teraju.id, Pontianak – Setiap memperingati dan merayakan serta memaknai tahun baru Islam saya terkenang peristiwa monumental dalam usia remaja–masa awal SMP–mengejar Pak Miftah–menguber Pak Zainuddin MZ.
Nama lengkapnya Dr H Miftah Farid. Kyai asal Bandung yang dihadirkan Panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Mesjid Raya Mujahidin Pontianak. Sosok yang tak akrab di kuping, namun ceramahnya sangat membekas. Laksana melukis di atas batu. Retorika yang cerdas. Intonasi yang menarik. Naik. Sesekali menukik tajam. Sampai hati dan jiwa tenggelam pada lubuk cerita hijrah Rasulullah yang amul hazn. Tahun dukacita.
Sesekali emosi naik. Sesekali air mata tumpah. Teringat retorika Kyai Miftah Farid yang kini Ketua MUI Kota Bandung dan Pembina MUI Jabar berumur 82 tahun dan genap dengan gelar akademis guru besar…tentang Umar Bin Khattab yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup sebagai ilustrasi masa jahiliyah Arab saat itu.

Juga pilihan hijraturrasul Nabi ke Kota Thoif dimana Rasulullah disambut batu dan potongan besi. Sehingga malaikat berdoa agar gunung Thoif ditimpakan kepada kaum kafirin tetapi Nabi berkata, “Antaqulu imma… antaqulu…inahsanannasa ahsanna, faindzholamu dzholamna.”
Jangan kamu menjadi pendendam. Karena dendam adalah musuh iman. Kalau kalian dendam berarti kalian tidak memiliki iman. Tapi kalau kalian memiliki iman, tidak mungkin kalian dendam. “Karena iman dan dendam tak mungkin bersatu dalam satu diri. Pribadi ini yang dituntut oleh semangat hijrah Rasulullah SAW,” urai Prof Dr KH Miftah Farid.
Saking mengidolakan Kyai Miftah, ayah memberikan nama sepupu dengan nama serupa: Miftah Farid!
Di kelas 1 SMP, teman sekelas yang kemudian menjadi senator Banten, Ahmad Subadry bertanya tentang ustadz favorit.
Saya menjawab KH Miftah Farid. Dia menjawab, “Kalau saya KH Zainuddin MZ. Ceramahnya serrrru…”
Saya tak kenal nama yang disebutkan. Pastilah penasaran. Ajib.
Ahmad Subadry anak Banten. Ia qori’ nasional tingkat remaja. Dalam perhelatan MTQ Nasional ke-16 Pontianak ia menggondol gelar juara.
Sebab dia getol mempromosikan Kyai Zainudin habis-habisan, saya pun penasaran. Berjanji dalam hati, akan mencari informasi tentang siapa sosok Zainuddin MZ. Suatu masa yang mencari info tak semudah sekarang tinggal Googling. Saya hanya mendapatnya lewat radio. Yakni Radio Lapaloma yang setia memutar kaset ceramah KH Zainuddin MZ yang memang cetttar membahana badai….
Tak lama berselang saya mendengar kabar ada safari dakwah KH Zainuddin MZ pertama kali ke Bumi khaTULIStiwa. Tak ayal. Solo wae bersepeda.
Menguber jadwal pertama di Mesjid Nursalim Pancasila. Ikut pula ke Almursalat Jeruju. Sampai malamnya di Gedung Arena Remaja. Dan setiap usai ceramah saya selalu minta tanda-tangan beliau di atas secarik kertas catatan resume ceramah.
Masya Allah betapa indahnya…sampai kepala saya diusap-usap KH Zainuddin MZ plus dapat doa.
Begitupula halnya dengan KH Miftah Farid. Kami uber-uber seusai ceramah. Dapat hapalan doa dari buku yang ditulisnya. Tentang syukur ala Nabi Musa dan Sulaiman. Juga doa mendapat rizki melimpah warisan kisah Nabiullah Isa Al-Masih putra Maryam.
Dari kedua tokoh di atas saya pelajari gaya pidatonya. Terutama saat mewakili sekolah SMP di lomba pidato dakwah.
Saya adopsi gaya melankolis-sistematis-ritmis Prof Dr KH Miftah Farid dan KH Zainuddin MZ. Alhasil di berbagai lomba pidato dakwah masa SMP dan SMA alhamdulilah wayukurillah watabarakallah keluar sebagai jawara. Langganan 123. Sebuah kenangan indah di bulan hijrah.
Terimakasih atas ilmunya Pak Miftah. Juga Alm KH Zainuddin MZ. Ilahinniyah alfatihah washallu ‘alan nabi. *
