teraju.id, Pontianak – Masa SMA masa jagoan. Setiap musim Langsat tiba, selalu menurunkan buah. Secara sekitaran rumah produktif Langsat dimana bisa diperoleh 1-3 keranjang ukuran 60kg. Mahir membawa keranjang buah dan ulur tarik dengan penjemput buah di bawah. Piawai berpindah dahan persis “si mongkey”.

Kalau upah di kampung Sungai Raya Dalam tempo 90an Rp 30k/pagi panjatan, maka dengan ibu sendiri tanpa pamrih. Hanya beliau selalu kasih bagi hasil. Bagi-bagi dan berhasil. Masya Allah. Indahnya kenangan. Dan kenangan terindah adalah sebagian hasil panen disedekahkan kepada sahabat-sahabat ayahanda. Sebut misal H Mawardi Ja’far yang tinggal di Jalan Sulawesi. KH Yusuf Syu’aib yang menetap di Jl Karimun. Atau Pak Djuni Hamidi di Gang Mendawai. Bahkan saya pernah antar ke rumah dinas Kakanwil Kemenag Kalbar saat itu Pak Rohadi, angkatan darat di Jl Untung Suropati. Indah. Indah. Full of memories…

*

33th Tak Memanjat Langsat.1

Hari libur natal hari ini saya dan keluarga survey tanah wakaf ahli. Tanah wakaf ahli ini adalah wakaf keluarga. (Ahli berarti keluarga).
Apa maksudnya? Maksudnya adalah lahan yang memotong Desa Parit Buluh tembus Sungai Raya Dalam II Ujung tersebut stop (wakaf) berhenti penjualannya. Sudah diwakafkan kepada keluarga sejak ibu wafat, menyusul ayahanda satu setengah dasawarsa lalu.

Kami lima bersaudara juga sepakat, bahwa wakaf ahli ini digunakan untuk pondok pesantren produktif berlandaskan tahfidz Qur’an. Insya Allah akan dibangun unit ibadah dan pendidikan.

Tadi, di lapangan, melihat sketsa dan hasil pembangunan jembatan maupun jalan. Alhamdulillah berbuah pula Langsat di dalamnya.

Melihat si kuning bundar ranum di berbagai dahan, macam ada hasutan kepada adrenalin dalam tubuh untuk meloncat, meraih dahan kuat untuk melompat, bergantung, meringankan tubuh untuk meliuk dan kemudian bertengger gagah laksana Jacky Chan memeragakan jago kungfu masternya.

Istri dan anakku menonton. Tapi si bungsu lelaki juga tak tahan. Dia ringan badan menyusul melompat, meraih dahan, meringankan tubuh, meliuk dan bertengger ke permukaan.

Di atas dahan saya kasih Diklat aman memanjat. Yakni hati-hati jebakan Batman berupa dahan rapuh dan serangga. Terutama penyengat. Sebab saya pernah tawaf di bawah pohon Langsat gegara jatuh dari ketinggian 2 meter. Sikut sampai pindah. Syukur ada Dukun Pe’ah di Kampong Bangke yang jago meluruskan tulang apalagi keseleo…
Saya tak mau anak saya mengulang hal-hal merugikan. Alhamdulillah kami berhasil. Langsat berguguran. Maneeeez zekaliii.

*

Terimakasih nenek. Zuriyatmu masih menikmati buah manis ini. Juga wakaf produktif ini.

Walaupun jasadmu ada di makam keluarga Daeng Ambo Baso terdahulu di bagian depan Sungai Raya Dalam tak jauh dari Munzalan Mubarakan, maka kami bersaudara dan anak-cucu mungkin terbaring di kawasan ini. Walaupun sigap dimanapun Allah mentakdirkan kembali ke hadirat-Nya di sanalah kami sedia dimakamkan.

*

33 tahun lalu. Kini saya memanjat Langsat kembali. Sensasi masa lalu kembali. Terbayang indahnya kebun-kebun di Serdam. Kini menjadi kota.
Apa bedanya? Dulu asri. Tenang. Tak macam ragam.

Kini? Kota. Banyak hal menjadi mudah. Namun warga asli bertabur kemana-mana.

Yang berbekal pendidikan dan keterampilan maka mereka tumbuh pesat. Namun bagi yang abai dan lalai, maka mereka terlindas kejamnya kehidupan.

Dunia tak boleh dijadikan tujuan. Dia akan meninggalkan kita.
Kita harus fokus pada 1 tujuan hidup. Ibadah. Khalifah. Mencari ridho Tuhan. Maka ke sana hidup tak akan pernah sepi. Ia abadi. Seperti abadinya Langsat dan ibu dalam bingkai ingatan.

Ilahinniyah. Alfatihah. Semoga membawa Rahmah dan Maghfirah. *