teraju.id, Pontianak – Bismillah. Gemetar jemari menuliskan ini. Berat rasanya menulis dengan mata berkucuran air mata. Tapi berat di dada kalau tidak dituliskan. Semacam beban. Beban yang terus menggunung.

Bayangkan. Tiga tahun lalu. Sungguh lama berselang. Sebegitu jauh momentum untuk bisa dituliskan.

Saya membawa kendaraan didampingi Jibril–putra bungsu yang sehari-hari disapa Jibi–dan ponakan dari Sintang, Revan. Kami hendak ke rumah bibi mengantarkan sesuatu buah tangan menyambut lebaran. Bibi saya bibi satu-satunya, sebab ibu saya hanya dua bersaudara. Sebenarnya tiga, tetapi si sulung sudah tiada sebelum saya ada. Sebab meninggal melahirkan. Sebab tempo doeloe era 1960-an setiap gadis menikah amat remaja. 15-an, 16-an.

Sekeluar dari halaman rumah Makcua dengan meletakkan sekerat air kaleng, di antara speedbam, mobil saya berpapasan dengan mobil hitam Lexus. Saya berdebar.
Lampu Lexus menyala tenjak. Saya buka kaca jendela. Lexus juga.

Sosok yang saya kagumi lebih duluan menyapa. “Hendak ke Lampung. Saya Idul Fitri di tempat keluarga istri.” Senyum ramah. Kopiah hitam sedikit tertungging ke belakang sehingga jidat berlapang lebih luas dan jelas nampak bekas sujud kepada Allah SWT.

“Masya Allah. Saya barusan ke rumah Makcua seperti biasa. Mengantar buah sukacita …”

“Buka. Buka…” Suara pengguna baju stelan jas ala santri Gontor dan emblem ungu di dada berlambang kapal berlayar turun dari pintu. Ajudan yang menyupiri senyum manggut-manggut. Juga bergegas turun menyambut.

Saya tentu tak sopan terus di dalam. Berhamburan keluar. Juga Jibi dan Revan.
Rupanya pria muda berselisih satu dasawarsa dengan saya mengambil hampers. “Ini untuk Tok Yes,” ungkapnya seraya cipika-cipiki dan berujar saling mendoakan ya…subhanallah betapa indah perangainya.

Sesampai di rumah saya buka dengan sukacita. Isinya kemeja putih lengan panjang. “Saya dagang…” Suara Ustadz Lukman orang nomor satu di mesjid ramah pemuda, anak dan perempuan serta fisabilillah di dada begitu lantang. Baju kemeja yang saya pakai khutbah Jumat ketika ada kesempatan buah tangan Ayahman.

Ini hampers bukannya yang pertama. Jauh lebih awal, pria muda yang kini baru 40-an tahun mengaku just now landed from Japan. Di Negeri Sakura ia meresmikan gerai produk halal Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan networking.

Digamitnya saya seusai kedapatan salat di Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin itu ke toko dan gerai produk halal bernama Munzalan Mart. Apa-apa saja dijemput. Botol. Kotak. Sambil dijelaskan satu persatu in gredient maupun manfaatnya. Sampai produk herbal yang penuh khasiat. Sampai madu yang berkhasiat obat serta dikonsumsi berasa lezat.

Meteor Dakwah Bumi Khatulistiwa.2

Betapa air mata tidak tumpah. Sebegitu baiknya anak muda yang lebih suka disapa Ayahman karena bersimbolisasi pelindung keluarga. Padahal sempat beliau akrab disapa To’ Aji karena sahabatnya HM Nur Hasan akrab disapa To’ Ya.

“To’ Ya sudah punya cucu. Saye biar disapa Ayahman. Asal kate Ayah dan Man. Man manusia. Man Lukman.”

Jadi di Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin ada Dato’ dan ada Ayah. Dua figur penting dalam traktat adat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan kitabullah wasunnatur Rasulillah.

Momentum lain terindah ketika saya minta beliau baca doa di hari seminar nasional perlunya Indonesia memiliki Hari Pantun Nasional. Saya pikir doa adalah saripati ibadah. Harus dipilih orang yang ketika memimpin doa, maka pintu-pintu langit terbuka. Oleh Allah diijabah. Dikabulkan segenap permintaan.
Ndilalah, sosok yang digamit dengan schedule amit-amit mengiyakan. “Insya Allah bisa To’ Yes. Untuk To’ Yes apa yang ndak bise…” Masya Allah saya mengurut dada. Betapa lembut budi perangai. Padahal schedule beliau saya tahu more than Presiden RI. Apalagi menteri. Lewaaaaat.

