Sebagai warga negara yang tetap buka mata dan telinga, saya merasakan terjadinya fragmentasi dari kohesi sosial kebangsaan bernama Indonesia raya di Kalbar. Di mana ideologi Pancasila merekatkan keberagaman dalam langgam Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi, keretakan terjadi merata sehingga saya turut prihatin. Negara yang kita cinta ini dalam posisi bahaya. Bahaya itu menganga di depan mata, di bumi khaTULIStiwa demikian adanya–apalagi juga Pilkada sudah di depan mata. Seperti resah-gelisah beberapa hari terakhir ini, di mana salah satu tokoh sentral Habib Rizieq yang juga merupakan tokoh sentral di DKI Jakarta direncanakan akan hadir di Mempawah telah dinyatakan ditolak keras oleh komponen masyarakat Dayak. Mereka atas nama organisasi Dayak berkumpul membuat pernyataan. Pernyataan itu pun viral. Bahkan orang nomor satu di Kalbar pun di depan publik menegaskan kata pengusiran jika Habib Rizieq berani menginjakkan kaki di wilayah politik binaannya. Pernyataan di acara naik dango di Kabupaten Landak itu juga viral.
Oleh karena itu pernyataan pernyataan pedas senada sangat mudah ditemui di sosial media. Masing-masing, yakni dukungan kepada ulama khususnya Habib Rizieq maupun kontra dari masyarakat Dayak dengan argumentasinya membuat hubungan etnisitas Melayu-Dayak renggang.Di mana ketika membaca pernyataan-pernyataan itu kita berdebar-debar. Panas. Demam ini masih akan terus meningkat sampai Pilkada Gubernur Kalbar tahun depan (2018).
