Koresponden ini menjelaskan, bahwa di hari dan waktu yang relatif bersamaan ada kegiatan pelantikan Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang. Sebanyak 30-an berpakaian adat Dayak berkumpul di Bandara Soesilo dalam rangka menjemput Ketua DAD Provinsi Kalbar Drs Cornelis, MH yang juga pejabat Gubernur Kalbar. “Gubernur tidak hadir, lalu berhembus isu bahwa di dalam penerbangan Garuda yang landing ada Wasekjen MUI Pusat Tengku Zulkarnain didampingi orang FPI. Entah siapa yang menghembuskan isu FPI tersebut,” katanya.
“Khusus tentang Dayak dan FPI ada kronologi yang telah diketahui publik. Mulai dari pengusiran Habieb Rizieq di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya Kalteng beberapa tahun yang lalu disusul peristiwa Asrama Pangsuma di depan RS Antonius di mana Kota Pontianak ikut-ikutan tegang. Dan selanjutnya kronologis itu masih berbuntut hingga aksi bela Islam 4 September 2016 di mana Tanjung Raya sempat tegang.”
30-an orang di Bandara Soesilo batal menjemput gubernur, justru berbalik menolak kehadiran Tengku Zulkarnain.
Konon kabarnya Tengku pernah menulis di media sosial tentang etnik Dayak sehingga mereka tersinggung dan meminta agar TZ tidak menginjakkan kaki di Bumi Senentang. Sempat terjadi keributan di kaki pesawat, dan polisi meyakinkan TZ dan rombongan agar tidak turun demi keselamatan yang bersangkutan. Sebab dari mereka yang meminta agar TZ kembali, ada beberapa yang membawa senjata tajam jenis mandau. Peristiwa tersebut terekam vidio dan beredar luas.
TZ sebenarnya ngotot untuk tetap berdakwah di acara tabligh akbar, namun polisi berhasil meyakinkan akan keselamatan pribadinya. Dengan demikian TZ dan rombongan tidak turun dari pesawat dan langsung kembali ke Pontianak. Penerbangan ditempuh dengan waktu lebih kurang 25 menit.
