batasnya terlihat jelas. Langit biru tiba-tiba berhenti, digantikan dinding asap pekat yang menutup pandangan bahkan sebelum pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Supadio.

Sepanjang akhir Agustus, jarak pandang pagi hari di Supadio hanya sekitar 400 sampai 800 meter. Jauh di bawah batas minimum yang dianggap aman untuk penerbangan. Satu penerbangan dari Jakarta bahkan harus berputar di udara sebelum akhirnya dialihkan ke Batam. Sejak pertengahan Agustus, sedikitnya 21 penerbangan pagi mengalami keterlambatan antara satu sampai dua jam. Masalahnya tentu jauh lebih besar daripada jadwal pesawat.

Sepanjang Januari sampai Agustus tahun ini, BPBD Kalimantan Barat mencatat lebih dari 38 ribu hektare lahan terbakar. Ketapang menjadi wilayah dengan luasan terbesar, lebih dari 12 ribu hektare, disusul Kubu Raya, Mempawah, Kayong Utara dan Sambas dengan 2.318 hektare.

Kalimantan Barat bahkan tercatat sebagai provinsi dengan titik panas tertinggi di Indonesia. Kalimantan Tengah, yang selama bertahun-tahun identik dengan kabut asap, kali ini berada di belakangnya.

Asap juga tidak mengenal batas negara. Kabut dari Kalimantan Barat menyeberang ke Sarawak. Di Serian, kota kecil Malaysia yang berbatasan langsung dengan Sambas, indeks pencemaran udara mencapai 436 pada akhir Agustus, angka yang masuk kategori berbahaya.

Sekolah di sana bahkan sempat ditutup lebih dulu daripada sekolah di Kalimantan Barat.

Saat Sungai Kapuas Menjadi Asin

Ada ironi lain yang muncul bersamaan dengan kebakaran. Di atas, langit menghitam oleh asap. Di bawahnya, Sungai Kapuas justru semakin asin.

Pontianak adalah kota yang hidup bersama Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Tetapi pada musim kemarau kali ini, sungai itu justru membuat warganya kesulitan mendapatkan air bersih. Hujan yang semakin jarang membuat debit air dari hulu turun. Ketika dorongan air tawar melemah, air laut dari muara memiliki ruang lebih besar untuk masuk ke sungai.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan persoalannya dengan sederhana. Di hulu tidak turun hujan, sehingga tekanan air dari sana pun mengecil.

Pada 27 Agustus, kadar garam dalam air baku Sungai Kapuas tercatat lebih dari 5.000 miligram per liter. Padahal ambang batas yang seharusnya hanya 300 mg/L. Air keran berubah payau. Di beberapa tempat bahkan terasa asin. Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Abdullah mengakui kombinasi debit sungai yang turun dan pasang laut yang menguat memang tidak mudah diatasi.

Warga akhirnya mengantre membawa jeriken ke posko-posko darurat. Pemerintah kota mengerahkan mobil tangki dan membagikan air tawar gratis. Waduk Penepat juga dioptimalkan. Waduk seluas 6,6 hektare itu mendadak menjadi salah satu tumpuan penyediaan air baku. Namun semua itu terasa seperti menambal kebocoran. Di provinsi yang dialiri begitu banyak sungai, warga Pontianak seharusnya tidak perlu mengantre air setiap kali kemarau datang.

Api, Asap dan Orang-orang yang Tetap Bertahan

Ferry Irwandi melihat persoalan itu dari jarak yang jauh lebih dekat. Kreator konten tersebut menyusuri jalur yang sama tempat Taufik kehilangan nyawa, dari Kubu Raya menuju Ketapang dan Kayong Utara. Yang ia temukan bukan sekadar api. Ada kelelahan yang sudah menumpuk selama berminggu-minggu.

Di satu lokasi, warga panik karena sumber air terdekat sudah tidak ada. Petugas dan relawan yang seharusnya membantu sedang menangani titik api lain. Di tempat lain, helikopter water bombing yang sudah diminta beberapa hari sebelumnya harus kembali ke pangkalan karena asap terlalu tebal untuk penerbangan.

