teraju.id, Pontianak – Dua Minggu lalu Kang Adang Durahman posting pertemuannya dengan guru teladan se-Indonesia. Mantan redaktur liputan khusus Jawa Pos di Jakarta yang kini pengusaha hotel di berbagai lokasi Jawa Barat mengaku bangga pernah sama-sama menekuni ilmu pendidikan di Kampus Isola. Sama sama mengelola Tabloid Mahasiswa hingga menjemput reformasi yang keras dan berdarah-darah.
Kang Adang tentu posting foto bersamaan dengan rekan sejawat Isola itu.
“Alhamdulillah, bertemu guru bahasa Indonesia terbaik Indonesia (2016), dengan beragam karya tulis dan buku teks di sekolah. Dia adalah guru di SMA Negeri Kadugede, Kabupaten Kuningan. Sohib dulu saat kuliah di IKIP Bandung & mengasah asa di koran kampus “Isola Pos” (1990-1995). Demikian Kang Adang D Bokin.
Saya menatapnya penuh senyum sambil semeriwing. Rasanya kenal dech ich…
Saya zoom. Lebih dekat. Lebih cocok. Pas bentuk tubuh. Istimewanya kumis. Ya kumis.
Daripada penasaran, saya tekan nomor Kang Adang Durahman. “Betulkah guru teladan kita adalah kawan di foto ini?”
Dengan gayanya yang tak berubah sejak saya kenal 1992 pasca Deklarasi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Kaliurang, Yogyakarta, Adang bilang, “Ya. Yang posisi duduk itu. Sebelah kiri. Nur masih simpan fotonya? Hebat hebat hebat!”
Adang Durahman idola saya dalam mengelola pers kampus. Darinya saya belajar banyak. Mulai manajemen redaksi, pengelolaan reporter baru dan senior, hingga laporan keuangan. Ia juga mengajari saya bagaimana memenangkan presentasi LKTI. Termasuk filsafat pers.
Salah satu judul di Isola Pos terbit hitam putih ala-ala Kompas zaman baheulak adalah, “Krak! Bum…Baju Dinas Korpri.” Saya suka judulnya. Bombastis. Menarik perhatian untuk dibaca. Smart. Penjudulannya cerdas. Wajarlah di masa Kang Adang menjadi Pemred Isola Pos keluar sebagai juara satu penerbitan kampus seluruh Indonesia.
Inspirasi Kang Adang saya bawa ke Mimbar Untan. Alhamdulillah MiUn–singkatan nama tabloid kampus–bermarkas di Humas Rektorat dapat saya buat independent. Tidak lagi underbow Kehumasan Rektorat tapi berdikari. Sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya. Setara.
Untuk itu bujetnya sama-sama dari Purek III. Sama-sama punya pola rekruetmen anggota secara demokratis dan terbuka.
Ini legacy kesejarahan MiUn yang saya catat dengan tinta emas masa kuliah tempo doeloe. Meneruskan catatan emas sang perintis era 1980-an yakni Suryadi Suwingangun, Chairil Effendy, termasuk putra tokoh pemerintahan cum panembahan Mempawah Jimmy M Ibrahim, Muharso. Era Dekan FKIP Drs Bachid Nawawi dan Rektor Prof Dr H Hadari Nawawi. Era saya 1992 Rektor Universitas Tanjungpura adalah Prof H Mahmud Akil, SH. Alumni UGM asli asal Landak.
Adang pernah saya undang ke Pontianak tahun 1993. Acaranya Dikjur Matindas. Akronim dari Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar. Mereka datang berlima: Selain Adang dari Isola, ada Andreas–Item–Ambar Purwanto (Universitas Kristen Parahyangan–almamater Ir H Said Dja’far teknokrat ulung Kalbar), Asep (Ketawang Gede, Unibraw, Malang), Rommy Fibri (Bulak Sumur, UGM, Yogyakarta) dan seorang cewek cantik berkerudung dari Salemba, Universitas Indonesia. Saat itu saya merupakan Presidium PPMI Wilayah Kalimantan hasil kepengurusan Kongres Kaliurang. Juga Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak plus Wapimred MiUn.
