Sekaligus ibadah shalat Duha yang dijamin berbuah kemurahan rizki dari Allah. Nah, seusai Duha, pada penutup salam H Muhammad Nur Hasan langsung berujar begini kepada Berri Elmakki, “Bagaimana kalau kita melihat tanah yang hendak dibangun mesjid oleh adik saya. Tapi bukan di dalam Kota Pontianak. Luar kota sedikit. Sebelah sananya Korpri. Dia sudah berniat membangun mesjid. Saya yang dampingi saat Tim Falaq Kanwil Kemenag menentukan arah kiblat sejurus waktu baru lalu. Baru saja dipatok dan diberikan marka tali nilon putih.” Demikian Nur Hasan yang sebelumnya adalah Sekretaris Yayasan Mujahidin–mesjid raya si mesjid terbesar dan terindah di Kalimantan Barat kepada Berri Elmakki yang baru 23 tahun usianya.
Berri Elmakki menurut saja dan pergilah mereka dari Surau Nurul Iman ke daerah Parit Rintis, Jalan Sungai Raya Dalam II Ujung. Sesampai di sana, Berri Elmakki tak berpikir panjang lagi. “Di atas tanah wakaf ini–Tokya–di sinilah kita bangun mesjid Umar Bin Khattab,” ujar Berri kepada Nur Hasan yang akrab disapa Tokya. Berri Elmakki menyerahkan minyak wangi bermerk Sulthan kepada Tokya sebagai hadiah menemaninya mencari lahan untuk mesjid pemuda Umar Bin Khattab. Nah, demi menerima minyak wangi produksi sendiri Berri Elmakki dengan nama Sulthan, maka Nur Hasan pun teringat akan ayat Allah pada QS Bani Israil yang berisi perintah shalat Tahajjud di tengah malam, di mana sesiapa yang mengamalkannya, maka Allah akan berikan kedudukan mulia dengan kekuatan yang menolong. Kekuatan yang menolong inilah terminologi kata bahasa Arab sebagai dua kata: Sulthan Annashira.