Ada pula bahaya yang tidak terlihat. Bara di dalam gambut bisa terus menyala meski permukaan tanah hanya mengeluarkan sedikit asap. Api bisa muncul kembali ketika orang mengira kebakaran sudah selesai.

Di desa-desa yang berdekatan dengan kawasan terbakar, Masyarakat Peduli Api berjibaku siang malam dengan peralatan seadanya. Ember rumah tangga, pompa kecil, selang panjang dan tandon air menjadi senjata utama mereka. Masker respirator yang memadai pun masih langka di sejumlah lokasi. Mobil pemadam berukuran besar tidak selalu bisa masuk karena jalan desa terlalu sempit.

Di balik pekerjaan itu ada orang-orang seperti Budiono, Kepala Regu 1 Manggala Agni Daops Kalimantan VIII. Saat ditemui di Desa Limbung, Kubu Raya, ia sudah 55 hari bekerja memadamkan api, jauh dari rumah dan keluarganya. Hiburan yang tersisa hanya panggilan video singkat setiap malam. “Alhamdulillah itu bisa mengobati dan memberi semangat kami di lapangan,” katanya.

Setelah itu ia kembali bekerja. Api belum selesai.

Ketika Warga Bergerak Sendiri

Di tengah kelelahan aparat, ada jaringan lain yang bekerja tanpa banyak suara. Warga.

Rumah Zakat Kalimantan Barat menerjunkan relawan untuk berpatroli bersama BPBD Kota Pontianak, PMI, TNI, Polri dan pemadam kebakaran. Mereka juga mengajak warga segera melapor jika melihat titik api atau kepulan asap. Logikanya sederhana. Semakin cepat laporan masuk, semakin besar peluang api dihentikan sebelum membesar.

Muhammadiyah Kalimantan Barat bergerak melalui Lazismu. Pos komando diaktifkan dan sejumlah rumah oksigen disiapkan bagi warga yang mengalami gangguan akibat asap. Penggalangan dana kemanusiaan juga dilakukan melalui jaringan organisasi. Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Kalbar Hermayani Putera menyebut karhutla Kalimantan Barat 2026 sebagai bencana ekologis, bukan semata-mata bencana alam.

Angka titik panas memang menunjukkan situasi yang serius. Dalam satu malam, dari 28 ke 29 Agustus, jumlah titik panas melonjak dari 3.371 menjadi 6.050.

Relawan zakat, pengurus masjid, mahasiswa dan warga biasa kemudian mengisi ruang yang tidak selalu mampu dijangkau institusi resmi. Mereka mengumpulkan donasi, membagikan masker, membuka posko dan membawa air.

Tidak ada gaji untuk itu. Tidak selalu ada kamera yang merekam. Tetapi pekerjaan mereka nyata.

Presiden Datang, Operasi Diperkuat

Pada 22 Agustus, Presiden Prabowo Subianto tiba di Pangkalan TNI AU Supadio. Ia langsung memimpin rapat mengenai karhutla di tengah kepungan asap. “Saya datang untuk melihat keadaan setempat yang nyata,” katanya saat membuka pertemuan.

Dari rapat tersebut lahir lima langkah utama: tambahan 1.500 personel TNI, penguatan operasi darat, penambahan helikopter water bombing, perluasan operasi modifikasi cuaca dan pompanisasi untuk membasahi gambut dari dalam.

Di atas kertas, semuanya terlihat tegas. Tetapi menghadapi karhutla ada satu masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perintah.

Cuaca.

Operasi modifikasi cuaca yang dijalankan pada pertengahan Agustus terpaksa dihentikan karena kondisi langit terlalu kering. Tidak cukup awan potensial untuk dilakukan penyemaian. Operasi baru dapat dilanjutkan setelah BMKG mendeteksi tanda-tanda awan di wilayah timur Kalimantan Barat, hampir dua minggu kemudian.

Gubernur Ria Norsan sejak awal memang sudah meminta bantuan teknologi modifikasi cuaca kepada BNPB. Yang diharapkan sederhana: tahun ini jangan sampai kembali seperti 2019, tahun yang masih menjadi salah satu bayang-bayang terburuk dalam sejarah karhutla Kalimantan Barat.