*
Dikjur Matindas gawean besar saat itu. Jarang jarang ada 5 narsum datang dari kampus-kampus bonafide Indonesia. Tak ayal, Dikjur Matindas menusuk kalbu mahasiswa idealis. Mereka ikut jadi peserta.
Lokasi kegiatan di Asrama Haji. Dibuka oleh Wakil Gubernur Drs H Muchalli Taufik.
Salah satu pesertanya adalah mahasiswa Fekon Untan Amshari. Dia putra AURI. Ayahnya Betawi. Penerbang. Ibunya Sambas. Suatu saat ia kecelakaan di Bundaran Untan 1959. Mau rapat pers. Jadi kelingkingnya putus. Korban kecelakaan tunggal akibat hujan. Begitulah perjuangan idealis insan pers kala itu. Berdarah-darah.
*
Adang Durahman suka puisi. Bawa gitar. Datang dengan Kapal Laut KM Lawit. Harga tiket 32 ribu.
Murah? Nggak. Inflasi sesuai anak zaman.
Saya kecipratan ilmu puitika darinya. Juga Item, Rom, Asep dan Mba Neni asal UI.
Hampir seminggu tamu istimewa saya berada di Bumi Khatulistiwa. Kami bawa makan tempoyak. Sayur olahan buah durian. Khas Kalbar. Cocok pula di lidah mereka. Nambah dan nambah. Sampai kini mereka rindukan hasil rempah ibunda tercinta. Termasuk Paceri Nanas. Kini kuliner Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB-I).
Tentu ke Tugu Khatulistiwa dan Istana Qadriyah.
Saat pulang, Rommy Fibri ada akal pelanduk yang smart. Cerdas. Ia izin menghadap rektor. Prof H Mahmud Akil, SH yang alumni UGM. Kagama. Keluarga besar Gajahmada.
Tak pelak kelima tamu saya dirangkul tiada dipukul. Disayang, bukannya proposal ditendang. Apalagi Pak Mahmud murah hati. Murah senyum. Juga ringan tangan merogoh saku sampai dalam.
Kelima tamu saya dibiayai pulang gretong. Gratis. Naik KM Lawit tanpa merogoh kocek aktivis pers kampus yang besar di idealisme namun kosong isi dompet.
Saya pun memetik manfaat besar dari Dikjur Matindas. Khatam bawa mobil.
Pinjaman Ir Zulfadhli dari KNPI. Mobil kodok yang sudah butut untuk operasional Panpel. Maka Kang Adang amat berkesan dalam kehidupan saya. Sampai kini dan masa depan.
*
1995 kami jumpa di Bandung. Inap di Isola. Nama awalnya IKIP Bandung. Kini UPI. Persis 50 tahun Indonesia Merdeka. Hut Emas.
Saya ikut Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut di Universitas Parahyangan. Namun curi waktu meliput pertemuan para tokoh Indonesia di Seskoad. Saya tahu ada Prof Mahmud Akil sebagai pesertanya. Juga Gubernur Letkol Pardjoko Suryokusumo.
Saya bersua Prof Mahmud di acara itu. Wawancara. Tentu dia bangga. Lalu minta jumpa malam hari di penginapannya Hotel Parahyangan.
Saya ditemani Syafarudin Usman dan Sri Nur Aeni datang menghadap. Tentu dijamu makan dan minum enak-enak.
“Silahkan pilih. Ayo makan. Kalian mahasiswa hebat yang membanggakan Untan.”
Kami kikuk. Hanya berani pilih nasgor. Juga juice jeruk. Rasanya sudah hebat dan mewah.
Sepulangnya kami disawerin uang. Masih mengkilap. Bau cetakan Perum Peruri. Percetakan Uang Republik Indonesia.
Banyak sekali pemberiannya. Kami bisa borong banyak buku di Cilosari Bandung dan buku loakan di Kwitang kawasan Senen, Jakarta.