Benar. Doa di Ruang Sidang Rektorat Universitas Tanjungpura tahun 2023 itu makbul.

Kini Indonesia memiliki Hari Pantun Nasional sesuai SK Menbud Dr Fadli Zon tertanggal 7 Juli 2025. SK No 167 yang very-very special. Bahkan ada bonus: Deklarasi Hari Pantun Dunia sebagai penggandeng letupan hasrat memajukan pantun ke level internasional sebab sudah WBTB Unesco 17 Desember 2020.

Hari Pantun Nasional di Riau. Hari Pantun Dunia di Rumah Budaya Kampung Caping, Kota Pontianak. Arasy wakaf HM Arif yang nyaris seabad. Tercatat.

*

Saya memang kategori suka mengganggu Ayahman yang supersibuk. Saya minta almukarram menjadi narasumber bersama Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah Dr Taufik Hidayat. Kali ini di Balai Petitih Kantor Gubernur. Dan beliau menyanggupi.

“Untuk To’ Yes ape yang tak bise…”

Saya trenyuh. Sebegitu baiknya Al Ustadz Lukmanul Hakim Bin Husni. Memang teruji dan terbukti turunan Husni. Hasan. Baik. Sangat baik…

Nama kedua ayah kami sama. Ayahman Husni. Saya dan To’ Ya Hasan.

“Tapi di jadwal bersamaan saya monitoring dari perjalanan menuju Jogja.”

Semakin menambah meronta isi dada. Bahwa sejauh itu Kyai Muda ini santunnya. Padahal siapalah saya…hanya lakon pers yang berkhidmat untuk pencerdasan ummat.

Hasilnya? Benar. Beliau tampil memuaskan publik yang memenuhi Balai Petitih. Walaupun hanya lewat aplikasi Zoom Meeting. Apalagi kalau face to face. Akan dapat menikmati seperti saya berpapasan antara Fortuner vs Lexus.

“Kalau Allah berkehendak apa yang tidak bisa. Kun fayakun.” QS Yasin.

Meteor Dakwah Bumi Khatulistiwa

Lama tak berinteraksi setelah 2023 saya kembali ke rumah Makcua. Menjelang Idul Fitri dua tahun silam.

Lagi-lagi berpapasan Isya di Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin di antara gema takbir. Saya dirangkul ajak ke rumah beliau yang masih kontrak.

Rumah sempit tak lebih dari 10 meter. Penuh dengan tumpukan karung beras. Dan memang Ayahman adalah pendapuk Gerakan Infak Beras dimana kini masuk ke 6000 pondok pesantren seluruh Indonesia. Masya Allah jenis ibadah apa ini yang Allah mudahkan menggurita? Asal muassalnya hanya QS Al Ma’uun. Ayat ayat tentang kemiskinan. Ayat ayat tentang yatim. Ayat ayat tentang siapa pendusta agama.

Namun takwil yang mutual rrrruar biasah. Warrrr biasssah…masuk ke pesantren pesantren kecil penghapal Qur’an dengan beras berkualitas No-1. Pulen. Masuk pula ke almamater beliau Gontor. Setara dengan Gontor seperti Albagjah dll.

Masya Allah. Inilah komet dakwah yang bikin air mata pecah. Meteor Masajidallah. Tak sanggup saya menuliskan betapa saat saya ke pedalaman Sambas. Jauh dari Danau Sebedang. Melongok Ponpes di sana tergeletak dengan susunan rapi berkarung-karung beras. “Alhamdulillah beras Munzalan sampai ke sini. Pasukan Amal Sholeh alias Paskas yang memikulnya.” Demikian Pimpinan Ponpes dengan gamis dan sorban putih berwibawa. Gerakan Infak Beras (GIB) sampai ke ujung gerung. Hulu gunung.

Di momentum jumpa di kediaman Ayahman itulah kesempatan mata saya lempar pandang ke segala penjuru. Sebab kami memang kenal dekat bak sahabat, tapi baru kali ini saya mendapat undangan emas, masuk ke ruang utama kediaman Sang Pujaan Dakwah Muda Nusantara.

