Siang harinya, kami berkeliling melihat pepohonan bakau di Desa Pasir. Saya belajar seberapa cepat bakau dapat tumbuh hingga saya menjulukinya “pohon ajaib”. Satu pohon bakau dapat menghasilkan oksigen untuk dua orang manusia. Oleh karena itu, program konservasi (Pokdarwis Mempawah Mangrove Park) setempat bekerja keras setiap hari untuk menjaga pohon-pohon yang sudah ada sambil menanam yang baru, agar dapat menciptakan lebih banyak daratan. Sungguh indah melihat mereka tidak mementingkan aspek publikasi dan perhatian dari gerakan ini, melainkan semata-mata untuk memperbaiki kondisi bumi. “Manusia butuh alam, tapi alam tidak butuh manusia,” sebuah kutipan dari pemandu kami, Bang Delly, yang paling membekas di hati saya. Kami tidak hanya belajar tentang manfaat pohon-pohon ini, tetapi juga mendapat kesempatan untuk menanamnya. Meskipun hanya hal kecil yang kami lakukan, dampaknya bisa sangat besar bagi lingkungan.
Malamnya, kami mendapat kehormatan menghadiri Upacara Adat Toana di Istana Amantubillah. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan potret dan warna-warna cerah, sama seperti pakaian orang-orang di ruangan itu. Upacara Toana adalah sebuah perayaan di mana gelar penghargaan diberikan untuk meneruskan tugas dan tanggung jawab kepada kerabat kerajaan (berdasarkan masing-masing dedikasi mereka). Di awal acara, sebelum upacara dimulai, perkenalan dilakukan dalam bahasa lokal setiap suku. Sangat menakjubkan melihat semua suku yang berbeda ini berada dalam satu ruangan, masing-masing dengan pakaian dan adat istiadat yang berbeda, namun semua tampak serasi.
