Perubahan yang terasa bagi Kalbar adalah penerapan jurnalisme presisi pada lembaga yang terkontaminasi penyakit korupsi. Hasil riset mengarahkan telunjuk kepada instansi Polri. Maka dibesutlah diskusi bersama kapolda yang saat itu dijabat Brigjen Pol Nanan Sukarna.
Anas menegaskan perlunya setiap insan pers kampus yang bernaung di bawah LPM Mimbar Untan menghimpun nilai (value colledge). Sebab dari menghimpun kembali nilai-nilai yang terdapat dalam lembaran sejarah Mimbar Untan akan melahirkan inovasi-inovasi baru berbasis nilai-nilai tersebut. “Untuk menjadi jurnalis yang sukses mesti menganut nilai-nilai pers. Value dihimpun kemudian berbuah dan panen sesuai tantangan zamannya,” katanya.
Bagaimana mengumpulkan nilai-nilai tersebut? Anas mengarahkan perlunya diskusi terfokus dan melahirkan rekomendasi semacam RPJM di pemerintahan. Ada rencana pembangunan jangka menengah yang dirumuskan lebih rinci dalam target, serta teknis program di lapangan. “Ini semua merupakan langkah manajemen yang ilmiah,” tambahnya.
Di tempat yang sama, sebagai pembicara ketiga adalah Ahmad Sofyan. “Pada saat saya bergabung di Mimbar Untan, suasana reformasi sudah mereda,” akunya. Namun pria yang akrab disapa dengan Asof ini mengaku sangat terpengaruh dengan kiprah aktivis di pers kampus. Dinamika idealisme pers mahasiswa ini pula yang membawanya terpilih sebagai Direktur Eksekutif LPS-Air sebuah NGO yang ternama di Kalbar. Asof menegaskan pentingnya telaah kritis yang ilmiah. Karena bertumpu pada tataran tersebutlah Mimbar Untan akan tetap tampil terdepan dalam ide dan karya yang mengedepankan kontrol sosial.