Sofanya sederhana. Satu set saja. Cukup untuk.menamlung 6 tamu.
Lantai ubin dengan karpet biasa. Sempit tentu saja. Tanpa banyak koreografer seni. Hanya satu dua kalimah penyemangat terutama kiblat dan shahadat. Tak seperti tokoh kyai kebanyakan.

Udara dingin keluar dari bilik. Saya tahu ini kipas AC. Wajar di Pontianak hawa panas kerap melanda.

“Saya tak siapkan apa-apa lagi kecuali kafan,” urainya lembut dan tatapan mata sejuk. Janggutnya yang tipis beruntai bak lebah bergantung. Bikin manis.

Ayahman rupanya berwasiat ke anak-anaknya yang seusia Jibi. Bahwa siapa saja boleh pakai kendaraan wakaf seperti Lexus, Robicon, Velfire dan Alphard. Satu syaratnya: dakwah.

Kalau tidak? Jadinprogesional kerja biasa? Nehi. Nol. Tidak!

Saya berdehem. Jauuuuh. Jauh sudah perjalanan Ruhani anak muda Serdam satu ini.
Unik. Kami sekampung Sungai Raya Dalam (Serdam) memang. Dimana ayah sama ayah berteman. Kakek sama kakek bersahabat, tapi baru kali ini macam kumpul keluarga. Bicara dari hati ke hati. Syarat pesan.

Lagi lagi Ayahman membagi hampers. Isinya macam macam makanan. Lezat lezat.
Super duper istimewanya saat salaman pamit pulang, anak saya Jibi dan ponakan Revan kecipratan uang cash. Saya pun disawerin. Rrrrrrruar biasah. Warrr biasah. Sebab biasanya kita yang jabanin Kyai, ini malah Kyai yang bersedekah. Suri teladan yang menampar alam sadar dan bawah sadar saya selaku jurnalis yang berusaha menulis dakwah.

Mana sedekahmu. Mana amal solehmu? Mana akhlak muliamu?

*

Terkini saat Harpandu dan Hartunas di Pendopo Gubernur. Tetiba beliau nongol di jeda acara pembukaan bersama Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan. Tak ayal Ayahman diburu media. Diwawancarai. Dan buru-buru terbang lagi ke 500-an mesjid Munzalan di 32 Provinsi Indonesia. Supervisi.

“Oh ada Ayahman?”

“To’ Yes yang undang, ape yang tadak bise.”

Saya terus terang. Ini pasti ada misi khusus. Apa gerangan?

Ini rahasianya: ‘Saye dakwah dari mesjid ke mesjid. Jamaahnya orang yang memang mau takwa, ibadah dan taubat. Tapi To’ Yes dakwah di ladang terbuka. Heterogen. Bahasa saya To’ Yes dakwah di zona ketiga.”

Zona 1 Masajidallah. Zona 2 para da’i bilateral sosial. Zona 3 wilayah plural.
Saat itu tak hanya insan pers yang merudu Ayahman. Tapi juga Konsul Malaysia di Kota Pontianak. Encik Azizul Zekri. “Ustadz Lukman nih idola saya.” Klik. Potret bersama….

Lebih terkini saat saya mencolek Ayahman di pukul 03.00. Dinihari.

Saya sapa apakah bisa saya bawa Bu Dwi Hadiningdyah ke Munzalan Tower pada 19 Januari di waktu Ashar?

Lama tak ada jawaban. Tapi centang dua. Biru. Tanda pesan WA telah dibaca.
Teks pesan yang sama saya teruskan ke To’ Ya. Abang kandung saya. Sohib Ayahman membina Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin. Keduanya saya tahu pelaksana erat tahajjud. So? Jam 03.00 biasa sudah tirakat. Ingin dialog dengan Tuhan saat senyap. Saat gelap.

“Ayahman sedang di Pidie. Aceh.” To’ Ya balas WA saya.

Oooh begitu, pikir saya. Ya sudah. Belum rizkinya. Schedule jalan terus dengan Plan B bergerilya. Plan alternatif.

Ndilalah Allah punya kuasa kun fayakun. Hanya berselang 3 menit usai To’ Ya kasih kabar Ayahman sedang dakwah ke Pidie Aceh, figur muda yang terus menebar pesona dakwahnya se-Nusantara dan mulai ke berbagai pelosok negara manca membalas lugas.

