Sebelum kejadian buruk seperti itu terjadi, harus ada pihak di negeri kita yang dengan sungguh-sungguh berupaya mencegahnya. Perlu banyak orang mengingatkan bahwa kehancuran bangsa bisa saja terjadi bila kita tak berhati-hati. Perlu diingatkan, tak ada satupun pemenang dalam pertikaian. Apalagi bila telah ratusan dan ribuan korban berjatuhan. Semua akan menanggung rasa pilu dan kepedihan.

Entah mengapa pada saat ini, setiap kali saya menyaksikan ratusan atau apalagi ribuan orang berkerumun meneriakkan amarah, jantung jadi berdebar-debar. Apalagi ketika kerumunan itu dipandu oleh orang yang mahir mengolah kata-kata keras, bersuara lantang memekakkan telinga, membakar emosi. Saya selalu terbayang kerusuhan yang memakan korban, sewaktu-waktu akan pecah.

Banyak dari kita tentu memahami psikologi massa (kerumunan). Dari beragam jenis kerumunan, ada satu jenis kerumunan yang sangat berpotensi untuk meledak menjadi kerusuhan. Kerumunan itu adalah kerumunan marah yang teragitasi atau diagitasi. Dalam kerumunan semacam ini, tiap orang yang ikut berkumpul sangat mudah kehilangan kontrol diri? Ibaratnya, satu orang dalam kerumunan menyambit batu, yang lain dengan mudah akan ikut-ikutan mengikutinya. Satu orang menerobos pagar berduri, ratusan orang tanpa banyak fikir akan mengikutinya, tanpa peduli terhadap keselamatan diri. Satu orang memberi komando “serbu”, yang lain dengan spontan akan segera maju menyerang melakukan apa saja dan kepada siapa saja, tak pandang bulu. Itulah kerentanan tiap kerumunan marah. Inilah psikologi massa yang memang bercirikan sifat “primitif”, ibarat hewan yang tak berakal membabi buta, menyerang siapa saja yang dipersepsikan sebagai musuhnya.