Kalimantan Barat sudah menjalin kemitraan dengan swasta untuk menjamin supply chain yang berkelanjutan sesuai 4P approaching (planet, people, profit and peace). Misalnya kerjasama pengembangan Kemiri Sunan (Reutealis trisperma) dengan Yayasan Belantara dan Grup APP untuk menghijaukan kembali lahan kritis.

Selain itu merekomenfasikan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) berupa areal hutan pendidikan untuk Fakultas Kehutanan Universitas Tanjung Pura seluas 22.500 Ha, dimana 5.000 Ha  di dalamnya direncakan untuk pengembangan energi terbarukan (biodiesel) dari tanaman Kemiri Sunan atau tanaman lain seperti rumput gajah.

Selain itu kerjasama dengan beberapa perusahaan Hak Penguasan Hutan (HPH) untuk sertifikasi FSC seluas 248.570 Ha. Kerjasama juga dilakukan dalam pengelolaan lanskap terintegrasi di Kabupaten Kubu Raya bersama berbagai perusahaan Hutan tanaman Industri (HTI), HPH Mangrove, restorasi ekosistem dan Hutan Desa – termasuk dengan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) grup APP, Bina Silva dan Grup Alas Kusuma dengan cakupan lahan lebih dari 500.000 Ha. Secara bersamaan dukungan juga diberikan kepada program The Heart of Borneo yg dikelola WWF yang lanskapnya meliputi Kalimantan, Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Saya percaya tren yang sama juga dilakukan oleh kolega kami dari Aceh, Papua Barat, Kalteng dan Kaltim,” tegas Cornelis.

Pada kesempatan yang sama, Cornelis mengeluhkan masih kurangnya pengakuan dan penghargaan terhadap upaya yang telah dilakukan. Karena sejauh ini dukungan teknis dan pendanaan masih berada di Pemerintah Pusat dan institusi non pemerintah seperti NGO.