Masjid Batu atau nama sebenarnya adalah masjid Nashrullah yang dibangun oleh Guru Haji Ismail Mundu pada tahun 1926, mulai ditempati shalat jumat tahun 1929. Di masjid inilah pusat kegiatan dakwah dan keagamaan, termasuk pengajian.
Dalam buku “Guru Haji Ismail Mundu (Ulama Legendaris dari Kerajaan Kubu) karya Ust. Baidillah Riyadhi disebutkan bahwa Guru Haji Ismail Mundu menulis delapan karya kitab, yaitu Terjemah dan Tafsir al-Qur’an Berbahasa Bugis, Ushul at-Tahqiq, Mukhtashar al-Mannan ‘ala al-‘Aqidah ar-Rahman, Jadwal Nikah, Majmu’ al-Mirats, Konsep Khutbah Bulan Shafar dan Jumad al-Akhir, dan Kitab Dzikir Tauhidiyah. Kitab-kitab inilah yang diajarkan dalam pengajian di masjid Batu, termasuk Tafsir al-Qur’an.

Kata guru besar saya di kampung halaman, KH. Muhammad Zein (wafat 1988) mengatakan, Syekh Daeng Abdul Karim ayahanda Guru Haji Ismail Mundu pernah menulis menyalin Kitab Tafsir al-Jalalain. Tulisan al-Qur’annya berwarna merah dan Tafsirnya berwarna hitam. Bisa jadi, Tafsir yang dipakai Guru Haji Ismail Mundu yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Bugis adalah Tafsir al-Jalalain yang ditulis tangan oleh ayahnya sendiri. Hanya saja, sangat disayangkan karena Tafsir tersebut baik karya Syekh Daeng Abdul Karim maupun karya Guru Haji Ismail Mundu tidak ditemukan sampai sekarang.