teraju.id, Pontianak – Ramadhan ke-27 sangat istimewa. Menurut masyarakat Arab, Lailatul qadar itu 27 Ramadhan. Kebetulan 2005 pernah menikmatinya. Masya Allah membludak jamaah. Sampai ke ujung-ujung jalan raya. Jembatan toll. Mirip sarang semut. Membuncah air bah.

Alhamdulillah mesjid terbesar di Kalbar memberikan sensasi tersebut. Di kala bukber, plaza Mesjid Raya Mujahidin penuh. Tumpah ruah. Ribuan jamaah berbondong-bondong. Berduyun-duyun datang. Merasakan sensasi Bukberan di Alharomain. Dua kota suci. Yakni Mekkah Al-Mukarramah dan Madinatun Nabi.
Khususnya Masjidil Harom dan Mesjid Nabawi.

Bagi jamaah Pontianak dan sekitar Mesjid Raya Mujahidin tak kalah serunya adalah amaliah Ramadhan: itikaf. Sebagaimana disunnahkan Rasulullah untuk mengisi malam di dalam mesjid untuk berpikir, berzikir, berikhtiar menyusun planning agar selamat dunia-akhirat berbasis Alquran yang merupakan “ruh”. Dzat yang dibawa malaikat sehingga fajar menyingsing.
Mujahidin pun ramai. Massa meledak. Ribuan rerata anak-anak muda.

Itikaf 27 Ramadhan Mujahidin.1

Jika di antara mereka mendapatkan “warruhu fiha” yakni Alquran menjadi mentalitinya, sikapnya, gaya hidupnya, tak dapat dibayangkan betapa dahsyatnya Bumi Borneo Barat pada “besok-besok” hari. Menjadi sosok leader penuh “iman, ilmu, amal, sastra”, insan kamil yang membawa langit mengucurkan rahmat. Bumi mengeluarkan nikmat. Empat penjuru mata angin membagikan fadilah. Kenapa? Sebab mereka bertakwa sebagaimana didikan Ramadhan adalah melatih mengendalikan hawa nafsu dari hal hal membatalkan puasa (shaum). Orientasinya adalah takwa, yakni hanya menjalankan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan ini pancasilais sekali.

Alam akan lestari. Jauh dari bencana.
Apalagi disempurnakan dengan zakat, infak, sodakoh dan wakaf (ZISWAF). Totally di atas semua sila Pancasila dan jalan toll menuju surga. Akan terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kenapa Indonesia kini sedikit-sedikit beritanya korupsi? Operasi Tangkap Tangan? OTT KPK? Sebab hawa nafsu tak terkendali. Dengan kata lain ya tidak pancasilais. Tidak menjalankan ketakwaan.

Tentu bagi yang mengerti, perlu waskat. Pengawasan melekat. Totally Controll.

Saling ingat-mengingatkan agar tidak tergolong manusia yang merugi lagi merugikan. QS Al Ashr.

Agar tidak merugi diperlukan 4 rukun. Pertama iman. Kedua amal kebaikan. Ketiga komunikasi aktif saling ingat mengingatkan tujuan hidup dan terminal akhirnya di mana. Keempat komunikasi aktif itu dalam metodologi benar dan sabar. Reflektif. Verifikatif. Anti hoax.

Era aktif sebagai Remaja Mujahidin 1980-2000, itikaf di Mujahidin belum seramai ini. Tempo Doeloe paling banter belasan orang. Agak maju dikit 100-200 orang. Kini, alhamdulillah bisa mencapai 1000-2000 orang.

Panitia dari Remaja Mujahidin menghimpun donasi sampai 300-500 juta. Alhamdulillah wayukurillah watabarakallah wanikmatillah. Terpenuhi dengan gotong royong dan berkah berlimpah dengan berjamaah.

Semoga dengan semaraknya amaliah Ramadhan sampai itikaf membawa sikap hidup takwa. Amiin Allahumma Amiin ya Robbal ‘Alamiin. Bifadhli Suratil Fatihah washallu ‘Alan Nabi.

Melalui segenap renungan pula, mari kita doakan agar perang teluk reda. Dunia bisa hidup berdampingan secara damai.

Lempar jumroh pakai batu
Setelah melempar doa panjatkan
Kalau kita semua bersatu
Tak ada masalah yang tidak terselesaikan. *