Prof. Chairil Effendy melaporkan bahwa peringatan tahun ini adalah yang ketiga kalinya. Ia mengenang kembali inisiasi awal pada Desember 2020 yang menyelenggarakan festival pantun nonstop untuk menyambut sidang UNESCO di Paris.
“Pengusulan pantun sebagai WBTB ke UNESCO dimotori oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia juga oleh Pemerintah Malaysia. Setelah mendapat predikat WBTB milik Bersama Indonesia dan Malaysia, para seniman pantun Kalimantan Barat, meminta kepada pemerintah Republik Indonesia agar menetapkan tanggal 17 Desember sebagai hari pantun,” jelasnya.
Prof. Chairil menegaskan bahwa peringatan Hari Pantun, baik di tingkat nasional maupun dunia, wajib terus diselenggarakan untuk memastikan UNESCO terus mempertahankan status Pantun sebagai WBTB. Selain itu, ia juga menyoroti sifat adaptif pantun.
“Sekarang di era virtual, pantun terlihat semakin hidup, dinamis, dan adaptif. Dahulu pantun dilantunkan di dusun-dusun, sekarang pantun dilantunkan di istana, kantor kementerian, apartemen mewah…”
Ia menutup laporan dengan menegaskan peran sentral pantun dalam identitas budaya Melayu: “Kalau tidak karena tenun, tidak cual menjadi baju. Kalau tidak karena pantun, tidak terkenal bangsa Melayu.”
Sambutan dari pemerintah pusat disampaikan oleh Rosi Wediawati, dari Direktorat Ekonomi Syariah dan BUMN Kementerian PPN/Bappenas. Ia menyoroti tema acara, “Pantun Bring Peace to the World,” yang mengingatkan bahwa kedamaian tersimpan dalam kearifan budaya yang sederhana.

Perayaan Hari Pantun Dunia di Pontianak ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, tetapi menjadi penggerak nyata bagi generasi muda untuk terus berpantun, memastikan warisan lisan yang agung ini dapat terus menjadi cermin budi dan kearifan bangsa.