“Insya Allah pada saat Bu Dwi Hadiningdyah ke Munzalan saya sudah berada di tempat.” Takbirrrr…

Belakangan saya baru tahu kalau Ayahman memangkas schedule keliling Sumatera demi menyambut tamu khusus yang mendeliveri 3000 triliun dana Cash Wakaf Link Sukuk. Kisahnya? Simak perfecto.

Ada laporan vidio 5 edisi dari pertemuan kami sebagai bentuk lelahku lillah seraya berbagi Rahmat Allah. Nikmat dapat untaian kata-kata dan study tour ke Munzalan Tower.

Serial pertemuan yang sangat indah. Yang saya renung-renung tak akan terulang seperti ini dan begini lagi walaupun diulang-ulang….(Maka simak nuriskandarchannel. YouTube. Iya).

*

Asharlah kami di Mesjid Kapal Munzalan Serdam sesuai pertemuan di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah serta Majelis Adat Budaya Melayu (DPP MABM Kalimantan Barat).

Saya merasa cukup lama tak mampir ke Munzalan. Karpetnya baru. Tebal. Mirip gambaran Kakbah. Keemasan di bagian atas.

Sebaliknya Ibu Dwi sudah merasa lelah. Sejak kemarin tiba di Bumi Khatulistiwa jadwalnya padat. Sempit waktu buat istirahat bagi nenek dua cucu yang berkhidmat lumut di Departemen Keuangan RI ini.

Ia berpesan ke ajudan agar jumpa Ustadz sekejab saja. Tubuh kurang sehat. Hendak fokus rehat agar seminar Green Waqf di Rektorat Universitas Tanjungpura pas lagi Jumat sukses dan sehat.

Rasional sekali prioritasnya. Namun ternyata bukannya singkat. Baru kali ini saya bawa tamu bersua Ayahman bubarannya setelah lima jam. Nyaris 6 jam!
Alhamdulillah Bu Dwi Hadiningdyah sehat. Segar. Makin bugar. Jam 21.15 baru bubar sejak Ashar.
Masya Allah Kun fayakun itu nyata.

*

Betapa tidak. Saya meleleh air mata. Tak sanggup berkata-kata.
Tanah yang dulunya ada Durian Kenauk tempat saya dan To’ Ya bermain masa kecil tahun 1980-an kini berubah kota besar.

Dulu era kanak-kanak rajin menelusuri kebat dedaunan Langsat tua bak karpet menuju Kenauk yang dua pelukan orang dewasa masih hidup di Tembang Angan.
Si raja duri itu pulen. Uenak tenan. “Keci’ bigi’ tebal isi’.” Abangku menyela di awal pertemuan pada ruang pimpinan.

Harum. Manis. Berlemak. Perfecto.

Di saat leleh air mata menatap gemerlap lampu Munzalan Tower 5 lantai menjulang Serdam, hidung mengendus bau si Raja Buah yang gugur dari Kenauk.

Pilar dakwah Munzalan dengan mudah mendatangkan Durian Tembaga. Kami hajarrrr. Juga kiriman empek-empek. Kami sikat. Selanjutnya buat dinner bada Isya ada nasi goreng Abu yang dimasak oleh Syech Abu sendiri.

Sebegitunya wasilah wakaf dan Masajidallah. Di bawah gebrakan Sang Meteor Dakwah gang sempit Imaduddin menjadi seluas Nusantara. Bergema indah laksana melihat bintang gemintang ditingkahi hujan meteorit. Atau lintasan komet.
Munzalan Tower hiper produktif. Almaidah. Hidangan indah. Dunia wal akhirah.
Benarlah sudah. Ini mesjid anak muda. Mesjid Munzalan Mubarakan. Mesjid jalan jalan. Mesjid makan makan.

Ia berkesan. Tak akan terlupakan.

Saya tak mau pulang. Lebih dari Bu Dwi Hadiningdyah saya baru pulang lewat pukul 22.00 WIB. Menikmati Dejavu.

LAA Haula Quwwata Illa billaah….

Ini bukan cerita. Tapi fakta. Labirin kehendak YMK.

Foto foto saat bertandang ke Munzalan Tower bersama Dr Dwi Hadiningdyah Direktur Finansial Sosial Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah RI serta bersama Ayahman di Harpandu-Hartunas 16 Desember 2025 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.