Siapa yang Sebenarnya Membakar?

Setiap musim kemarau, pertanyaan yang sama kembali muncul. Siapa yang membakar?

Jawabannya sering kali langsung diarahkan kepada masyarakat yang membuka ladang. Namun persoalannya tidak sesederhana itu.

Panglima Jilah dari komunitas adat Tariu Borneo Bersatu Raya mengatakan masyarakat Dayak tidak mungkin membuka ladang di atas tanah gambut. Karakteristik gambut berbeda dengan lahan yang selama ini digunakan masyarakat untuk berladang.

Dalam praktik berladang gilir, menurutnya, masyarakat juga mengenal pengawasan, sekat bakar dan memastikan abu benar-benar padam.

Persoalan itu kemudian menjadi perdebatan terbuka setelah ratusan orang turun ke jalan pada 27 Agustus. Aliansi Masyarakat Kalimantan Barat mendatangi Gedung DPRD Kalbar untuk menolak rencana pencabutan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pembukaan Lahan Perladangan Berbasis Kearifan Lokal. Perda itu selama ini menjadi salah satu dasar perlindungan praktik berladang gilir masyarakat.

Andreas dari Aliansi Solidaritas Anak Peladang mempertanyakan anggapan bahwa tradisi tersebut menjadi sumber utama kebakaran. Menurutnya, persoalan justru perlu dilihat dari lokasi titik api. “Itu titik api di tanah gambut,” katanya.

Ia menantang Presiden dan Menteri Kehutanan melihat langsung kondisi lapangan, bukan hanya menerima laporan dari bawahan.

Ketua DPRD Kalbar Aloysius kemudian menyatakan perda tidak akan dicabut kecuali aturan di atasnya juga dicabut. Gubernur Ria Norsan yang menemui massa juga memberikan jawaban yang cukup terus terang ketika ditanya apakah pemerintah mampu menjamin kehidupan seluruh peladang jika tradisi tersebut dihentikan. “Secara logika nggak sanggup lah, Pak.”

Perdebatan belum selesai. Sultan Pontianak ikut menyuarakan penolakan terhadap pencabutan perda tersebut. Sepekan kemudian, mahasiswa juga berencana menggelar aksi di Bundaran Supadio. Tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak hilang dari perdebatan ini: data. Bukan asumsi.

Korporasi Juga Harus Diperiksa

Di tengah perdebatan soal ladang masyarakat, penyelidikan terhadap korporasi mulai bergerak. Di Mempawah, sebuah perusahaan berinisial PT MAP telah ditetapkan sebagai tersangka korporasi pada pertengahan Agustus.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut empat korporasi lain sedang diselidiki karena diduga berkaitan dengan karhutla di Kalimantan. Jika terbukti bersalah, izin perusahaan terancam dicabut.

Di Ketapang, aparat juga masih menyelidiki dugaan perambahan kawasan hutan produksi.

Data yang dihimpun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menunjukkan pola yang patut diperiksa lebih jauh. Hampir tiga perempat titik panas di Kalimantan berada di dalam wilayah konsesi perusahaan, bukan di ladang masyarakat adat.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kalbar Agus Sudarmansyah mengingatkan agar masyarakat kecil tidak menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan sementara perusahaan besar luput dari perhatian.

Persoalannya bukan sekadar siapa yang dituduh. Yang jauh lebih penting adalah siapa yang benar-benar bertanggung jawab terhadap lahan tempat api ditemukan.

Sebab ketika lahan skala besar berubah, dampaknya tidak berhenti pada tanah. Koridor alami satwa ikut terputus.

Orangutan, owa Kalimantan dan monyet kelasi kehilangan jalur berpindah ketika hutan dan gambut terbakar.

Orangutan yang Kehilangan Rumah

Namanya Sampurna.

Warga menemukan orangutan itu tergeletak lemas di sebuah kebun sawit di Desa Laman Satong pada 30 Agustus. Ia diduga terlalu lama menghirup asap.

Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia segera memberikan oksigen dan infus.

Beberapa hari sebelumnya, tiga orangutan lain, Mamak Yuni, Pura dan Yuni, juga ditemukan terjebak di sekitar kebun warga. Hutan yang menjadi rumah mereka sudah dihantam panas dan api.

Dalam tiga minggu terakhir Agustus saja, tujuh orangutan dievakuasi dari kawasan Ketapang.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyebut kebakaran kali ini memberikan tekanan ganda bagi satwa yang sudah terancam punah tersebut.

Rumah mereka hilang. Makanan mereka ikut hilang. Dan ketika hutan terfragmentasi, jalur untuk menyelamatkan diri pun semakin sedikit.

Gambut Tidak Bisa Dipadamkan Hanya dari Permukaan

Ada satu hal yang terus muncul dari cerita orang-orang yang bekerja di lapangan. Gambut tidak akan selesai hanya dengan menyiram api yang terlihat. Lahan gambut bisa menyimpan bara di bawah permukaan. Ketika airnya turun dan tanah mengering, api memiliki ruang untuk bergerak lebih jauh. Karena itu, persoalannya tidak hanya bagaimana memadamkan api. Tetapi bagaimana menjaga gambut tetap basah sebelum api muncul.

Menutup kanal. Menjaga tinggi muka air. Memulihkan daerah tangkapan air. Dan memastikan pompanisasi yang diperintahkan pemerintah benar-benar sampai ke lokasi yang membutuhkan. Di desa-desa yang berbatasan dengan kawasan gambut, sumber air mandiri juga bisa menjadi pembeda. Api yang bisa dipadamkan dalam sepuluh menit bisa berubah menjadi kebakaran besar jika warga harus menunggu bantuan dari kota yang jaraknya berjam-jam.

Persoalan air juga tidak bisa dipisahkan dari Sungai Kapuas. Memulihkan tutupan hutan di daerah tangkapan air bukan hanya soal konservasi. Itu juga soal memastikan Pontianak tidak kembali mengandalkan mobil tangki setiap kali kemarau datang.

Untuk perusahaan pemegang konsesi, standar pengawasan juga semestinya lebih jelas. Audit hidrologis perlu dilakukan secara rutin. Sarana pemadam harus tersedia dan benar-benar bisa digunakan. Ketika lahan yang berada di bawah tanggung jawab perusahaan terbakar, harus ada konsekuensi yang nyata. Sementara perdebatan soal ladang adat juga harus kembali kepada data. Mana api yang berasal dari praktik ladang gilir? Mana yang muncul di lahan konsesi? Mana yang terjadi di gambut? Mana yang terjadi karena lahan sudah lama dikeringkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berguna daripada saling menunjuk.

Tahun Depan, Kita Akan Mengulang Lagi?

Hujan akhirnya akan turun. Asap akan menghilang. Sekolah kembali dibuka, masker dilepas dan pesawat kembali terbang normal. Air Sungai Kapuas pun suatu hari akan kembali tawar. Tetapi ada hal yang tidak ikut pulih bersama hujan. Taufik Hidayat tidak akan kembali. Begitu pula waktu yang hilang dari ratusan petugas seperti Budiono, para relawan yang berhari-hari berada di lapangan, serta warga yang memilih bergerak ketika melihat keadaan di sekitarnya semakin buruk.

Mereka sudah melakukan bagian masing-masing.

Pertanyaannya sekarang ada pada kita yang tinggal di luar titik api. Apa yang berubah setelah asap hilang? Sebab kemarau berikutnya akan datang lagi. Titik panas mungkin kembali muncul. Api mungkin kembali menyala.

Dan kalau yang kita lakukan hanya menunggu asap datang, membagikan masker, mengirim mobil tangki, memadamkan api lalu pulang, kita sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita hanya sedang menunggu musim berikutnya.

Yang perlu dijawab bukan lagi apakah Kalimantan Barat akan terbakar. Tetapi ketika api datang lagi, apakah kita masih akan melawannya dengan cara yang sama?