Suherman, teman saya, menceritakan pengalamannya terjebak banjir. Motornya mogok terendam air ketika melintas di kawasan Suprapto dari Gajahmada. Nia, seorang ibu yang tinggal di Kota Baru, Pontianak, menceritakan rumahnya terendam air dan kesibukan mereka mengungsikan barangnya.
Ada juga cerita dari Suwignyo, Sungai Jawi, tentang “tetangga numpang salat” karena rumahnya terendam air. Banjir yang menggenangi kota Pontianak menjadi tema pembicaraan di pagi hari Kamis.
Kamis (16/2) banjir ini sudah surut. Air sudah mengalir ke parit. Hanta di beberapa tempat saja air masih menggenang.. Warga terlihat membersihkan rumahnya dan menjemur barang-barang yang basah. Pekerjaan rumah bertambah.
Kiranya, bercermin dari peristiwa yang lalu, pekerjaan itu akan terulang lagi, suatu saat nanti. Banjir ini mungkin akan terjadi lagi. Mungkin besok, minggu depan, tahun depan, atau beberapa tahun yang akan datang.
Oleh karena itu perlu dilakukan sesuatu agar perulangannya tidak kerap. Mungkin rumah dan jalan ditinggikan. Mungkin parit dilebarkan dan didalamkan. Mungkin takungan diaiapkan. Mungkin kebijakan ruang hijau ditambah. Mungkin juga pindah ke lokasi yang lebih tinggi dan jauh dari pantai, jadi pilihan. Entahlah! (*)
