teraju.id, Pontianak – Ketua Asosiasi BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) Lesty Legina Lestari tampil nyentrik di acara farewell party untuk Sela dan Muhammad Amin Azeroual di Everyone Cafee kawasan Jl Karna Sosial, Minggu, 3 Mei kemarin. Dengan sentuhan selendang Nusantara di hadapan 30 undangan, ia menuturkan betapa pentingnya BIPA dalam pemasyarakatan bahasa Indonesia ke mancanegara. Kerjasama bersama Binabud Chapter Pontianak baginya sangat mengesankan karena berhasil mendidik dan mengajar dua pelajar asing dalam program pertukaran pelajar selama lebih kurang 10 bulan.
Kata Lesty yang merupakan motivator dan sehari harinya ASN di Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat, pengajaran BIPA ada 7 level. Di level 1 waktu ajarnya sekitar 100 jam. Alhamdulillah Amin dan Sela dapat mengikuti pada level 1 dan kini dapat bicara dan menyimak ke dalam Bahasa Indonesia dengan baik. Bahkan keduanya dapat berbalas pantun.

Program pertukaran pelajar selama lima tahun terakhir dijalankan Binabud Chapter Pontianak tidaklah mudah. Bahasa adalah faktor utamanya.
Kenapa siswa siswi asing betah pertukaran pelajar ke Bumi Khatulistiwa?
Jawabnya ada Community Development bernama Kampoeng English Poernama. Komunitas berbahasa Inggris yang dibangun dengan kesadaran perlunya penguasaan bahasa internasional.
KEP lahir pada 2012-2013 sebelum lahirnya Binabud Chapter Pontianak. Anggota komunitas inilah yang membantar kedatangan siswa asing dengan bilingual. Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Setiap kali Equator Land Area kedatangan pertukaran pelajar ini, bahasa langsung klik di Bahasa Inggris. Lalu mereka akrab. Mudah berjual beli bahasa negara masing-masing. Tentu saja mereka betah. Sebab setiap ada masalah, bisa dibicarakan ke dalam bahasa Inggris sambil belajar bahasa negeri masing-masing sebagai tujuan pembelajaran lintas budaya. Bukankah bahasa adalah artefak budidaya manusia yang paling tinggi? Dimana setiap kosa kata ada makna dan kesejarahannya? Konteks lokalitasnya? Adatnya?
Apalagi komunitas KEP berisi para remaja dan pemuda. Mereka sebaya. Makanya dua kali klik. Wajarlah KEP bertumbuh hingga kini karena aliran kegiatan pertukaran pelajar bersama Binabud Chapter Pontianak tak putus-putusnya. Sambung bersambung. Sauh ditarik. Kiambang pun bertaut.

*Apa sasaran berikutnya? Setelah KEP dan Binabud sublim dalam satu napas aktivitas, bersama BIPA akan dapat menumbuhkan destinasi wisata khusus budaya, yakni bahasa. KEP-Binabud-BIPA bisa mewujudkan “Kampoeng Bahasa” sebagai sentral pembelajaran bahasa-bahasa. Sudah ada Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Ada pembelajaran bahasa Jerman, Italia, Jepang, Belgia, Filipina, dll sesuai dengan negara asal pertukaran pelajar dan mahasiswa. Bisakah? Bisa. Whynot? Mari kita coba. Bagaimana pendapat Anda?
