Saya menyebutkan bahwa Mimbar Untan merupakan tempat yang subur untuk menempa diri dan pengetahuan yang luas. Lihatlah alumninya seperti Prof Dr Chairil Effendy, Ir Baskoro Efendi, Drs Suryadi Sowinangun, Dra Sarmini, Sri Nur Aeni hingga Syafaruddin Usman. Sementara di blantika pers daerah ada Heriyanto Sagiya (Pemred Pontianak Post), Ashrie (wartawan Pontianak Post), Hasyim Asy’ari (Direktur Tribun Pontianak), Stefanus Akim (Redpel Tribun Pontianak), dan masih banyak lagi untuk dapat disebutkan satu per satu. “Sebagai aktivis pers kampus, haram hukumnya untuk ditolak bekerja di pers profesional. Ini kalau Anda benar-benar menempa diri dengan berjurnalisme ria.”
Aktivis lingkungan hidup yang juga alumni Mimbar Untan, Anas Nasrullah menimpali, “Kalau sudah passion, pasti jadi. Passion ini yang mesti ditumbuhkan,” ungkapnya menyebut nama lain alumni Miun yang sukses di NGO, bahkan PNS serta perusahaan-perusahaan besar swasta.
Anas bersyukur bahwa dia merasakan proses peralihan Mimbar Untan dari rektorat ke LPM. Merasakan “jadi penunggu” sekretariat Mimbar Untan yang kala itu merupakan satu ruang kelas di eks-rektorat. Kini sekretariat penuh kenangan itu telah merupakan bagian dari Program Magister Ilmu Hukum. “Dari sekretariat ini lahir banyak ide-ide besar liputan,” ungkapnya. Ide liputan yang dirintis pada masanya adalah jurnalisme presisi. Dari penarikan sampel serta metodologi yang sesuai berhasil diulas kenapa mahasiswa Untan enggan turun aksi demonstrasi. Kemudian dari laporan utama itu berhasil membuat pergerakan mahasiswa lebih terarah, fokus dan mengubah.