Itu sekelumit jasa bersama Kang Adang yang sudah nyambi liputan untuk Jawa Pos. Belakangan saya juga bergabung ke JPNN (Jawa Pos News Network) lewat anak Jawa Pos yakni Pontianak Post dengan menerbitkan cucu koran bernama Harian Equator. Di sana saya berkarir sampai Redaktur Pelaksana termuda di Indonesia. Lingkup Jawa Pos hingga dapat beasiswa ke USA 2001 dan 2004.
*
Kenapa Kang Adang nyentrik di pikiran dan perasaan? Pertama kronologis di atas. Kedua, namanya Abdurrahman. Artinya Hamba Tuhan yang Penyayang.
Atas nama Tuhan Arrahman. Maha Kasih. Maha Sayang.
Kang Adang menjalankan doa atas namanya. Abdurrahman.
Saya suka nama itu. Sebab kakek saya juga Abdurrahman.
Abdurrahman punya enam anak. Nurdin. Hasan (ayahku). Yusuf. Azizah. Siti Sarah. Si bungsu alias ragil Siti Rahmah. Masing-masing pakai gelar Har (Haji Abdurrahman). Maka nama saya selengkapnya adalah Nur Iskandar Bin Hasan Bin Abdurrahman.
Abdurrahman inilah yang disapa putra-putrinya dengan Buya. Abuya. Oleh cucu-cucunya akrab disapa To’ Buya atau To’ Ya. Akronim yang disabet Abang kandungku HM Nur Hasan Har sebagai To’ Ya Jr.
Kepada Kang Adang saya bertanya, apakah ada sambung kait dengan keluarga di Sukabumi? Namanya juga Adang Durahman? Dia bilang tidak. Sebab banyak nama Adang Durahman seantero Jabar. Mungkin disebabkan Adang adalah panggilan sopan untuk lelaki (adik) dalam keluarga. Dihormati. Dicintai. Sapaan sayang.
Adapun Durahman atau Abdurrahman adalah letterluck Asmaul Husna. 99 nama Allah yang mulia. Tersebar banyak di dalam Alquran. Sunda kita tahu super duper relijius. Sejak tempo doeloe hingga kini. Secara politis jika menguasai hati umat Islam Jabar, kemenangan politis RI-1 dalam genggaman, selain Jatim, Jateng dan Jakarta. Sangat diperhitungkan.
Namun saya punya kesan positif dengan Abdurrahman. Yakni Sultan Pertama pendiri Kota Pontianak. Allahyarham Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Membangun Pontianak sejak 23 Oktober 1771. Beliau cucu-cicit Rasulullah. Yang oleh ayahku diajarkan berkhalwat atas wasilahnya membangun Kota Pontianak sebagai tempat tinggal kami. Mengajarkan kami untuk kirim Alfatihah baginya, tersambung sanad kepada Junjungan Alam Rasulullah Muhammad SAW. Respect dan hormat kepada zuriyat Rasulullah SAW.
Sampai kini kami keluarga besar Hasan Abdurrahman cinta kepada keluarga besar Rasulullah SAW. Sesuatu yang dicontohkan pula oleh dai sejuta umat Prof Dr KH Ustadz Abdul Somad rahimakumullah.
Setiap beliau datang ke Pontianak selalu takzim kepada keluarga besar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Alfatihah washallu ‘Alan Nabi.
Tersusun maksud, jikalau Adang Durahman tersambung kait dengan trah Adang Durahman sebagaimana Abangku HM Nur Hasan mengadopsi nama To’ Ya sedulur sejarah Sukabumi, maka hendak saya ajak investigasi sejarah melodrama. Bahwa pemasok kopi ke Sukabumi dan bibit teh adalah Sultan Syarif Hamid II Alkadrie.
Sultan ketujuh Pontianak. Figur yang saya tulis bersama team (Turiman dan Anshari Dimyati) bahwa di Sukabumi ia pernah mengawal perkebunan. Dan bersama mertuanya Van Delden – Sultan Hamid memasok kopi hingga Jabar dan Jatim. Kopi yang saat ini menjadi lifelihood Nusantara. Juga kebanggaan Pontianak sebagai Kota Para Pengopi. *
